Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PENGARUH TERAPI RELAKSASI UNTUK MENGATASI KECEMASAN PADA IBU NIFAS Kalista, Efrosina Ludovika; Pramulya, Asmaurina; Audina, Marchella; Wijayati, Therecia
Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Vol 16 No 2 (2025): Jurnal Keperawatan dan Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan Muhammadiyah Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54630/jk2.v16i2.570

Abstract

Kecemasan akan berdampak pada saat postpartum serta berdampak buruk pada kesehatan lainnya. Kecemasan yang tidak ditangani dengan baik dapat berdampak negatif terhadap kesehatan ibu dan proses pengasuhan bayi. Terapi relaksasi merupakan salah satu metode non-farmakologis yang dapat membantu mengatasi kecemasan. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di PMB Titin Widyaningsih bahwa sebagian ibu sudah memiliki pengetahuan tentang terapi relaksasi namun tidak dilakukan saat dirumah. Penelitian ini menganalisis pengaruh terapi relaksasi untuk mengatasi kecemasan pada ibu nifas di PMB Titin Widyaningsih Pontianak tahun 2025. Desain penelitian yang digunakan adalah Pra-Eksperimen dengan pendekatan One Group Pretest-Posttest. Sampel penelitian berjumlah 36 responden ibu nifas. Pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner skala kecemasan (HARS) dan kuesioner sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) pemberian terapi relaksasi. Data dianalisis secara univariat dan bivariat. Uji statistik inferensial yang digunakan adalah Uji Paired Sample t-Test setelah dilakukan uji normalitas data. Hasil penelitian menunjukan Analisis univariat menunjukkan bahwa sebelum intervensi, mayoritas responden (61,1%) berada pada kategori Cemas Sedang. Setelah pemberian terapi relaksasi, terjadi penurunan tingkat kecemasan yang signifikan, di mana mayoritas responden (77,8%) berada pada kategori Cemas Ringan. Hasil uji bivariat Paired Sample t-Test menunjukkan adanya penurunan rata-rata skor kecemasan dari 45,28 (pretest) menjadi 32,17 (posttest). Nilai signifikansi yang diperoleh adalah p = 0,000 (p < 0,05). Ada pengaruh terapi relaksasi untuk mengatasi kecemasan pada ibu nifas (nilai p < 0,05). Kata Kunci: Terapi Relaksasi; Kecemasan; Ibu Nifas.
Pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) Pada Wanita Usia Subur di Wilayah Kerja Puskesmas Simpang Katis Kabupaten Bangka Tengah Tahun 2021 Audina, marchella; Suratmi, Tri; Samingan, Samingan
Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) Vol 7, No 1 (2023): Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS)
Publisher : LPPM Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52643/jukmas.v7i1.2642

Abstract

Kanker serviks merupakan penyebab kematian tertinggi setelah kanker payudara. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor resiko yaitu salah satunya hubungan seksual, wanita yang aktif secara seksual memiliki resiko tinggi mengidap kanker serviks. Kasus kanker serviks dapat ditekan dengan upaya pencegahan primer seperti meningkatkan atau intensifikasi kegiatan deteksi dini kanker serviks seperti pap Smears atau IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat). Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis Pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) Pada Wanita Usia Subur Diwilayah Kerja Puskesmas Simpang Katis Tahun 2021. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuaantitatif dan rancangan cross sectional. Populasi yang diambil dalam  penelitian ini yaitu wanita dengan usia subur (30-50 tahun) sebanyak 3,548 wanita. Jumlah sampel 108 responden. Teknik pengambilan sampel dengan cara Accidental Sampling. Analisis data menggunakan analisis statistik yang meliputi analisis univariat, analisis bivariat dan analisis multivariat. Hasil penelitian didapatkan sebanyak 78,7% wanita usia subur yang tidak pernah melakukan pemeriksaan sebelumnya. Hasil analisis bivariat yang berhubungan signifikan adalah tingkat pendidikan p 0,000, sikap p 0,000, keterpaparan informasi p 0,000, keterjangkauan jarak p 0,014, dukungan suami p 0,000, dukungan tenaga kesehatan p 0,020. Hasil analisis multivariat logistik menunjukan variabel yang dominan adalah tingkat pengetahuan dengan nilai p 0,008 dan OR tertinggi sebesar 38,797. Diharapkan agar para pemangku kepentingan seperti Dinas Kesehatan dan Puskesmas Simpang Katis untuk meningkatkan lagi penyediaan informasi (leaflet, poster, banner buku saku) mengenai kesehatan masyarakat khususnya kanker serviks dan pencegahan deteksi dini kanker serviks, memberikan penyuluhan kesehatan maupun sosialisasi di puskesmas, posyandu, posbindu dengan bantuan kader kesehatan, sehingga dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat.Kata Kunci : IVA, Pengetahuan, Perilaku, Wanita Usia Subur
Peningkatan peran ibu dalam penerapan pijat bayi mandiri sebagai upaya kesehatan dan tumbuh kembang anak Pramulya, Asmaurina; Audina, Marchella; Katharina, Telly; Susanna, Susanna; Astuti, Agnes Dwiana Widi
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2423

