Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Correlation Between Lead Levels and Percentage of Basophilic Stippling in the Blood of Silver Men Azzahra, Ratu; Dhanti, Kurnia Ritma; Djalil, Asmiyenti Djaliasrin; Sulistiyowati, Retno
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 7 No 5 (2025): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v7i5.6818

Abstract

The phenomenon of silver men has become increasingly prevalent in recent years. The direct application of metallic paint to the body and the nature of their activities are major factors contributing to potential lead expsure. Elevated blood lead levels can disrupt hematopoiesis, leading to various blood abnormalities, including the presence of basophilic stippling. Basophilic stippling is a distinctive marker indicative of heavy metal toxicity, particularly lead poisoning. This study aims to examine the correlation between blood lead levels and the presence of basophilic stippling in the blood of silver men in Purbalingga Regency and Purwokerto Sub-district. This study employed an observational analytical design with a cross-sectional approach. The research sample consisted of blood specimens from 14 silver men, selected using accidental sampling. Blood samples (3 mL) were collected from the respondents arms into EDTA tubes. Blood lead levels were analyzed using Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS), while basophilic stippling was examined through Giemsa-stained blood smears observed under a microscope. The collected data were analyzed using Pearsons correlation test. The Pearson correlation test yielded a p-value of 0.045 (p 0.05) and a correlation coefficient of 0.542, indicating a strong positive correlation. There is a strong correlation between blood lead levels andthe presence of basophilic stippling in silver men. An increase in blood lead levels is accompanied by the occurrence of basophilic stippling, highlighting the potential toxic effects of lead exposure in this population.
Transformasi Interaksi Sosial Keagamaan Melalui Teknologi Artificial Intelligence (AI) Penggunaan ChatGPT Pada Mahasiswa Prodi Sosiologi Agama Azzahra, Ratu; Gaffar, Abdul
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8435

Abstract

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), khususnya ChatGPT, telah membawa perubahan dalam cara mahasiswa memperoleh dan memaknai pengetahuan keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana transformasi keagamaan serta perubahan interaksi sosial keagamaan mahasiswa Prodi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi melalui penggunaan ChatGPT. Fokus penelitian ini tidak hanya melihat pemanfaatan teknologi sebagai alat bantu belajar, tetapi juga sebagai bentuk interaksi sosial baru antara manusia dan teknologi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap mahasiswa dari berbagai angkatan serta satu orang dosen Prodi Sosiologi Agama. Data dianalisis dengan cara reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta diperkuat dengan triangulasi sumber untuk menjaga keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ChatGPT telah menggeser pola pencarian pengetahuan keagamaan mahasiswa. Jika sebelumnya mahasiswa lebih banyak bertanya kepada dosen, ustadz, atau forum kajian, kini ChatGPT menjadi alternatif utama karena dinilai praktis, cepat, dan mudah diakses. Transformasi ini juga memengaruhi interaksi sosial keagamaan, di mana mahasiswa tidak hanya berinteraksi dengan manusia, tetapi juga membangun relasi dialogis dengan teknologi. Namun demikian, penggunaan ChatGPT juga memiliki keterbatasan, terutama terkait validitas sumber dan kedalaman pemahaman keilmuan. Temuan ini menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara agen (mahasiswa) dan struktur (teknologi AI), sebagaimana dijelaskan dalam teori strukturasi Anthony Giddens, yang membentuk praktik sosial keagamaan baru di era digital.