Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Ilmu Badi’ Menurut Ibnu Al-Mu’taz Husnaini Muhammad Makhluf; Ahmad Dardir; Raswan; Achmad Fudhaili
Jurnal Teologi Islam Vol. 1 No. 2 (2025): NOVEMBER (in progress)
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/b0jdg792

Abstract

Ilmu Badi’ merupakan salah satu cabang dari ilmu balaghah yang fokus pada aspek keindahan lafaz dan makna dalam bahasa Arab. Secara etimologis, kata badi’ berarti mencipta atau memulai, dan dalam konteks balaghah, memperindah ekspresi lisan maupun tulisan. Selain memperkaya khazanah sastra Arab, ilmu ini juga berperan penting dalam mengungkap aspek kemukjizatan Al-Qur’an dari sisi bahasa dan susunannya. Istilah badi’ sendiri telah dikenal sejak masa jahiliyyah, namun baru dikodifikasi sebagai disiplin ilmu secara sistematis oleh Ibnu Al-Mu’taz melalui karya monumentalnya Kitab al-Badi’. Dalam kitab tersebut, ia menyusun metodologi, pembagian, dan karakteristik ragam keindahan yang disebut sebagai unsur-unsur Badi’. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam konsep ilmu Badi’ menurut Ibnu Al-Mu’taz, Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research), dengan pendekatan deskriptif-analitis terhadap sumber-sumber primer dan sekunder. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman komprehensif mengenai ilmu Badi’ dan kontribusi Ibnu Al-Mu’taz dalam pengembangannya.
Ilmu Nahwu dan Dalalah Bahasa Arab di Zaman Klasik Husnaini Muhammad Makhluf; Ubaid Ridlo; Alek
Jurnal Teologi Islam Vol. 1 No. 2 (2025): NOVEMBER (in progress)
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/evmhfp08

Abstract

Ilmu Nahwu dan Al-Dalalah berperan penting dalam dunia keilmuan bahasa Arab klasik. Ilmu Nahwu, berfungsi untuk menjaga kefasihan dan kemurnian bahasa, terutama dalam membaca Al-Qur’an. Seiring waktu, Nahwu berkembang pesat lewat kontribusi para ulama dari berbagai mazhab seperti Basrah dan Kufah yang memiliki cara dan pendekatan yang berbeda-beda dalam menyusun kaidah bahasa. Sedangkan Ilmu Al-Dalalah memiliki peran dalam memahami makna agar dapat dipahami dengan benar. Ilmu Nahwu dan Al-Dalalah tidak hanya berperan dalam pelestarian bahasa Arab, tetapi juga menjadi pilar dalam memahami teks-teks klasik secara akurat dan ilmiah
Kebijakan Pendidikan Nasional dan Standar Kemampuan Berbahasa Asing Husnaini Muhammad Makhluf; Mohammad Mahdi Ibnu Hamid; Ubaid Ridho; Maswan
Jurnal Ilmiah Literasi Indonesia Vol. 1 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/k3rpb617

Abstract

Penelitian ini untuk melihat Kebijakan Pendidikan Nasional dan Standar Kemampuan Berbahasa Asing. Metode penelitian yang digunakan dalam makalah ini adalah pendekatan kualitatif-deskriptif, yang bertujuan untuk memahami dan menggambarkan fenomena yang berkaitan dengan kebijakan pendidikan nasional dan standar kemampuan berbahasa asing, khususnya Bahasa Arab. Pendekatan ini dipilih karena fokus utama penelitian adalah untuk menganalisis konsep-konsep dasar yang terkandung dalam kebijakan pendidikan dan implikasinya terhadap kurikulum Bahasa Arab di Indonesia. Kebijakan pendidikan nasional bertujuan mengatur penyelenggaraan pendidikan yang merata, bermutu, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Landasan hukum seperti UUD 1945, UU Sisdiknas 2003, PP 57/2021, serta berbagai regulasi Kementerian Agama mempertegas peran bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing—terutama Bahasa Inggris dan Bahasa Arab—dalam sistem pendidikan. Bahasa asing memiliki kedudukan strategis untuk mobilitas global dan pemahaman keagamaan, khususnya Bahasa Arab di lingkungan madrasah. Standar kemampuan berbahasa asing mengacu pada kerangka internasional seperti CEFR dan ACTFL yang menekankan empat keterampilan utama: mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Indonesia mengadaptasi standar tersebut dalam kurikulum nasional melalui SKL, KMA 183/2019, dan berbagai kebijakan pembelajaran bahasa Arab yang mencakup kompetensi linguistik, komunikatif, dan budaya. Penilaian kemampuan bahasa diarahkan pada penilaian autentik yang menilai aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, serta performa berbahasa nyata melalui portofolio, observasi, dan penilaian diri. Dalam pengembangan kurikulum bahasa Arab, kebijakan menuntut tujuan pembelajaran yang komunikatif, materi yang relevan, metode yang sesuai, kegiatan belajar yang bermakna, media yang efektif, dan penilaian berkelanjutan. Secara keseluruhan, kebijakan nasional dan standar kemampuan bahasa mengarahkan pembelajaran bahasa Arab agar komunikatif, kontekstual, dan mendukung penguatan karakter serta kompetensi global.