Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

INKLUSIVITAS SENI RUPA BAGI PENYANDANG DISABILITAS TUNANETRA DALAM KARYA BEYOND SIGHT Wijayanti, Sheila Nurfitri; Wiguna, Iqbal Prabawa; Sintowoko, Dyah Ayu Wiwid
eProceedings of Art & Design Vol. 11 No. 6 (2024): Desember 2024
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam memahami pengalaman manusia secara lebih mendalam menjadi daya tarik untuk menciptakan karya seni rupa, dengan seni rupa yang inklusif bagi penyandang disabilitas tunanetra. Memperluas akses terhadap seni rupa yang berangkat dari gagasan seni lukis melalui expanded painting dalam mengembangkan karya seni lukis konvensional. Melalui pendekatan expanded painting ini, karya Beyond Sight mengintegrasikan elemen visual ke dalam medium yang lebih luas dengan menciptakan karya seni rupa yang berasal dari gagasan seni lukis dapat dirasakan melalui indera selain penglihatan. Mengubah esensi seni rupa yang awalnya menggunakan medium yang hanya dapat dinikmati oleh visual menjadi audio dan dapat diraba, sehingga menghasilkan karya yang inklusif. Dalam proses penciptaan karya, dilibatkan lima anak penyandang disabilitas tunanetra dari SLBN A Citeureup untuk mengekspresikan kreativitas menggunakan clay sebagai medium. Karya seni rupa yang dihasilkan tidak hanya menonjolkan keindahan visualnya saja, tetapi juga memberikan pengalaman multisensorial kepada penyandang disabilitas tunanetra dan mereka yang menikmatinya dapat merasakan karya seni rupa dengan pengalaman yang baru. Kata kunci: inklusivitas seni rupa, disabilitas tunanetra, seni lukis, expanded paintingdengan pengalaman yang baru. Kata kunci: inklusivitas seni rupa, disabilitas tunanetra, seni lukis, expanded painting
MEREKAM SENTUHAN DAN BUNYI: FILM DOKUMENTER HAPTIC MEMORIES SEBAGAI MEDIA PENGENALAN SENI RUPA KONTEMPORER BAGI SISWA TUNANETRA SLBN A CITEUREUP CIMAHI Wiguna, Iqbal Prabawa; Azhari, Irfan; Rohadiat, Vega Giri; Wijayanti, Sheila Nurfitri; Mufidah, Nafisah
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 2 (2026): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v9i2.64922

Abstract

Visual arts education for visually impaired students remains largely oriented toward visual abilities, while access to multisensory contemporary art practices is limited. This community service program aimed to introduce contemporary art through a participatory sound-and-touch workshop and to produce the documentary film Haptic Memories as a communication asset with potential advocacy use for the partner school. The program involved five visually impaired students with diverse visual profiles and two accompanying teachers at SLBN A Citeureup Cimahi. Conducted through six visits between 2 October and 6 November 2024, the program comprised needs mapping, introductions to contemporary and inclusive art, the creation of clay works based on memories evoked by three natural soundscapes, reflective interviews, film production, and a joint evaluation with the school. Evidence from the program was collected through field notes, audiovisual documentation, semi-structured interviews, and evaluation discussions. The evaluation indicated that students experienced creating artworks from their own memories and imagination; teachers identified the combination of sound and touch as a new and potentially applicable teaching strategy; and the school acquired a digital asset for public communication. In this context, the program suggests that shifting from visual dominance toward haptic and auditory experiences can make contemporary art practices more accessible to visually impaired students. Given its small scale and short duration, however, this initiative should be regarded as an initial, context-specific model requiring continued mentoring and greater student involvement in future program design.Pembelajaran seni rupa bagi siswa tunanetra masih kerap berorientasi pada kemampuan visual, sedangkan akses terhadap praktik seni rupa kontemporer berbasis multisensori masih terbatas. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan mengenalkan seni rupa kontemporer melalui lokakarya partisipatoris berbasis bunyi dan sentuhan serta menghasilkan film dokumenter Haptic Memories sebagai aset komunikasi yang berpotensi mendukung advokasi sekolah mitra. Kegiatan melibatkan lima siswa tunanetra dengan profil penglihatan yang beragam dan dua guru pendamping di SLBN A Citeureup Cimahi. Program dilaksanakan melalui enam kunjungan antara 2 Oktober dan 6 November 2024 yang mencakup pemetaan kebutuhan, pengenalan seni kontemporer dan seni inklusif, penciptaan karya tanah liat berdasarkan ingatan yang dipicu oleh tiga lanskap bunyi alam, wawancara reflektif, produksi film, dan evaluasi bersama sekolah. Bukti pelaksanaan dihimpun melalui catatan lapangan, dokumentasi audiovisual, wawancara semi-terstruktur, dan diskusi evaluatif. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa siswa memperoleh pengalaman berkarya berdasarkan ingatan dan imajinasinya sendiri; guru mengenali perpaduan bunyi dan sentuhan sebagai strategi pengajaran yang baru dan berpotensi diterapkan; serta sekolah memperoleh aset digital untuk komunikasi publik. Dalam konteks program ini, peralihan dari dominasi visual menuju pengalaman haptik dan auditori berpotensi membuka akses siswa tunanetra terhadap praktik seni rupa kontemporer. Namun, skala kegiatan yang kecil dan durasi yang singkat menempatkan program ini sebagai model awal yang kontekstual serta memerlukan pendampingan berkelanjutan dan pelibatan siswa yang lebih jauh dalam perancangan kegiatan berikutnya.