Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Jurnal Katalisator

ANALISIS JENIS KEMASAN TERHADAP KADAR PROTEIN DAN KADAR AIR PADA TEMPE Reny Salim
Jurnal Katalisator Vol 2, No 2 (2017): KATALISATOR
Publisher : LLDIKTI Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1114.624 KB) | DOI: 10.22216/jk.v2i2.2531

Abstract

Tempe merupakan makanan tradisional yang mengandung kadar protein cukup tinggi. Proses fermentasi tempe dapat terganggu jika kemasan yang digunakan tidak mendukung proses tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kemasan (daun pisang dan plastik) terhadap kadar protein tempe. Kegiatan analisis ini menggunakan metode Kjeldhal melalui tiga tahapan (destruksi, destilasi, dan titrasi). Hasil analisis kadar protein pada tempe bungkus daun sebesar 44,77% dan tempe bungkus plastik sebesar 41,38%. Perbedaan ini diuji dengan T-Test Paired dengan hasil sig = 0,004 (sig<0,05) yang berarti jenis kemasan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kadar protein. Tempe is a traditional food of Indonesian society that contains high of levels of protein. Tempe fermentation process can be disrupted if the packaging used doesn't support the process. This study aims to detemine the effect of packaging (banana leaf and plastic) on the protein content of tempe. This analysis activity uses Kjeldhal method through three stages (destruction, distillation, and titration). The result of protein content analysis on leaf tempe was 44,77% and plastic wrap was 41,38%. This difference was tested by Paired T-Test with sig = 0,004 (sig<0,05), which means that packing type has significant effect on protein content.
Uji Aktivitas Antioksidan Infusa Daun Ungu Dengan Metoda DPPH (1,1- diphenil- 2-picrylhidrazil) Reny Salim
Jurnal Katalisator Vol 3, No 2 (2018): KATALISATOR
Publisher : LLDIKTI Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (841.196 KB) | DOI: 10.22216/jk.v3i2.3372

Abstract

Tanaman  ungu merupakan salah satu jenis tanaman yang berkhasiat sebagai tanaman obat. Masyarakat memanfaatkan tanaman ini sebagai obat wasir, demam, bisul, melancarkan haid, dan lain-lain. Khasiat yang dimiliki oleh daun dari tanaman wungu ini disebabkan oleh keberadaan senyawa metabolit sekunder. Secara penampilan fisik dan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya tentang daun dari tanaman Wungu ini dapat diyakini adanya senyawa antosianin dari golongan polifenol. Senyawa antosianin dari golongan fenol merupakan senyawa yang dapat dimanfaatkan sebagai zat antioksidan, maka dilakukanlah pengujian aktivitas antioksidan dari infusa daun tanaman Wungu ini. Metoda ekstraksi yang dipilih adalah infusa karena masyarakat pada umumnya mengolah daun ini dengan cara merebus daunnya lalu meminum airnya. Daun Wungu yang dibuat infusa mempunyai konsentrasi 10% lalu diencerkan hingga pada konsentrasi (75, 100, 125, 150, 175) µg/mL. Setiap infusa tersebut diambil 1 mL direaksikan dengan 2 mL larutan DPPH 35 µg/mL dalam tabung reaksi berlapis aluminium selama waktu optimum (30 menit).  Setelah waktu optimum tercapai maka dilakukan pengukuran absorbansi menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 515 nm. Hasil pengukuran memberikan data bahwa aktivitas antioksidan berdasarkan IC50 dari infusa daun Wungu berada pada konsentrasi 125,09 µg/mL. Nilai IC50 yang diperoleh infusa dibandingkan dengan nilai inhibisi dari larutan vitamin C yang dibuat dengan variasi konsentrasi (10, 12, 14, 16, 18) µg/mL, didapatkan kesimpulan bahwa aktivitas antioksidan dari infusa daun dari tanaman Wungu tergolong sedang.
Aktivitas Antioksidan Infusa Daun Kelor (Moringa Oleifera Lam.) Terhadap Warna Daun Reny Salim; Eliyarti Eliyarti
Jurnal Katalisator Vol 4, No 2 (2019): KATALISATOR
Publisher : LLDIKTI Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22216/jk.v4i2.4210

