Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pengaruh Formula Pakan terhadap Pertumbuhan Larva Hermetia illucens dalam Biokonversi Limbah Organik Hartati; Oslan Jumadi; Muhammad Junda; Nani Kurnia; Sahribulan; Saparuddin; Yasser Abd Djawad; Fajar Harianto; Christie Novri Yanti
Bionature Vol. 22 No. 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Jurusan Biologi Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The growth rate of Hermetia illucens larvae in the bioconversion of organic waste is influenced by the media and environmental conditions where the BSF lives. This study aims to determine the effect of the feed formula on the growth of Hermetia illucens larvae in the bioconversion of organic waste. This research method was carried out by rearing BSF larvae, making BSF feed formulas, determining larval length, determining the weight and weight of BSF cassava. The results showed that the feeding formula from fish waste, tapioca waste with a chopped diameter of 10,20,30 mm gave a significant effect on the growth of BSF larvae (larval length, larvae weight) and BSF maggots. The provision of 20 and 30 percent fish waste has a higher weight and length with a chopped diameter of 20 and 30 mm.
Gambaran Kinerja Pengomposan Limbah Padat Rumah Potong Hewan Tamangapa Kota Makassar dengan Sistem Aerasi Pasif Hartono; St. Fatma Hiola; Surahman Nur; Oslan Jumadi
Bionature Vol. 22 No. 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Jurusan Biologi Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Slaughterhouse waste is generally disposed into the environment without being processed, so that it potentially causes air pollution, water pollution, and soil pollution. Slaughterhouse waste can be processed and used as plant fertilizer through the composting process. This study aims to compare the composting performance of solid waste at Tamangapa RPH Makassar between the main ingredient consisting of rumen contents only (treatment I) with that consisting of a mixture of rumen contents with livestock manure (treatment II). We recorded quantitative data including temperature (0C), pH, material mass reduction and composting time and qualitative parameters including color, smell and texture of the resulting compost. The composting process was carried out in a compost box with a size of 40x40x60 cm with a passive aeration system for 4 weeks with three replications. Our results demonstrated that treatment I and treatment II had a similar pattern of temperature changes, while the average pH of treatment I was higher compared to treatment II. Based on the composting performance data including changes in temperature and pH from the first week to the fourth week of composting, we concluded that both treatments resulted in a rapid composting process with good-quality compost.
Komposisi Kimia Pupuk Kompos dari Limbah Padat Rumah Potong Hewan Tamangapa Kota Makassar Hartono; Surahman Nur; Oslan Jumadi
Bionature Vol. 23 No. 1 (2022): April 2022
Publisher : Jurusan Biologi Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumah Potong Hewan (RPH) menghasilkan limbah padat dengan jumlah yang besar setiap hari dan belum dimanfaatkan secara maksimal. Limbah padat RPH memiliki potensi yang besar untuk dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman melalui proses pengomposan. Pengomposan diharapkan bisa mengubah komposisi bahan organik limbah padat RPH menjadi lebih ideal untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi kimia pupuk kompos yang dibuat dari limbah pada RPH Tamangapa Kota Makassar baik sebelum dan setelah proses pengomposan. Pembuatan kompos dari limbah padat RPH Tamangapa kota Makassar dilakukan dengan menggunakan bahan utama isi rumen (perlakuan I) dan isi rumen yang dicampur dengan kotoran ternak dengan perbandingan 1:1 (Perlakuan II). Proses pengomposan dilakukan didalam kotak kompos dengan ukuran 40x40x60 cm dengan sistem aerasi passif selama 4 minggu dengan tiga kali ulangan. Data kuantitatif yang diuji pada penelitian ini meliputi kandungan N-total (%), C-Organik (%), P-total (%), K-total (%), rasio C/N, bahan organik (%), kadar air (%) dan reduksi kompos (%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kandungan unsur C, N, P, K, rasio C/N, bahan organik, dan kadar air sebelum pengomposan baik pada perlakuan I dan perlakuan II secara umum masih rendah dan hampir sama dengan bahan bakunya. Setelah proses pengomposan berlangsung kandungan unsur C, P, K, rasio C/N, bahan organik, secara umum menunjukkan adanya peningkatan, sedangkan kandungan unsur N relatif tetap. Hasil analisis statistik menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara komposisi kimia kompos pada perlakuan I dan perlakuan II baik sebelum dan setelah proses pengomposan
Pelatihan Pengelolaan Lingkungan Sekolah Berbasis Pupuk Organik Muhammad Junda; Muhammad Wiharto; Rosdiana Ngitung; Yusminah Hala; Oslan Jumadi
Sempugi: Journal of Community Service and Empowerment Vol. 1 No. 1 (2023): Sempugi Vol 1 No. 1 September 2023
Publisher : South Sulawesi Education Development (SSED)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/sempugi.v1i1.18