Abstract

Background:Toddler growth and development require a balance between nutrition and sensory stimulation, yet many parents focus solely on macronutrients. A lack of tactile stimulation, such as infant massage, risks inhibiting the optimization of brain synapses. In the community, the problem is exacerbated by mothers' reliance on traditional birth attendants or traditional massage therapists, which limits access to self-care due to the time and cost of these services. Purpose: To provide mothers with practical knowledge and skills in safely and correctly performing infant massage as a means of promoting healthy child development. Method: This community service activity was conducted in Kasromego Village, Beduai District, Sanggau Regency, West Kalimantan Province on Thursday, November 13, 2025. Ten mothers with infants participated. The educational intervention involved a lecture method supported by PowerPoint presentations and leaflets. The activity continued with a discussion and a live demonstration of how to properly perform infant massage. Evaluation of the activity involved observation and mentoring, with respondents directly practicing infant massage simulations on their infants. Descriptive analysis was conducted to assess the respondents' level of knowledge during the activity. Results: Data showed that 80.0% of respondents were housewives, 8 (80.0%) were only junior high school graduates. Most of the respondents' babies were second children (70.0%), and the majority of respondents' babies, 60.0%, were between 8 and 9 months old. There was an increase in mothers' knowledge and confidence in performing infant massage independently. Most participants were able to perform simulation practices directly on their babies. Conclusion: Community service activities, including education, training, and mentoring regarding proper infant massage, were very effective in increasing mothers' knowledge and confidence in performing infant massage independently. This activity also increased mothers' awareness that massaging their babies by their own mothers will influence the emotional or psychological connection between mother and baby and help the child grow and develop optimally according to their age. Suggestion: It is hoped that relevant health institutions will conduct educational and training activities on proper infant massage routinely and in a wider area, so that the health benefits of independent families can translate into optimal child health and development for the wider community. Keywords: Child development; Infant massage; Maternal empowerment; Sensory stimulation Pendahuluan: Tumbuh kembang balita menuntut keseimbangan antara nutrisi dan stimulasi sensorik, namun banyak orang tua hanya fokus pada gizi makro. Kurangnya stimulasi taktil, seperti pijat bayi, berisiko menghambat optimalisasi sinapsis otak. Di masyarakat, masalah diperburuk oleh ketergantungan ibu pada dukun bayi atau pijat tradisional, yang membatasi akses penanganan mandiri karena bergantung pada waktu dan biaya layanan tersebut. Tujuan: Untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan praktis pada ibu dalam melakukan stimulasi secara aman dan benar sebagai upaya kesehatan tumbuh kembang anak. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Desa Kasromego, Kecamatan Beduai, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat pada hari Kamis 13 November 2025. Melibatkan 10 orang ibu yang memiliki bayi sebagai responden. Intervensi edukasi melalui metode ceramah yang dibantu dengan media powerpoint dan leaflet. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan memberikan praktik demonstrasi secara langsung kepada ibu mengenai cara melakukan pijat bayi dengan baik dan benar. Evaluasi kegiatan dengan pendekatan observasi dan pendampingan, dimana responden melakukan praktik simulasi pijat bayi kepada bayi nya secara langsung. Analisa deskriptif dilakukan sebagai penilaian tingkat pengetahuan responden selama mengikuti kegiatan. Hasil: Mendapatkan data bahwa sebesar 80.0% responden memiliki status pekerjaan sebagai IRT, sebanyak 8 orang (80.0%) hanya lulusan SMP, Sebagian besar bayi responden adalah anak ke 2 (70.0%) dan mayoritas usia bayi responden yaitu sebesar 60.0% berada di usia 8-9 bulan. Terdapat peningkatan pengetahuan serta kepercayaan diri para ibu dalam melakukan pijat bayi secara mandiri. Sebagian besar peserta dapat melakukan praktik simulasi secara langsung pada bayinya. Simpulan: Kegiatan pengabdian berupa edukasi, pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat mengenai memijat bayi dengan baik dan benar, sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan serta kepercayaan diri para ibu dalam melakukan pijat bayi secara mandiri. Kegiatan ini juga memberikan peningkatan kesadaran para ibu bahwa pemijatan terhadap bayi oleh ibunya sendiri akan memberikan pengaruh terhadap hubungan batin atau hubungan kejiwaan antara ibu dengan bayi serta menjaga anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai umurnya. Saran: Diharapkan lembaga kesehatan terkait, untuk kegiatan edukasi dan pelatihan mengenai pijat bayi dengan baik dan benar dapat dilakukan secara rutin dan wilayah yang lebih luas, sehingga manfaat kesehatan keluarga mandiri dapat mewujudkan kesehatan tumbuh kembang anak yang optimal kepada msyarakat yang lebih luas.
Implementasi edukasi birth plan berbasis video untuk penguatan kesiapan ibu hamil trimester 3 menjelang persalinan Audina, Marchella; Pipin, Apriliana; Trivina, Trivina; Susanna, Susanna
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 2 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i2.2910

