Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

INTERAKSI OBAT PADA PASIEN PPOK: TINJAUAN SISTEMATIS DAN META-ANALISIS Hardiyanti, Trirahmi; Febrianti, Anggi; Devita, Devita; Afifah, Seftiana Nur; Jumana, Jumana
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i3.47561

Abstract

Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) merupakan kondisi inflamasi kronis yang bersifat progresif dan membutuhkan pengelolaan terapi jangka panjang. Penatalaksanaan PPOK umumnya melibatkan penggunaan kombinasi obat-obatan seperti bronkodilator, kortikosteroid inhalasi (ICS), antibiotik, dan agen farmakologis lainnya. Namun, penggunaan beberapa obat secara bersamaan meningkatkan risiko terjadinya interaksi obat yang dapat menurunkan efektivitas terapi dan menimbulkan efek samping serius. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis interaksi obat yang paling umum terjadi pada pasien PPOK melalui pendekatan tinjauan sistematis dan meta-analisis. Artikel diperoleh melalui pencarian literatur di tiga basis data elektronik (PubMed, Scopus, dan Cochrane) dengan metode seleksi berdasarkan panduan PRISMA 2020. Dari 1.200 artikel awal, 16 studi memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis lebih lanjut secara deskriptif dan kuantitatif menggunakan forest plot dan funnel plot. Hasil menunjukkan bahwa interaksi paling sering melibatkan ICS (fluticasone, budesonide) dengan inhibitor enzim CYP3A4 seperti ritonavir dan klaritromisin, bronkodilator β2-agonis dengan β-blocker nonselektif, kombinasi antikolinergik, serta theophylline dengan antibiotik makrolida. Efek klinis yang umum dilaporkan mencakup supresi adrenal, bronkospasme, pneumonia, dan toksisitas sistemik. Temuan ini menekankan pentingnya pemantauan terapi secara ketat pada pasien PPOK, terutama dalam penggunaan kombinasi obat. Apoteker klinis memiliki peran penting dalam mendeteksi dan mencegah interaksi obat untuk meningkatkan keamanan dan keberhasilan terapi. Oleh karena itu, pemahaman yang komprehensif terhadap interaksi obat menjadi aspek penting dalam manajemen pasien PPOK.
Tingkat Pengtahuan Dan Sikap Terhadap Penyakit Kecacingan Di Madrasah Tsanawiyah Hidayatul Islamiyah Putri, Anggy Utama; Dita, Rahma; Pratama, Rifqi; Syahrani, Annisa; Rahmawati, Nur; Putri, Adellia Patricia; Afifah, Seftiana Nur; Naurah, Nasyiah Tri; Rismayanti; Lidia, Siska; Agusti, Qori; Wulansari, Cien; Sepriani, Mutiara; Maharani, Shela; Safitri, Rika Dwi
JURNAL LENTERA ILMIAH KESEHATAN Vol. 3 No. 2 (2025): Desember
Publisher : CV. Q2 Lantera Ilmiah Institut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52120/jlik.v3i2.130

Abstract

Infeksi kecacingan adalah kondisi ketika parasit cacing masuk ke tubuh manusia, kemudian tinggal dan berkembang biak sehingga menyebabkan gangguan kesehatan. PHBS berperan dalam upaya pencegahan penyakit kecacingan, peningkatan derajat kesehatan anak, serta pembentukan kebiassaan hidup sehat sejak dini. Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran mengenai pengetahuan dan sikap terhadap penyakit kecacingan di Madrasah Tsanawiyah Hidayatul Islamiyah. Pendekaran kuantitatif analitik koresional dengan desain cross sectional digunakan sebagai desain dalam penelitian ini. Jumlah sampel sebanyak 30 responden, instrument yang digunakan berupa kuisioner pengetahuan dan sikap. Hasil penelitian menujukkan bahwa terdapat 1 orang (3,3%) memiliki pengetahuan yang rendah mengenai cacingan, sedang sejumlah 14 orang (46,7%) dan tinggi sejumlah 15 orang (50,0%), sedangkan sikap terhadap penyakit cacingan yang baik yaitu 16 orang (53,3%), cukup sejumlah 8 orang (26,7%) dan kurang sejumlah 6 orang (20%). Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar siswa Madrasah Tsanawiyah Hidayatul Islamiyah memiliki tingkat pengetahuan pada kategori sedang hingga tinggi serta sikap yang baik terhadap penyakit kecacingan, namun masih terdapat sebagian siswa dengan sikap kurang sehingga diperlukan upaya edukasi kesehatan yang berkelanjutan.