Wawan Saputro
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MEMBUMIKAN NILAI – NILAI AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH AN-NAHDLIYAH DI ERA GENERASI Z (GEN Z) Wawan Saputro; Ahmad Rizal Muzakki; Nurul Mubin
MERDEKA : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 6 (2025): Agustus
Publisher : PT PUBLIKASI INSPIRASI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/merdeka.v2i6.5426

Abstract

Generasi Z (Gen Z), sebagai digital native yang tumbuh di tengah arus informasi yang masif, menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks, mulai dari tekanan pada kesehatan mental akibat perbandingan sosial, polarisasi ideologi yang diperkuat oleh algoritma media sosial, hingga krisis identitas di persimpangan budaya global dan lokal. Di tengah kondisi tersebut, ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja), sebagai sebuah metodologi berpikir (manhaj al-fikr) yang mengedepankan prinsip-prinsip moderasi, keseimbangan, dan toleransi, menawarkan fondasi nilai yang fundamental dan terbukti relevan untuk dijadikan pegangan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam relevansi dan merumuskan strategi implementasi nilai-nilai luhur Aswaja dalam konteks kehidupan Gen Z yang tidak terpisahkan dari dunia digital. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif melalui pendekatan kajian pustaka (literature review), artikel ini mengkaji bagaimana konsep-konsep inti Aswaja seperti Tawassuth (moderat) dapat berfungsi sebagai filter kognitif terhadap informasi yang ekstrem, Tasamuh (toleran) sebagai landasan etika dalam berinteraksi di ruang virtual yang beragam, Tawazun (seimbang) sebagai kunci mencapai kesejahteraan digital (digital wellbeing), dan I'tidal (adil) sebagai kompas dalam aktivisme online. Hasil kajian menunjukkan bahwa internalisasi nilai-nilai ini dapat menjadi jawaban efektif atas berbagai tantangan yang dihadapi Gen Z, tidak hanya untuk menangkal hoaks dan ekstremisme, tetapi juga untuk membangun resiliensi mental, kecerdasan emosional, serta memperkuat karakter kebangsaan yang inklusif. Oleh karena itu, artikel ini merekomendasikan adanya sebuah gerakan kolektif untuk "membumikan" ajaran Aswaja, mentransformasikannya dari konsep normatif menjadi aksi nyata melalui pendekatan yang kreatif dan relevan dengan ekosistem digital Gen Z, seperti melalui produksi konten media sosial yang inspiratif, pembentukan komunitas online yang positif, dan integrasi yang cerdas dalam pendidikan modern.
EFEKTIVITAS KOMUNIKASI DUA ARAH DALAM MODEL TEAM TEACHING UNTUK MENGATASI KESULITAN BELAJAR SISWA PADA MATERI SHOLAT JENAZAH Noor Aziz; Wawan Saputro; Nur lu'lu'ul Maknunah; Fita Ulinni'ma; Zahid Akhmad Surya; Kuni Ustuviana; Nova Dwi Riyani; Ishmatun Nabila; Imas Amanatu Zahro; Ahmad Rizal Muzakki; Rindiana; Denisa Amni Nabilah Amin; Ria Tri hartini
MERDEKA : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 3 No. 3 (2026): Februari
Publisher : PT PUBLIKASI INSPIRASI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/merdeka.v3i3.7105

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi komunikasi dua arah dalam model team teaching pada mata pelajaran Fiqih Ibadah materi Sholat Jenazah. Penelitian ini mengidentifikasi bagaimana sinergi antara dua pengajar dapat mengatasi kesulitan belajar yang disebabkan oleh kondisi kelas yang gaduh saat simulasi praktik. Praktik microteaching ini melibatkan dua pengajar dengan pembagian peran yang spesifik: guru utama menyampaikan konsep teoretis, sementara guru kedua bertindak sebagai instruktur praktik. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi dan refleksi kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi dua arah yang intensif antara kedua pengajar dan siswa secara efektif mampu meredam kegaduhan kelas serta mempercepat pemahaman siswa mengenai tata cara sholat jenazah. Sinergi ini membuktikan bahwa model team teaching mampu menutupi celah pengawasan yang sering terjadi pada pengaturan guru tunggal, terutama pada materi yang membutuhkan demonstrasi fisik.