Abstract

Pekarangan sekolah merupakan suatu sarana yang dimikiki oleh suatu sekolah yang memiliki peranan penting, tidak hanya kebutuhan untuk berbagai aktivitas peserta didik seperti tempat kegiatan upacara, berolah raga tetapi juga pekarangan merupakan tempat menanam berbagai jenis tanaman hias dan tanaman apotek hidup yang dibutuhkan sebagai sumber laboratorium alam yang menyediakan bahan untuk praktek. Tujuan kegiatan pelatihan PKM ini untuk memberi wawasan, pengetahuan dan keterampilan kepada guru-guru SMP se Kab. Enrekang yang tergabung dalam MGMP mata pelajaran IPA tentang pengelolaan pekarangan sekolah yang berbasis pemanfaatan limbah organik yang dihasilkan oleh sekolah menjadi pupuk kompos dan pupuk cair. Metode yang digunakan adalah memberikan pelatihan berupa cara pembuatan pupuk kompos dan pupuk cair, bahan dan peralatan yang dibutuhkan dan cara pembuatan biostarter untuk mempercepat proses pengemposan dan pupuk cair. Hasil dari pelatihan PKM ini guru-guru SMP yang tergabung dalam MGMP mata pelajaran IPA telah memahami dan menguasai serta sudah terampil membuat kompos dan pupuk cair dengan bahan baku berupa limbah sekolah yaitu limbah organik. Selain itu peserta PKM juga telah mampu membuat biostrater dari bahan baku lokal dalam rangka mempercepat proses pengomposan dan pembuatan pupuk cair. Kegiatan pengabdian pada masyarakat seperti ini perlu ditidak lanjuti menjadi kegiatan lebih besar sehingga bisa digunakan produknya oleh masyarakat luas.
Comparison of IB-NOSA and Discovery Learning Models on Students' Scientific Literacy and Scientific Argumentation Skills in High School Nur Rezki Octavia; Rachmawaty Rachmawaty; Oslan Jumadi; Firdaus Daud; Nur Rezki Octavia; Rachmawaty Rachmawaty; Oslan Jumadi; Firdaus Daud; Hartono Hartono
Jurnal Pembelajaran, Bimbingan, dan Pengelolaan Pendidikan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um065.v6.i4.2026.9

Abstract

This study aimed to describe and compare the effects of the IB-NOSA and Discovery Learning models on scientific literacy and scientific argumentation skills of tenth-grade high school students, as well as to examine the significant differences between the two models in the context of Biology learning. This study was quasi-experimental research with a pretest–posttest nonequivalent control group design. The study involved two classes, namely Experimental Class I which was taught using the IB-NOSA model and Experimental Class II which was taught using the Discovery Learning model. The research sample consisted of 72 students of grade 10, with 36 students in Experimental Class I and 36 students in Experimental Class II. Data were collected using a scientific literacy test based on contextual stimuli and a scientific argumentation test in the form of essay questions assessed using the Toulmin Argumentation Pattern rubric. Before hypothesis testing, the data were analyzed using normality and homogeneity tests as prerequisite tests. Hypothesis testing was conducted using Analysis of Covariance (ANCOVA). The results showed that the Sig. value was 0.131 (p > 0.05), indicating that H₀ was accepted for the scientific literacy test, and the Sig. value was 0.004 (p < 0.05), indicating that H₀ was rejected. Thus, it can be concluded that the IB-NOSA and Discovery Learning models have a relatively similar effect on scientific literacy, but the IB-NOSA model is more effective in improving students’ scientific argumentation skills.