Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Edukasi Grooming Attack Recognition System Prevensi Kejahatan Eksploitasi Anak dengan Modus Child Grooming Nora Mia Azmi
JKA Vol. 2 No. 1 (2025): JKA
Publisher : Bansigom Na Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26811/ds6tn806

Abstract

Meningkatnya kasus eksploitasi anak dengan modus child grooming menuntut pengembangan sistem pencegahan yang efektif. Grooming Attack Recognition System (GARS) adalah sebuah inisiatif edukasi dan sistem yang dirancang untuk mendeteksi serta mengidentifikasi pola komunikasi berbahaya yang sering digunakan oleh pelaku grooming terhadap anak. GARS memanfaatkan teknologi pengenalan teks dan analisis percakapan untuk mendeteksi indikasi grooming, yang kemudian memberikan peringatan kepada orang tua dan pihak berwenang untuk mencegah tindakan eksploitasi lebih lanjut. Artikel ini bertujuan untuk memperkenalkan konsep dan mekanisme kerja GARS, serta membahas efektivitas sistem ini dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya child grooming. Dengan edukasi yang tepat dan pemanfaatan teknologi, GARS diharapkan mampu mengurangi risiko kejahatan eksploitasi anak melalui upaya pencegahan yang lebih proaktif dan responsif.
Merawat Alam, Menguatkan Masyarakat: Sinergi Hukum Lingkungan dan Kearifan Lokal dalam Agro-Ekowisata Sempajaya Nora Mia Azmi; Lilik Yulianingsih; Tasmiati Emsa
Seumike : Society Progress Journal Vol. 2 No. 1 (2026): Seumike
Publisher : Bansigom Na Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64826/jh5pvh74

Abstract

Agro-ekowisata Sempajaya berkembang sebagai model ekonomi hijau yang memadukan aktivitas pertanian organik, konservasi keanekaragaman hayati, dan wisata edukatif. Keberlanjutan model ini tidak hanya bergantung pada aturan formal, tetapi juga pada kearifan lokal masyarakat adat setempat. Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus ini bertujuan menganalisis sinergi antara hukum lingkungan positif (nasional dan daerah) dengan kearifan lokal dalam tata kelola Agro-Ekowisata Sempajaya. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan 15 informan kunci (pengelola, petani, tokoh adat, aparat desa), dan studi dokumen. Analisis data menggunakan teknik analisis interaktif Miles dan Huberman serta konsep legal pluralism. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokal, seperti "Belian" (ritual tolak bala untuk lahan) dan "Sangkep" (musyawarah adat), berfungsi sebagai mekanisme komplementer dan adaptif terhadap hukum formal. Sinergi ini menciptakan tata kelola kolaboratif yang efektif dalam mengelola sumber daya alam, menyelesaikan sengketa, dan membangun ketahanan sosial-ekologi. Temuan mengindikasikan bahwa penguatan model agro-ekowisata berkelanjutan di Indonesia memerlukan pengakuan dan inkorporasi kearifan lokal ke dalam kerangka regulasi, bukan sekadar mengandalkan pendekatan hukum top-down.