Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Poetry, Prose, Drama: Various Expressions in Literature Komala, Imas; Queena Hadi Putri, Nina
Advances In Social Humanities Research Vol. 3 No. 2 (2025): Advances In Social Humanities Research
Publisher : Sahabat Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/adv.v3i2.326

Abstract

Literature serves as a powerful medium for expressing human emotions, ideas, and experiences, with poetry, prose, and drama being the three primary genres. These genres are distinct in their characteristics, narrative structures, and techniques used to convey their messages. The purpose of this study is to explore the diverse expressions within poetry, prose, and drama, and to understand how they reflect and engage with the complexities of human life and society. A descriptive qualitative research method was applied, involving literature review, data collection from classical and modern literary works, and secondary sources such as theory books and journals. The results show that each genre uniquely portrays emotions, social issues, and human conflicts—poetry using symbolic language and rhythm, prose offering detailed narrative descriptions, and drama expressing tension through dialogue and performance. This study concludes that understanding the expressive qualities of these literary genres enhances our comprehension of human life, culture, and societal values, emphasizing their ongoing relevance in addressing contemporary issues.
Evaluasi Efektivitas Penggunaan Teknologi Pembelajaran Sastra untuk Meningkatkan Kemampuan Analisis Literatur Digital Siswa SMK Farawita, Ria; Dina Ayu Rachma Ilmiana; Akhfida Husda, Rizky; Queena Hadi Putri, Nina
Jurnal Tinta Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Tinta
Publisher : Universitas Al-Qolam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35897/jurnaltinta.v7i2.1919

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan teknologi dalam pembelajaran sastra untuk meningkatkan kemampuan analisis literatur digital. Fokusnya adalah membandingkan karakterisasi dan plot dalam Hikayat Si Miskin dan cerpen Tarian Pena. Metode yang digunakan dalam pembelajaran mencakup kuis online, refleksi individu berbasis platform digital, serta model pembelajaran kolaboratif Numbered Heads Together. Subjek penelitian adalah siswa kelas X SMK yang dilibatkan dalam pengerjaan kuis online berbasis platform digital. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan teknologi dapat memperdalam pemahaman siswa terhadap karakterisasi dan alur cerita, serta mendorong partisipasi aktif dan refleksi kritis dalam proses belajar. Penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi teknologi dalam pembelajaran sastra sebagai bentuk adaptasi terhadap ekosistem pendidikan digital.
Analisis mantra suku Kutai Muara Kedang Desa Sungai Mariam kajian semiotik Ulwatunnisa, Marwah; Dwi Sulistyowati, Endang; Lidya, Salma; Setyawati, Meita; Queena Hadi Putri, Nina
Jurnal Genre (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya) Vol. 7 No. 2 (2025): JURNAL GENRE: (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/jg.v7i2.12700

Abstract

Mantra masih dipercaya hingga saat ini, khususnya di Kalimantan Timur. Salah satu keberadaan penutur mantra dan mantranya, dapat ditemukan pada masyarakat suku Kutai, di Muara Kedang, Desa Sungai Mariam, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Dalam konteks mantra, simbol-simbol yang digunakan tidak hanya berfungsi sebagai alat retorika atau estetika linguistik, tetapi juga mengandung makna kultural dan spiritual yang mendalam. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini yaitu analisis mantra suku Kutai menggunakan pendekatan semiotik Roland Barthes; makna denotasi, konotasi dan mitos, serta fungsi mantra. Metode penelitian yang digunakan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yaitu wawancara serta studi pustaka. Teknik analisis data berupa kondensasi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, hingga verifikasi data. Hasil temuan penelitian yaitu ada beberapa jenis mantra; Mantra belas kasihan, Mantra Pagar Diri, Mantra Grecek, Mantra Ndik Benapsu, Mantra Wisa, Mantra Penghilang Kembung Anak, dan Mantra Penyengat. Empat fungsi mantra yang ditemukan yaitu sebagai proyeksi/menggambarkan kepercayaan masyarakat, menjadi alat pengesah pranata serta lembaga kebudayaan, sarana pendidikan, dan alat untuk menegakkan norma serta mengendalikan perilaku anggota masyarakat. Kepercayaan terhadap fungsi mantra dibangun secara kuat melalui bahasa simbolik dan penuh makna emosional.
Nilai Budaya Suku Paser Dalam Cerita Rakyat Pinangan Andi Mappanyuki dan Peperangan di Sadurengas Khadijah, Desy Sitti; Queena Hadi Putri, Nina; Rokhmansyah , Alfian
Jurnal Pendidikan : Riset dan Konseptual Vol 10 No 1 (2026): Volume 10, Nomor 1 Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/riset_konseptual.v10i1.1418

