Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Polisi Tidur Piezoelektrik Sebagai Pembangkit Listrik dengan Memanfaatkan Energi Mekanik Kendaraan Bermotor Elfi Yulia; Eka Permana Putra; Estiyanti Ekawati; Nugraha Nugraha
Jurnal Otomasi Kontrol dan Instrumentasi Vol 8 No 1 (2016): Jurnal Otomasi Kontrol dan Instrumentasi
Publisher : Pusat Teknologi Instrumentasi dan Otomasi (PTIO) - Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/joki.2016.8.1.9

Abstract

Kebutuhan energi listrik di Indonesia tahun 2014 mencapai 205 TWh dan diprediksi mengalami peningkatan sebesar 8,3% setiap tahunnya, hal ini dapat menyebabkan Indonesia menjadi negara pengimpor energi di tahun 2033. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan melakukan pengembangan energi alternatif, salah satunya memanfaatkan  waste vibration energy dari gerakan kendaraan bermotor menggunakan polisi tidur piezoelektrik. Polisi tidur piezoelektrik yang dirancang pada penelitian terdiri atas sistem mekanik polisi tidur yang berfungsi menerima masukan dari tekanan kendaraan bermotor, sistem kantilever piezoelektrik sebagai komponen penghasil energi listrik dan sistem harvesting energy sebagai pemanen energi dari material piezoelektrik. Satu modul sistem terdiri dari rangkaian paralel piezoelektrik yang dihubungkan dengan buck konverter MB39C811. Sistem yang paling maksimal menghasilkan energi  adalah rangkaian lima modul secara paralel. Polisi tidur piezoelektrik mampu menghasilkan daya listrik dengan masukan 60 kali lindasan kendaran bermotor  sebesar 2.166mWh dengan efisiensi 2.87 % dibandingkan dengan masukan manual.Kata kunci : Piezoelektrik, polisi tidur piezoelektrik, kantilever piezoelektrik,  harvesting energy.
Studi Pengolahan Air Limbah Batik pada Skala Industri Rumah Tangga dan Usaha Kecil Menengah di Cirebon, Indonesia Diyah, Nazuwatussya’; Ratuannisa, Tyar; Ekawati, Estiyanti; Yulia, Elfi; Purwasasmita, Bambang Sunendar; Nugraha, Ashari Budi
Dampak Vol 20, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/dampak.20.1.8-15.2023

Abstract

Since the admission of batik as a world cultural heritage by the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization, the public interest in batik and the batik industry has been increasing. However, the problem arises when the development of the batik industry is not accompanied by batik wastewater treatment that fits the wastewater quality standard. Hence it causes environmental pollution, especially for the aquatic body. This paper discusses the conditions and awareness for batik wastewater treatment in the batik industry on household and small-to-medium scales in Plered District, Cirebon, Indonesia. It examines the pollutant load of batik wastewater in the area, the respondent's knowledge about wastewater processing systems, wastewater impact on the environment, and the need for education about batik wastewater treatment plants (WWTPs). The examination of wastewater samples showed that batik wastewater did not meet the waste quality standards and potentially harmed the environment. The respondents generally use synthetic dyes, and were unaware of its impact on the surrounding environment. Keyword: batik, WWTPs, batik production process, dye, wastewater impact  ABSTRAK Sejak ditetapkannya batik sebagai warisan budaya dunia oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization, minat masyarakat terhadap batik dan industri batik semakin meningkat. Namun permasalahan muncul ketika pengembangan industri batik tidak dibarengi dengan pengolahan air limbah batik yang sesuai dengan baku mutu air limbah. Oleh karena itu menyebabkan pencemaran lingkungan, terutama untuk badan air. Tulisan ini membahas tentang kondisi dan kesadaran pengolahan air limbah batik pada industri batik skala rumah tangga dan kecil-menengah di Kecamatan Plered, Cirebon, Indonesia. Kajian ini mengkaji beban polutan air limbah batik di wilayah tersebut, pengetahuan responden tentang sistem pengolahan air limbah, dampak air limbah terhadap lingkungan, dan perlunya penyuluhan tentang Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) batik. Pemeriksaan sampel air limbah menunjukkan bahwa air limbah batik tidak memenuhi baku mutu limbah dan berpotensi merusak lingkungan. Responden umumnya menggunakan pewarna sintetis, dan tidak mengetahui dampaknya terhadap lingkungan sekitar. Kata kunci: COD, elektrokoagulasi, elektroda aluminium, air limbah tahu, monopolar.      
Klasifikasi Status Pembangunan Literasi Masyarakat di Provinsi Aceh menggunakan Analisis Diskriminan Linear Rahmadani, Novi; Mulyani, Riska; Fitri , Fathimah Atika; Yulia , Elfi; Ramadhani, Evi; Mardalena, Selvi
South East Asian Management Concern Vol. 2 No. 2 (2025): May
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/seamac.2.2.56-63

