Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Penanganan Dismenorea Pada Remaja Putri di SMA N 2 Kuta Utara Ni Luh Neta Surastri Maharani; Ni Ketut Citrawati; Ni Kadek Yuni Lestari
Jurnal Kesehatan Madani Medika Vol 16 No 1 (2025): Jurnal Kesehatan Madani Medika
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Madani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36569/jmm.v16i1.449

Abstract

Masa remaja merupakan fase penting dalam kehidupan seseorang yang ditandai dengan perubahanfisik, emosional, dan sosial. Pada remaja putri, pubertas ditandai oleh kematangan organ reproduksi dankemampuan untuk bereproduksi. Kemampuan ini dapat dilihat dari tanda-tanda pertumbuhan primer,seperti menstruasi pertama atau menarche. Menstruasi yang dirasakan perempuan yang satu dengan yanglain memiliki sifat dan tingkat rasa nyeri berbeda, mulai dari nyeri ringan sampai berat, kondisi ini yangdisebut dengan dismenore. Penanganan dismenore dapat dilakukan dengan menggunakan teknikfarmakologi maupun nonfarmakologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkatpengetahuan dan penanganan dismenore pada remaja putri di SMA Negeri 2 Kuta Utara. Jenis penelitianini yaitu deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Teknik sampling yang digunakanadalah probability sampling jenis proportioned stratified random sampling dan didapatkan jumlahresponden sebanyak 231 orang. Hasil penelitian didapatkan sebagian besar tingkat pengetahuan dalamkategori baik sebanyak 152 orang (65,8%), sedangkan untuk penanganan dismenore mayoritas respondenmemiliki penanganan dismenore yang baik sebanyak 101 orang (43,7%). Pemahaman mengenaidismenore dan metode penanganannya merupakan aspek penting bagi remaja putri. Salah satu strategiuntuk meningkatkan pengetahuan mereka adalah melalui edukasi yang bersifat penyuluhan ataupendekatan langsung, seperti mengakses berbagai sumber informasi, berkonsultasi dengan tenagakesehatan, serta berdiskusi dengan keluarga maupun teman sebaya.
Optimalisasi Peran Kader Dan Ibu Balita Dalam Membantu Mensukseskan Program Gerakan Peduli Asi Perah “Gali Asi” Di Siangan, Gianyar, Bali Ni Ketut Citrawati; Sang Ayu kt Candrawati; Ni komang Sukra Andini; Putu Gede subhaktiyasa
ABDIMAS Madani Vol 7 No 02 (2025): Jurnal Abdimas Madani
Publisher : LPPM STIKES Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36569/abdimas.v7i02.166

Abstract

Pemberian air susu ibu secara eksklusif merupakan makanan yang terbaik untuk bayi. Air susu ibu (ASI) di berikan selama 6 bulan tanpa makanan tambahan lainnya dan di lanjutkan hingga umur 2 tahun, pemberian ASI dapat mengurangi angka kematian bayi dan dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pada anak. Pemberian ASI perah (ASIP) merupakan salah satu upaya pendukung untuk mensukseskan pemberian ASI eksklusif. Kurangnya pengetahuan ibu tentang pemberian ASI perah memerlukan dukungan dari berbagai pihak, baik keluarga maupun lingkungan sekitar. Peran kader kesehatan dapat membantu meningkatkan upaya pemberian ASI eksklusif melalui pemberian ASI Perah (ASIP) sehingga ibu menyusui tidak perlu menggantikan ASI dengan susu formula saat ada kegiatan diluar rumah maupun bekerja. Pada saat ini masih banyak ditemukan ibu-ibu yang tidak mmberikan asi eksklusif kepada bayinya karena alasan bekerja. perlu tindak lanjut berupa penguatan keterampilan penyampaian informasi pengelolaan ASIP. Maka dari itu, beberapa pihak yang memiliki kompetensi dan kewenangan dapat berperan dalam kegiatan penguatan keterampilan pengelolaan ASIP pada kader setempat.
Gambaran Pengetahuan, Sikap, Motivasi Ibu Dan Dukungan Suami Berkaitan Dengan Pemberian Asi Eksklusif Pada Bayi Usia 6-12 Bulan Ni Ketut Citrawati; I Dewa Gede Candra Dharma
Jurnal Kesehatan Vol 14 No 2 (2025): JURNAL KESEHATAN
Publisher : STIKES Ngesti Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46815/jk.v14i1.354

