Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Optimizing Canang Flower Waste Extract for Staining Fasciolopsis buski Eggs: An Enhancement of the Kato-Katz Method I Komang Tri Yasa Widnyana; Kadek Indira Maheswari; Putu Sathiya Adi Janendra; Dewa Gede Putra Mahayana; Indra Dwisaputra; Made Bayu Permasutha; Irma Rahmayani; Pasala, Metamalik
Biosaintifika: Journal of Biology & Biology Education Vol. 17 No. 2 (2025): August 2025
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/biosaintifika.v17i2.22829

Abstract

Fasciolopsis buski is a parasitic helminth that can infect humans. Diagnosing helminthiasis can be confirmed through fecal testing utilizing the Kato-Katz method.  The Kato-Katz method employs methylene blue staining, which poses environmental hazards due to its carcinogenic characteristics. An alternative to staining is the use of a canang, a common Balinese item used for prayers. The utilized waste canang flowers were Tagetes erecta, Impatiens balsamina (red), and Impatiens balsamina (purple). The research began with an extraction procedure that involved cutting the flowers into small pieces, resulting in approximately 500 grams of fragments. The flower components were macerated in two liters of 96% ethanol for five days. Additionally, cellophane immersion of the extracted findings was performed. The findings indicated that each sample from the three treatment groups (T1, 1%; T2, 2%; and T3, 3%) and the two control groups.  Sub-analysis testing evaluated the quantity of helminth eggs, quantified as eggs per gram of feces via field-of-view observation. The T3 (3%) exhibited results that were not statistically significantly different (P>0.05) from the positive control group. The T3 (3%) test provides the most favorable and optimal results as a substitute for methylene blue in microscopic staining evaluations.
Telepsikiatri sebagai Inovasi Layanan terhadap Gangguan Cemas dan Depresi: Literature Review Dewa Gede Putra Mahayana; I Komang Gunawan Landra; Made Bayu Permasutha; Made Kurnia Widiastuti Giri
Healthcaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Vol : 5 No : 1 : Periode Januari 2026
Publisher : Information Technology and Science (ITScience)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47709/healthcaring.v5i1.7571

Abstract

Gangguan kecemasan dan depresi menimbulkan dampak besar terhadap kualitas hidup berbagai populasi serta beban sosioekonomi yang masif. Hal tersebut mendorong pentingnya tatalaksana terhadap gangguan kecemasan dan depresi. Keterbatasan jumlah psikiater di Indonesia menjadikan telepsikiatri sebagai solusi potensial untuk memperluas akses layanan. Kajian ini bertujuan meninjau efektivitas klinis, kepuasan pasien, serta hambatan dan peluang penerapan telepsikiatri pada gangguan kecemasan dan depresi. Tinjauan literatur naratif dilakukan melalui pencarian artikel di PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar (2015–2025) menggunakan kata kunci terkait telepsikiatri dan gangguan kecemasan/depresi. Studi yang disertakan mencakup penelitian eksperimental, quasi-eksperimental, observasional prospektif, dan meta-analisis pada populasi dewasa. Analisis tematik-deskriptif digunakan untuk mensintesis bukti terkait efektivitas, kepuasan, hambatan, dan peluang penerapan. Sebanyak 5 artikel memenuhi kriteria inklusi. Intervensi telepsikiatri mencakup konsultasi video sinkron, aplikasi psikiatri berbasis mobile, cognitive behavior therapy digital, dan layanan psikologi berbasis chat. Secara umum, telepsikiatri menunjukkan efektivitas setara dengan layanan tatap muka, dengan beberapa intervensi digital intensif menghasilkan efek klinis lebih besar. Kepuasan pasien dilaporkan tinggi, terutama terkait kenyamanan, fleksibilitas, dan mengurangi stigma. Hambatan meliputi keterbatasan aliansi terapeutik, literasi digital yang terbatas, dan infrastruktur yang belum sepenuhnya memadai. Namun, peluang implementasi telepsikiatri luas, termasuk dalam cost-effectiveness dan perluasan akses di daerah terpencil. Telepsikiatri efektif dan diterima baik untuk penatalaksanaan kecemasan dan depresi, serta berpotensi memperkuat sistem layanan kesehatan jiwa di Indonesia.