Abstract

Daun dari tanaman kelor bermanfaat sebagai antioksidan. Hal ini telah diketahui dari beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Namun dalam hal perbedaan warna daun mempengaruhi kekuatan antioksidan yang dimiliki oleh daun kelor belum diteliti maka pada penelitian ini peneliti menguji kekuatan aktivitas antioksidan infusa daun kelor hijau muda dan hijau tua  yang diambil dari daerah Bengkulu-Indonesia. Metode ekstraksi yang digunakan untuk pengujian ini adalah infusa sedangkan zat radikal yang digunakan adalah DPPH. Hasil kekuatan aktivitas antioksidan 50%  infusa daun kelor hijau muda, daun kelor tua, dan vitamin C berturut-turut adalah  sebesar 181,45µg/m;, 318,57µg/mL; 5,49 µg/mL. Hasil pengujian memperlihatkan kekuatan aktivitas antioksidan infusa daun kelor muda lebih besar daripada  daun kelor hijau tua. Hasil signifikansi konsentrasi dihitung dengan menggunakan uji T Paired Two Sample dengan nilai α = 0,05.The leaves of Moringa plants are useful as antioxidants. This has been known from several results of studies that have been done before. However, in terms of differences in leaf color affecting the antioxidant power possessed by Moringa leaves has not been studied, in this study the researchers tested the strength of the antioxidant activity of light green and dark green Moringa leaves taken from the Bengkulu-Indonesia area. The extraction method used for this test is infusion while the radical used is DPPH. The results of the strength of the antioxidant activity of 50% infusion of young green Moringa leaves, old Moringa leaves, and vitamin C respectively were 181.45 µg / m ;, 318.57 µg / mL; 5.49 μg / mL. The test results showed the strength of the antioxidant activity of young Moringa leaf infusion was greater than the dark green Moringa leaves. The results of the significance of the concentration were calculated using the Paired Two Sample T test with a value of α = 0.05.
Aktivitas Antioksidan Si Ungu Mentawai Reny Salim; Suryani Suryani
Jurnal Katalisator Vol 5, No 1 (2020): KATALISATOR
Publisher : LLDIKTI Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22216/jk.v5i1.5275

Abstract

Research has been conducted on the antioxidant activity of Mentawai leaves in the form of infusion. The result is the strength of the antioxidant activity of purple leaf infusion is moderate. The results obtained give the idea to continue further research based on the concept of growth factor growth research contributing to the secondary metabolites of a plant. Purple leaves contain anthocyanin composition which is seen from the color of the leaves. Anthocyanin compounds are a class of flavonoids that are well-known as one of the secondary metabolites that have antioxidant properties. In this study, the purple leaves sampled were purple leaves and for the stability of the anthocyanin, the pollination process was carried out at high but short temperatures. After that it is extracted using the kinetic maceration method. Maceration uses 70% ethanol solvent in a small amount of acid to keep anthocyanin compounds stable. After that continued with the fractionation process using chloroform, ethyl acetate, and air solvents. The antioxidant strength testing of extracts and fractions is carried out using DPPH as a strong free radical because the testing process is easy and simple. The results of the study obtained IC50 values of extracts and fractions (chloroform, ethyl acetate, air) respectively (9; 138.56; 15.62; 16.65) μg / mL. The category of antioxidant strength from extracts and fractions is strong and moderate.Sebelumnya telah dilakukan penelitian tentang kekuatan aktivitas antioksidan daun ungu Mentawai dalam bentuk infusa. Hasilnya kekuatan aktivitas antioksidan infusa daun ungu tergolong sedang. Hasil yang diperoleh memberikan suatu ide untuk melanjutkan pengujian berikutnya berdasarkan konsep penelitian bahwa faktor lingkungan tumbuh dapat memberikan pengaruh terhadap kandungan metabolit sekunder dari suatu tumbuhan. Daun ungu mengandung senyawa antosianin yang terlihat dari warna daun. Senyawa antosianin merupakan golongan flavonoid yang terkenal sebagai salah satu golongan metabolit sekunder berkhasiat antioksidan. Dalam penelitian ini daun ungu yang dijadikan sampel adalah daun yang seluruhnya berwarna ungu dan untuk menjaga kestabilan antosianinnya maka proses penyerbukan dilakukan dengan suhu tinggi namun waktu pendek. Setelah itu diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi kinetik. Maserasi menggunakan pelarut etanol 70% dalam suasana sedikit asam agar senyawa antosianin tetap stabil. Setelah itu dilanjutkan dengan proses fraksinasi menggunakan pelarut kloroform, etil asetat, dan air. Pengujian kekuatan antioksidan ekstrak dan fraksi dilakukan dengan menggunakan zat DPPH sebagai radikal bebas yang kuat namun mudah dan sederhana proses pengujiannya. Hasil dari penelitian diperoleh nilai IC50 ekstrak dan fraksi (kloroform, etil asetat, air) berturut-turut adalah (9; 138,56; 15,62; 16,65) µg/mL. Kategori kekuatan antioksidan dari ekstrak dan fraksi adalah kuat dan sedang.