Abstract

Background: Third-trimester pregnant women are a group that requires optimal preparation for childbirth, but understanding of birth plans remains low. Some mothers lack understanding of delivery options, danger signs, and the role of the family, leading to increased anxiety and a lack of preparedness for childbirth. The limited availability of conventional educational media is a limiting factor. Therefore, video-based education is seen as an innovative solution to improve the knowledge and preparedness of pregnant women. Purpose: To improve the knowledge and preparedness of third-trimester pregnant women for childbirth, strengthen family support, and improve the quality of antenatal education. Method: This community service activity was conducted at the Nirwana Integrated Health Post (Posyandu) in Sungai Kakap Village, within the Sungai Kakap Community Health Center (Puskesmas), West Kalimantan Province, Indonesia, and was attended by 20 third-trimester pregnant women. The material was delivered through lectures and audiovisual presentations on birth plans, covering childbirth preparation, birth planning, and managing third-trimester danger signs. Evaluation was conducted through participant observation and feedback during the educational activity. The evaluation results are presented descriptively to measure the participants' understanding and achievement during the educational activity. Results: The activity proceeded well and smoothly with the active participation of all participants. The average age of participants was 28.5 years with a standard deviation of ±3.15 years. The majority of participants were in the 26-30 age range (15 (75.0%). The majority of participants were primiparous (17 (85.0%). Descriptively, participants achieved achievements in physical preparation, emotional control, and risk understanding. Conclusion: The video-based birth plan education program for pregnant women in their third trimester was effective in increasing their knowledge and preparedness for childbirth. Video media proved to be an engaging and easy-to-understand educational tool for improving the quality of antenatal care, particularly in preparing pregnant women in their third trimester for childbirth with greater physical and mental readiness. Suggestion: Healthcare workers are encouraged to utilize video as an educational tool for ongoing antenatal care. Pregnant women, especially those in their third trimester, can also use educational videos independently and repeatedly to better understand the birthing process and contribute to improving the health of the wider community. Keywords: Antenatal education; Birth planning; Third trimester of pregnancy; Video-based education Pendahuluan: Ibu hamil trimester 3 merupakan kelompok yang membutuhkan persiapan optimal menjelang persalinan, namun masih ditemukan rendahnya pemahaman tentang birth plan. Sebagian ibu belum memahami pilihan persalinan, tanda bahaya, serta peran keluarga, sehingga berdampak pada meningkatnya kecemasan dan kurangnya kesiapan menghadapi persalinan. Keterbatasan media edukasi yang masih bersifat konvensional menjadi salah satu faktor penghambat. Oleh karena itu, edukasi berbasis video dipandang sebagai solusi inovatif untuk meningkatkan pengetahuan dan kesiapan ibu hamil. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan kesiapan ibu hamil trimester 3 menjelang persalinan, memperkuat dukungan keluarga, dan memperbaiki kualitas edukasi antenatal. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Posyandu Nirwana Desa Sungai Kakap dimana masuk dalam wilayah kerja Puskesmas Sungai kakap, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia yang diikuti 20 peserta ibu hamil trimester 3. Materi disampaikan melalui ceramah dan presentasi aplikasi audio visual mengenai birth plan yang meliputi persiapan persalinan, perencanaan persalinan dan penanganan tanda bahaya kehamilan trimester 3. Evaluasi dilakukan melalui observasi partisipasi peserta dan umpan balik selama kegiatan edukasi. Hasil evaluasi disajikan secara deskriptif sebagai pengukuran peningkatan pemahaman dan pencapaian peserta selama mengikuti kegiatan edukasi. Hasil: Pelaksanaan kegiatan berjalan dengan baik dan lancar dengan partisipasi aktif dari seluruh peserta. Mendapatkan bahwa usia rata-rata peserta adalah 28.5 tahun dengan standar deviasi ±3.15 tahun dan sebagian besar peserta berada di rentang usia 26-30 tahun yaitu sebanyak 15 (75.0%). Sedangkan mayoritas status paritas peserta adalah primipara yaitu sebanyak 17 (85.0%). Secara deskriptif, peserta mendapatkan pencapaian dalam aspek persiapan fisik, aspek pengendalian emosional, dan pemahaman aspek risiko. Simpulan: Kegiatan edukasi birth plan berbasis video pada ibu hamil trimester 3 berjalan dengan baik dan efektif dalam meningkatkan pengetahuan serta kesiapan ibu dalam menghadapi persalinan. Media video terbukti menjadi sarana edukasi yang menarik dan mudah dipahami dalam meningkatkan kualitas pelayanan antenatal, khususnya dalam mempersiapkan ibu hamil trimester 3 menghadapi persalinan dengan lebih siap secara fisik dan mental. Saran: Diharapkan kepada tenaga kesehatan untuk memanfaatkan media video sebagai sarana edukasi dalam pelayanan antenatal secara berkelanjutan. Ibu hamil khususnya trimester 3 juga dapat memanfaatkan media video edukasi secara mandiri dan berulang agar lebih memahami proses persalinan sehingga dapat berkontribusi meningkatkan kualitas kesehatan komunitas yang lebih luas.
PEMBERIAN REBUSAN SARI KUNYIT (CURCUMA LONGA LINN) PADA REMAJA PUTRI DENGAN FLOUR ALBUS PATOLOGIS PASCA MENSTRUASI Pramulya, Asmaurina; Renasari Presty, Marsela; Audina, Marchella; Susanna, Susanna
Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Vol 17 No 1 (2026): Jurnal Riset Keperawatan dan Kesehatan
Publisher : Institut Teknologi dan Kesehatan Muhammadiyah Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54630/jk2.v17i1.621

