Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Between Tradition and Challenges: Identifying Key Factors in Local Community Adaptation to Environmental Change Rizky Ramadhan; Muhammad Aqshel Revinzky Nizar; Mochamad Chairul Ihsan; Adhadian Akbar; Andreas Recki Prasetyo
International Journal of Management and Business Economics Vol. 4 No. 1 (2025): October
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/ijmebe.v4i1.1012

Abstract

Environmental changes resulting from oil palm plantation expansion have become a crucial issue in the discourse on sustainable development in Indonesia, particularly due to their impact on local communities and forest conditions. Although regulations such as the moratorium on oil palm expansion temporarily slowed deforestation, recent trends indicate that land conversion from forest to oil palm plantations is still ongoing. Local communities that have traditionally relied on forest resources are facing complex social, economic, and ecological pressures. This study aims to identify the key factors that shape the adaptive capacity of local communities to environmental changes caused by oil palm expansion. The research location is in the Parindu area, West Kalimantan. The method used is the Analytical Hierarchy Process (AHP), with a pentahelix approach in determining key informants so that decision-making is participatory and multidimensional. The results of this study indicate that institutional resources are the most crucial factor in improving community adaptive capacity. Local institutions—both formal and informal—play a strategic role in bridging local culture with modern economic demands. These findings emphasize the importance of strengthening local institutions to support community adaptation and promote sustainable, equitable, and locally-based development.
PENGARUH KELANGKAAN (SCARCITY) TERHADAP PEMBELIAN IMPULSIF (IMPULSE BUYING) DENGAN RASA TAKUT KEHILANGAN (FOMO) SEBAGAI MEDIASI: STUDI PADA PEMBELIAN PRODUK LABUBU BLIND BOX Velian Zalfa; Mery Citra Sondari; Mochamad Chairul Ihsan
Journal of Social and Economics Research Vol 7 No 1 (2025): JSER, June 2025
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v7i1.950

Abstract

Fenomena pembelian impulsif di kalangan Gen Z semakin sering ditemui, terutama dalam konteks produk viral dan terbatas seperti Labubu Blind Box. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kelangkaan (scarcity) dan rasa takut kehilangan atau fear of missing out (FoMO) terhadap perilaku pembelian impulsif (impulse buying), dengan FoMO juga diuji sebagai variabel mediasi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei berbasis kuesioner yang disebarkan secara daring dengan total 214 responden. Seluruh responden merupakan individu berusia 18 tahun ke atas yang pernah membeli produk Labubu Blind Box. Teknik analisis data dilakukan menggunakan metode SEM-PLS untuk menguji model hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa scarcity memiliki pengaruh langsung yang positif terhadap impulse buying, namun memiliki pengaruh negatif terhadap FoMO. Lebih lanjut, FoMO berperan sebagai mediator dalam hubungan antara scarcity dan impulse buying, tetapi arah pengaruhnya bersifat negatif, menunjukkan adanya competitive partial mediation. Temuan ini dianalisis menggunakan pendekatan S-O-R framework, di mana scarcity sebagai stimulus memengaruhi reaksi emosional (FoMO) dan akhirnya menghasilkan response berupa perilaku konsumtif, meskipun tidak secara linear.
PENGARUH KELANGKAAN (SCARCITY) TERHADAP PEMBELIAN IMPULSIF (IMPULSE BUYING) DENGAN RASA TAKUT KEHILANGAN (FOMO) SEBAGAI MEDIASI: STUDI PADA PEMBELIAN PRODUK LABUBU BLIND BOX Velian Zalfa; Mery Citra Sondari; Mochamad Chairul Ihsan
Journal of Social and Economics Research Vol 7 No 1 (2025): JSER, June 2025
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v7i1.950

