Gangguan kecemasan dan depresi menimbulkan dampak besar terhadap kualitas hidup berbagai populasi serta beban sosioekonomi yang masif. Hal tersebut mendorong pentingnya tatalaksana terhadap gangguan kecemasan dan depresi. Keterbatasan jumlah psikiater di Indonesia menjadikan telepsikiatri sebagai solusi potensial untuk memperluas akses layanan. Kajian ini bertujuan meninjau efektivitas klinis, kepuasan pasien, serta hambatan dan peluang penerapan telepsikiatri pada gangguan kecemasan dan depresi. Tinjauan literatur naratif dilakukan melalui pencarian artikel di PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar (2015–2025) menggunakan kata kunci terkait telepsikiatri dan gangguan kecemasan/depresi. Studi yang disertakan mencakup penelitian eksperimental, quasi-eksperimental, observasional prospektif, dan meta-analisis pada populasi dewasa. Analisis tematik-deskriptif digunakan untuk mensintesis bukti terkait efektivitas, kepuasan, hambatan, dan peluang penerapan. Sebanyak 5 artikel memenuhi kriteria inklusi. Intervensi telepsikiatri mencakup konsultasi video sinkron, aplikasi psikiatri berbasis mobile, cognitive behavior therapy digital, dan layanan psikologi berbasis chat. Secara umum, telepsikiatri menunjukkan efektivitas setara dengan layanan tatap muka, dengan beberapa intervensi digital intensif menghasilkan efek klinis lebih besar. Kepuasan pasien dilaporkan tinggi, terutama terkait kenyamanan, fleksibilitas, dan mengurangi stigma. Hambatan meliputi keterbatasan aliansi terapeutik, literasi digital yang terbatas, dan infrastruktur yang belum sepenuhnya memadai. Namun, peluang implementasi telepsikiatri luas, termasuk dalam cost-effectiveness dan perluasan akses di daerah terpencil. Telepsikiatri efektif dan diterima baik untuk penatalaksanaan kecemasan dan depresi, serta berpotensi memperkuat sistem layanan kesehatan jiwa di Indonesia.