Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Puitika

KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN DENGAN STRATEGI THE COGNITIVE ACADEMIC LANGUAGE LEARNING APPROACH (CALLA) BERBASIS KEARIFAN LOKAL SISWA KELAS VII SMP NEGERI 18 PADANG Witri Annisa; Rio Rinaldi
Puitika Vol 13, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/puitika.13.2.216--223.2017

Abstract

The result of the research ”Programme for International Student Assesment (PISA)” states that student reading interest get in 57th  position from 65 countries. It means that the students reading interest in Indonesia is still low. It will influence the ability of student reading comprehension  Like what happen in SMP Negeri 18 Padang. One of the way to solve this problem is CALLA strategy based on local wisdom. This  strategy is carried out through five stages: preparation, presentation, practice, evaluation, and follow-up. The aim of this research is to describe the learning process and the ability of student reading comprehension in class seven in SMP Negeri 18 Padang using CALLA strategy based on the local wisdom. This reasearch is quantitative and description method. The result of this research is the ability of student reading comprehension class seven in SMPN 18 Padang progresses, pretest mark is 73,53 and postest mark is 84,03. It means that CALLA strategy based on the local wisdom can increase the ability of student reading comprehension. Learning by applying this strategy  can make student easier understanding the text. Keywords:  CALLA Strategy, reading comprehension learning, local wisdom 
Warna Lokal Minangkabau dan Kesosialan Pengarang dalam Kumpulan Cerpen Penari dari Kuraitaji Karya Free Hearty Rio Rinaldi
Puitika Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/puitika.12.2.149--159.2016

Abstract

Sebuah karya sastra mengenai warna lokal Minangkabau akan memperlihatkan setiap atau sebagian dari unsur masyarakat Minangkabau. Karya sastra prosa, seperti kumpulan cerpen yang memuat unsur lokalitas Minangkabau sedikit banyaknya memiliki muatan tentang persoalan sistem kemasyarakatan di Minangkabau. Sekurang-kurangnya, ada sikap dan cara pandang masyarakat setempat yang tergambar melalui penokohan atau latar cerita. Di antara persoalan keminangkabauan tersebut, terdapat beberapa hal lain, di antaranya kehidupan keluarga matrilineal yang besar, kehadiran mamak dengan tugasnya yang khusus dalam kehidupan suatu keluarga, bapak yang diabaikan (sebagai tamu), dan keinginan untuk merantau. Beberapa hal tersebut hadir dalam teks sastra mutakhir melalui polemik. Kehadiran beberapa unsur tertentu dalam karya sastra mutakhir memungkinkan adanya tegangan dan hubungan dengan realitas sosial, seperti sikap dan cara pandang. Unsur yang memungkinkan adanya tegangan dan hubungan dengan realitas sosial itu bukanlah suatu hal yang negatif dalam teks sastra. Justru, inilah yang memungkinkan terbentuknya kesan estetika. Pengarang yang menulis karya sastra berwarna lokal yang hadir dalam konteks kekinian, memiliki kesosialan dalam bentuk lain melalui unsur imajinatif dan proses kreatifnya. Hubungan unsur tersebut dengan realitas sosial tidak terbatas pada hal-hal yang bertanggung jawab untuk membentuk suatu pandangan dunia, unsur imajinatif dan kreatif dari penulisnya saja, tetapi juga kepada reaksi penulis atau tanggapan penulis terhadap kejadian yang terjadi di sekitarnya. Sementara, tugas penulis sastra yang berwarna lokal dalam sastra mutakhir menciptakan style baru guna menciptakan dunia sendiri dalam teks sastra. Setiap style menyarankan suatu interpretasi tertentu dari seorang pengarang.  Kata kunci: warna, lokal, Minangkabau, kesosialan, pengarang
GAYA BAHASA LOKALITAS MINANGKABAU DALAM NOVEL-NOVEL KARYA WISRAN HADI Rio Rinaldi; Romi Isnanda
Puitika Vol 16, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/puitika.12.1.75--89.2016

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan gaya bahasa lokalitas Minangkabau dalam novel-novel karya Wisran Hadi. Gaya bahasa yang dimaksud adalah retorik dan majas lokalitas Minangkabau. Gaya bahasa retorik (bermakna langsung) terdiri atas penegasan dan pertentangan. Gaya bahasa majas (bermakna tidak langsung) terdiri atas perbandingan dan sindiran. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Data penelitian ini adalah kata, frasa, klausa, atau kalimat yang dapat dirumuskan sebagai gaya bahasa lokalitas Minangkabau. Sumber data penelitian ini adalah novel-novel karya Wisran Hadi yaitu, Tamu, Orang- orang Blanti, dan Negeri Perempuan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara : (1) membaca dan memahami gaya bahasa lokalitas Minangkabau dalam novel-novel karya Wisran Hadi yaitu, Tamu, Orang- orang Blanti, dan Negeri Perempuan, (2) mengklasifikasi data yang berhubungan dengan gaya bahasa lokalitas Minangkabau, yaitu retorik penegasan dan pertentangan dan majas perbandingan dan sindiran. Hasil temuan penelitian dalam novel-novel karya Wisran Hadi yaitu, Tamu, Orang-orang Blanti, dan Negeri Perempuan adalah sebagai berikut ini : (1) terdapat gaya bahasa retorik lokalitas Minangkabau, yaitu penegasan (hiperbola, antiklimaks, dan pleonasme) dan pertentangan (paradoks dan antitesis), (2) terdapat majas lokalitas Minangkabau, yaitu perbandingan (metafora, personifikasi, sinekdoke, alusio, dan simile) dan sindiran (ironi, sinisme, dan sarkasme). Dari sejumlah gaya bahasa yang ditemukan, gaya bahasa yang dominan sebagai khas Wisran Hadi adalah majas lokalitas Minangkabau, yaitu majas perbandingan (alusio). Majas perbandingan menjadi ciri khas Wisran Hadi dalam usahanya memberikan corak lokalitas Minangkabau pada karya-karyanya. Hal tersebut berupa gaya bahasa perbandingan yang secara sugestif menggambarkan tentang tempat, orang, dan peristiwa yang bersifat setempat, yaitu Minangkabau. Di samping itu, gaya bahasa lokalitas bertujuan menggambarkan tentang cara pengungkapan, cara merasa, dan lain sebagainya.