Abstract

Fenomena pembelian impulsif di kalangan Gen Z semakin sering ditemui, terutama dalam konteks produk viral dan terbatas seperti Labubu Blind Box. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kelangkaan (scarcity) dan rasa takut kehilangan atau fear of missing out (FoMO) terhadap perilaku pembelian impulsif (impulse buying), dengan FoMO juga diuji sebagai variabel mediasi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei berbasis kuesioner yang disebarkan secara daring dengan total 214 responden. Seluruh responden merupakan individu berusia 18 tahun ke atas yang pernah membeli produk Labubu Blind Box. Teknik analisis data dilakukan menggunakan metode SEM-PLS untuk menguji model hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa scarcity memiliki pengaruh langsung yang positif terhadap impulse buying, namun memiliki pengaruh negatif terhadap FoMO. Lebih lanjut, FoMO berperan sebagai mediator dalam hubungan antara scarcity dan impulse buying, tetapi arah pengaruhnya bersifat negatif, menunjukkan adanya competitive partial mediation. Temuan ini dianalisis menggunakan pendekatan S-O-R framework, di mana scarcity sebagai stimulus memengaruhi reaksi emosional (FoMO) dan akhirnya menghasilkan response berupa perilaku konsumtif, meskipun tidak secara linear.
PENGARUH PLATFORM DIGITAL DAN GREEN BRANDING TERHADAP BRAND IMAGE DI KALANGAN GENERASI Z (STUDI KASUS: GOZERO% TELKOM) Zahira Adraqiqa; Mochamad Chairul Ihsan
Journal of Social and Economics Research Vol 7 No 2 (2025): JSER, December 2025
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v7i2.1314

Abstract

Platform digital dan pesan keberlanjutan semakin banyak digunakan brand untuk membangun citra positif di mata konsumen, termasuk melalui program GoZero% Telkom. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh platform digital dan green branding terhadap brand image pada Generasi Z dengan didukung oleh teori Customer-Based Brand Equity (CBBE). Pendekatan yang digunakan adalah metode kuantitatif melalui survei kuesioner terhadap 141 responden, dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa platform digital memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap brand image. Pengalaman digital yang mudah, informatif, dan nyaman terbukti membentuk persepsi yang baik terhadap GoZero%. Green branding juga berpengaruh positif dan menjadi variabel yang paling dominan. Pesan keberlanjutan yang konsisten mampu memperkuat penilaian dan citra positif di mata Generasi Z. Secara simultan, kedua variabel tersebut memiliki pengaruh yang signifikan terhadap brand image. Penelitian ini menegaskan bahwa kualitas pengalaman digital dan komunikasi keberlanjutan yang jelas diperlukan untuk membangun brand image yang kuat pada generasi muda.
PENGARUH PLATFORM DIGITAL DAN GREEN BRANDING TERHADAP BRAND IMAGE DI KALANGAN GENERASI Z (STUDI KASUS: GOZERO% TELKOM) Zahira Adraqiqa; Mochamad Chairul Ihsan
Journal of Social and Economics Research Vol 7 No 2 (2025): JSER, December 2025
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v7i2.1314

Abstract

Platform digital dan pesan keberlanjutan semakin banyak digunakan brand untuk membangun citra positif di mata konsumen, termasuk melalui program GoZero% Telkom. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh platform digital dan green branding terhadap brand image pada Generasi Z dengan didukung oleh teori Customer-Based Brand Equity (CBBE). Pendekatan yang digunakan adalah metode kuantitatif melalui survei kuesioner terhadap 141 responden, dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa platform digital memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap brand image. Pengalaman digital yang mudah, informatif, dan nyaman terbukti membentuk persepsi yang baik terhadap GoZero%. Green branding juga berpengaruh positif dan menjadi variabel yang paling dominan. Pesan keberlanjutan yang konsisten mampu memperkuat penilaian dan citra positif di mata Generasi Z. Secara simultan, kedua variabel tersebut memiliki pengaruh yang signifikan terhadap brand image. Penelitian ini menegaskan bahwa kualitas pengalaman digital dan komunikasi keberlanjutan yang jelas diperlukan untuk membangun brand image yang kuat pada generasi muda.