Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Paradoks Kemakmuran: Perbandingan Sistem Otoritarisme Negara Singapura dan Myanmar Nisa, Bella Saidah Hoerul; Putri, Shezy Solevina; Syabani, Rahmah Nur; Erlina, Dewi; Pebriani, Dinda; Nurlia, Elly
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 3, No 9 (2025): Oktober 2025
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.17514503

Abstract

Comparative political studies confront a fundamental paradox: the similarity of authoritarian systems between two countries does not guarantee identical economic outcomes. In Southeast Asia, Singapore (implementing an authoritarian system, lacking natural resources but prosperous) and Myanmar (implementing an authoritarian system, rich in natural resources but experiencing economic crisis) are two examples. This study aims to analyze the disparity in economic outcomes using Douglass North's institutional theory. This study employed a qualitative method with a case study approach, and data collection was conducted through literature review. The findings suggest that Myanmar implements a hard authoritarianism (extractive state) where informal institutions (military patronage and kleptocracy) cripple formal institutions, creating destructive incentives. Conversely, Singapore implements a soft authoritarianism (developmental state) where informal institutions (meritocracy and anti-corruption) strengthen pro-market formal institutions, encouraging productive investment. Thus, the primary determinant behind the extreme disparity in prosperity between these two countries is not the type of political regime but rather the quality and congruence of institutions.
Triple Minority dalam Ruang Patriarki: Gendered Leadership Sherly Tjoanda sebagai Gubernur Maluku Utara Nisa, Bella Saidah Hoerul; Putri, Shezy Solevina; Indriyany, Ika Arinia
Journal of Gender Equality and Social Inclusion (gesi) Vol. 5 No. 1 (2026): April 2026 (Inprogress)
Publisher : Pusat Studi GESI - UWP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38156/gesi.v5i1.211

Abstract

Kepemimpinan perempuan di Indonesia masih menghadapi hambatan struktural patriarki yang kuat, tercermin dari keterlibatan perempuan sebagai calon kepala daerah di Pilkada 2024 hanya mencapai 5,14%. Di tengah lanskap tersebut, Sherly Tjoanda sebagai Gubernur Maluku Utara menyandang status triple minority di tengah ruang patriarki dan sosioreligius yang tinggi. Penelitian ini bertujuan mengkaji manifestasi gendered leadership dalam praktik kepemimpinan Sherly Tjoanda sebagai triple minority. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus dari Creswell dengan teori Gendered Leadership dari Judy B. Rosener. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat indikator interactive leadership dalam gendered leadership memiliki keterikatan yang saling menguatkan. Encouraging participation termanifestasi melalui konsistensi dialogis, sementara sharing power and information dilakukan melalui transformasi media sosial dan transparansi anggaran. Enhancing others self-worth terbukti dalam kebijakan beasiswa, kesehatan, dan pemberdayaan UMKM, serta energizing others melalui narasi “Maluku Utara Bangkit”. Kepemimpinan interaktif ini berhasil meningkatkan IPM sebesar 0,95% dan tingkat kepuasan publik mencapai 85,1% dalam satu tahun. Disimpulkan bahwa Sherly Tjoanda berhasil menavigasi ruang patriarki dan sosioreligius melalui aksi nyata yang memperkuat legitimasi publiknya. Keberhasilan ini membuktikan bahwa latar belakang minoritas bukan penghalang bagi efektivitas kepemimpinan di ruang publik yang maskulin.