Abstract

Indeks pembangunan literasi masyarakat (IPLM) merupakan indikator yang digunakan untuk menilai upaya pemerintah daerah dalam membina dan mengembangkan literasi masyarakat melalui layanan perpustakaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan kabupaten/kota di Provinsi Aceh berdasarkan indeks pembangunan literasi masyarakat (IPLM) tahun 2024 menggunakan analisis diskriminan. Tiga variabel digunakan sebagai prediktor dalam klasifikasi, yaitu pemerataan layanan perpustakaan, ketercukupan koleksi perpustakaan, dan tingkat kunjungan masyarakat per hari, yang diukur terhadap 23 kabupaten/kota. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data memenuhi syarat kenormalan multivariat, kesamaan matriks varians-kovarians, dan perbedaan signifikan antar kelompok. Model diskriminan yang terbentuk menghasilkan fungsi klasifikasi dengan akurasi prediksi sebesar 78,26% pada data pelatihan dan 73,91% pada validasi silang. Nilai canonical correlation sebesar 0,981 dan eigenvalue sebesar 24,13 menunjukkan kemampuan diskriminatif yang sangat kuat dalam membedakan kelompok IPLM tinggi dan rendah
Technocultural and Multicriteria Analysis of Wastewater Management in Cirebon's Batik Industry Nazuwatussya’diyah Nazuwatussya’diyah; Estiyanti Ekawati; Ashari Budi Nugraha; Elfi Yulia; Eggie Rizki Srie Rejeki
Jurnal Sosioteknologi Vol. 25 No. 1 (2026): MARCH 2026
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2026.25.1.1

Abstract

Batik Wastewater Management in Cirebon continues to face persistent implementation challenges, despite the availability of treatment technologies. This condition reflects a technocultural misalignment between technological solutions and community capacity. Therefore, this study examines wastewater management in Cirebon's batik industry using a dual Analytical Hierarchy Process (AHP) framework that integrates environmental, technological, and social dimensions. Of the environmental dimension, laboratory analysis of eight wastewater samples revealed that 9 of 14 parameters exceeded Indonesian regulatory standards, with oil & grease levels exceeding the permissible limit by over 1,000-fold. The associate data-driven AHP prioritization identified oil and grease, BOD, and COD as the highest-priority parameters. Of the technological and social dimensions, the field survey documented the systemic discontinuation of treatment practices following the cessation of external support, attributable to technocultural barriers. The associate AHP evaluation of six treatment strategies across environmental (36%), technological (41%), and social (23%) criteria revealed the environmental-social paradox: integrated multi-stage WWTP ranked third (11.7%), due to prohibitive costs and operational complexity, while neutralization (28%) and equalization & settling (26%) ranked first and second, respectively. The convergence of oil and grease as the highest environmental priority and wax recovery as the most implementable strategy identifies a major entry point that simultaneously satisfies the three criteria. It serves as the foundation of a graduated three-phase implementation strategy. This study contributes methodologically through dual data-driven AHP to produce objective prioritization; theoretically through reframing pollution control as a techno cultural challenge; and practically through a graduated implementation strategy based on social capacity.