Abstract

Penelitian ini menggali dua cerita rakyat dari Kalimantan Timur, yakni Pinangan Andi Mappanyuki dan Peperangan di Sadurengas, dengan pendekatan antropologi sastra berdasarkan tujuh aspek yaitu peralatan hidup manusia, mata pencaharian hidup, sistem kemasyarakatan, sistem kebahasaan, sistem pengetahuan dan sistem religi, dan kesenian. Dari hasil analisis, dua cerita tersebut bukan hanya sekedar cerita rakyat Paser namun mencerminkan kehidupan budaya suku Paser di wilayah Paser serta cara bugis penekki memberikan warna dalam cerita rakyat suku paser. Nilai budaya yang terdapat dalam cerita tersebut yaitu alat kehidupan, mulai dari penggunaan alat musik, alat transportasi, senjata untuk berperang, dan barang sehari-hari sebagai simbol identitas dan alat praktis. Pada aspek mata pencaharian, terdapat perdagangan dan habib dalam cerita dimana habib untuk menyembuhkan seseorang sebagai pengganti dokter. Sistem masyarakat yang menunjukkan hierarki sosial dengan raja dan pangeran, dan peran gender yang dominan laki-laki, serta gotong royong. Bahasa penuh kata sapaan formal seperti Tuanku, Baginda. terdapat gambaran itu pengetahuan mengenai strategi perang, agama yang berkaitan dengan leluhur menjadikan pandangan yang dianut oleh masyarakat setempat. Selain itu terdapat kesenian yaitu alat musik dan pakaian adat. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui buku cerita rakyat paser berau dan menganalisis melalui teks cerita tersebut.
Makna Simbolik dalam Posambua Pesta Adat Ma’ata’a, Suku Buton, Kecamatan Sorawolio, Sulawesi Tenggara Safaria, Nur; Queena Hadi Putri, Nina
JURNAL KONFIKS Vol 13 No 1 (2026): KONFIKS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/2svgag40

Abstract

Tradisi Posambua adalah puncak dari rangkaian Pesta Adat Ma’ata’a yang dilakukan oleh Suku Buton di Kecamatan Sorawolio, Sulawesi Tenggara. Tradisi ini telah diwariskan turun-temurun sejak zaman Kesultanan Buton dan bertujuan untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, serta keberkahan bagi masyarakat melalui ritual yang kaya akan nilai religius dan sosial. Penelitian ini ingin mengungkap makna simbolik di balik setiap prosesi Posambua. Metode yang dipakai adalah pendekatan kualitatif dengan menggunakan teknik etnografi, yang dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan pencatatan sistematis. Data penelitian mencakup doa dan mantra serta rangkaian acara Ma’ata’a sampai ke inti acara Posambua, yang menunjukkan makna simbolik bagi masyarakat Suku Buton. Sumber data diambil dari pelaksanaan upacara adat suku Buton di Kecamatan Sorawolio, Sulawesi Tenggara. Dalam penelitian ini, analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang bersifat interaktif, mencakup reduksi data, penyajian data, dan tahap penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa setiap rangkaian acara Ma’ata’a mengandung makna simbolik berupa doa atau mantra, terutama pada inti upacara Posambua. Simbol-simbol dalam prosesi Ma’ata’a, seperti Pogau-gaua, Tooa, Pisampea, Bhongkaano Bhaghata, dan Bululiano Galampa melambangkan penghormatan kepada leluhur, permohonan perlindungan, dan harmoni antara manusia, alam, serta Sang Pencipta. Tradisi ini juga berfungsi mempererat hubungan antarwarga dan memperkuat nilai kebersamaan masyarakat Suku Buton. Kata Kunci: Posambua, Ma’ata’a, makna simbolik, tradisi Buton, Sorawolio.
Konflik Batin Konflik Batin Tokoh Utama Dalam Film Kabut Berduri Karya Edwin Manukallo, Mesi Nani; Queena Hadi Putri, Nina
KREDO : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra Vol. 9 No. 2 (2026): JURNAL KREDO VOL 9 NO 2 TAHUN 2026
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/kredo.v9i2.16794

Abstract

Film merupakan bagian dari karya sastra yang mendapat perhatian di era modern ini karena menampilkan konflik yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah konflik batin. Konflik batin adalah gejolak dalam hati dan pikiran seseorang yang dapat memengaruhi perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan bentuk-bentuk konflik batin tokoh utama dan (2) mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya konflik batin dalam film Kabut Berduri karya Edwin. Analisis konflik batin dilakukan dengan menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sumber data berasal dari film Kabut Berduri yang akan dirilis pada tahun 2024, sedangkan data berupa dialog, tindakan, dan peristiwa yang menunjukkan konflik batin tokoh utama. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan perekaman berulang dengan menonton film secara saksama. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh utama Sanja mengalami konflik batin yang tercermin dalam bentuk kecemasan, kecurigaan, keraguan, dan tekanan emosional. Berdasarkan perspektif psikoanalitik Sigmund Freud, konflik batin tercermin dalam struktur kepribadian id, ego, dan superego dengan temuan 4 data id, 3 data ego, dan 3 data superego. Faktor-faktor yang menyebabkan konflik batin meliputi (1) pengalaman masa lalu dan stigma sosial, (2) tekanan kekuasaan dan kesenjangan sosial.