Abstract

Background: Vaginal discharge in women in Indonesia reaches 75%, where some women in Indonesia have experienced vaginal discharge, either once or more than once. Every year, cases of vaginal discharge in Indonesia continue to increase. In women aged 15–24 years, 31.8% experience vaginal discharge. Adolescent girls have a higher risk of experiencing vaginal discharge, cases of vaginal discharge that occur in women as much as 50%. To overcome vaginal discharge, there is a non-pharmacological method, namely giving turmeric drinks while maintaining personal hygiene genitalia is effective in reducing vaginal discharge. Objective: This study aims to determine the effect of giving boiled turmeric juice (Curcuma Longa Linn) to adolescent girls in overcoming pathological post-menstrual flour albus. Methods: This type of research is quantitative using a quasi-experimental method with a One Group Pre test–Post test Design research design. The population in this study were 228 adolescent girls at SMK Negeri 5 Pontianak. The number of samples was 34 adolescent girls with a purposive sampling technique. The instruments used were an observation sheet and SOP (Standard Operating Procedure) for making boiled turmeric juice. Data collection was conducted during the intervention for 7 consecutive days (pretest and posttest). Results: The results of the univariate analysis showed that before the intervention, 34 (100%) respondents had pathological flour albus. After the intervention, 23 (67.64%) respondents experienced physiological flour albus. Bivariate analysis using the Wilcoxon Signed Rank Test obtained a Z-score of -5.124 with a significance level (Asymp. Sig. 2-tailed) of 0.000. This indicates a statistically significant difference before and after the intervention. Conclusion: The effect of giving boiled turmeric juice (Curcuma Longa Linn) to adolescent girls in overcoming pathological post-menstrual flour albus.