Abstract

Exclusive breastfeeding has benefits for both babies and mothers. For babies, the nutrients contained in breast milk contain bioactive components that can protect babies from infection, thereby reducing the risk of infections in children such as pneumonia, diarrhea, and intestinal diseases. The purpose of this study was to determine the knowledge, attitudes, motivation of mothers, and support of husbands related to exclusive breastfeeding in babies aged 6-12 months. The method used in this study was descriptive research with a cross-sectional approach. This study was conducted at Ganesha General Hospital from February to March 2024. The subjects in this study were 30 mothers who had infants aged 6-12 months. Data collection was carried out using purposive sampling based on inclusion and exclusion criteria. The results obtained on mothers' knowledge about exclusive breastfeeding showed that 30 respondents (100%) had good knowledge. Regarding mothers' attitudes towards exclusive breastfeeding, the majority of mothers had a fairly good attitude, namely 22 respondents (73.3%). The majority of mothers had good motivation in providing exclusive breastfeeding, namely 30 people (100%). In terms of support from husbands, 27 respondents (90%) received good support. In terms of the attitude of health workers in providing information related to exclusive breastfeeding, most respondents received a good attitude, namely 20 respondents (67%). Conclusion: The majority of mothers have good knowledge, support from their husbands, and motivation. The attitudes of mothers and health workers are considered adequate. It is hoped that the community will be able to maintain their knowledge, support from husbands, and motivation in providing exclusive breastfeeding, as well as improve the attitudes of mothers and health workers regarding exclusive breastfeeding.
Literature Review of Technology-Based Therapy for Schizophrenia Sufferers Ni Ketut Citrawati; Dewa Gede Candra
JURNAL KEPERAWATAN DAN FISIOTERAPI (JKF) Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Keperawatan dan Fisioterapi (JKF)
Publisher : Fakultas Keperawatan dan Fisioterapi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35451/jkf.v7i2.2577

Abstract

Schizophrenia is a type of mental disorder characterized by distortions in thinking, perception, emotion, language, sense of self, and behavior which can be cured if given effective psychosocial treatment and therapy by improving life skills and social skills training. This article aims to find out what technology-based therapies can be given to people with schizophrenia to help their healing process. Literature review was taken using three data bases namely Science Direct, EBSCOhost, and Proquest with the keywords Schizophrenia, Cognitive Therapy, Technology-Based Therapy, Computer Therapy. The PRISMA method was used for selection by establishing inclusion and exclusion criteria. In the end, based on the above criteria, 10 articles were determined to be analyzed. Technology-based therapy for people with schizophrenia is one of the main focuses that needs to be considered when undergoing treatment, both in hospitals, health centers, rehabilitation centers or at the patient's home to support the healing process of people with schizophrenia. There are several technologies that can be given to people with schizophrenia based on technology, either in the form of hardware or software. The most important thing is, the accuracy of choosing the therapy that will be given to the patient before it is given to the patient. With this technology, it can be used as a solution for providing therapy to schizophrenics during this pandemic.
GAMBARAN PENGETAHUAN ANAK USIA SEKOLAH TENTANG VULVA HYGIENE SEBAGAI PENCEGAHAN KEPUTIHAN Putu Wira Cahya Putri; Ni Ketut Citrawati; Ni Komang Sukra Andini
Jurnal Penelitian Keperawatan Vol 12 No 2 (2026): Jurnal Penelitian Keperawatan
Publisher : STIKES RS Baptis Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32660/jpk.v12i2.1023

Abstract

Vulva hygiene merupakan praktik pemeliharaan kebersihan organ reproduksi eksternal yang berperan penting dalam pencegahan gangguan kesehatan reproduksi, khususnya keputihan. Anak usia sekolah berada pada fase pubertas awal yang ditandai dengan perubahan biologis sehingga memerlukan pemahaman yang adekuat terkait perawatan kebersihan diri. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan anak usia sekolah tentang vulva hygiene sebagai upaya pencegahan keputihan di SD Saraswati 5 Denpasar. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan jumlah sampel 129 siswi kelas IV–VI yang dipilih melalui teknik proporsional stratified sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat melalui distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 10 tahun sebanyak 48 responden (37,2%), sebanyak 62 responden (48,1%) mengalami keputihan, dan 25 responden (19,4%) tidak mengetahui kondisi yang dialaminya. Sumber informasi terbanyak berasal dari internet sebanyak 37 responden (28,7%). Tingkat pengetahuan responden sebagian besar berada pada kategori baik sebanyak 119 responden (92,2%), namun masih ditemukan kekeliruan dalam praktik vulva hygiene, terutama pada teknik membasuh yang benar. Tingkat pengetahuan anak usia sekolah tentang vulva hygiene yang tergolong baik dipengaruhi oleh usia, paparan informasi dan pengalaman terkait perubahan fisiologis pada masa pubertas.
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI SEKOLAH DASAR TENTANG MENARCHE DI SD NO 1 KEROBOKAN KAJA Komang Ayu Purnama Yanti; Ni Ketut Citrawati; Ni Kadek Yuni Lestari
Jurnal Penelitian Keperawatan Vol 12 No 2 (2026): Jurnal Penelitian Keperawatan
Publisher : STIKES RS Baptis Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32660/jpk.v12i2.1024

Abstract

Menarche merupakan fase penting dalam perkembangan remaja putri yang memerlukan kesiapan pengetahuan sejak usia sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan remaja putri sekolah dasar tentang menarche di SD No. 1 Kerobokan Kaja. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan sampel 90 siswi kelas IV–VI yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner pengetahuan tentang menarche yang telah diuji validitas dan reliabilitas, kemudian dianalisis secara univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden sebagian besar berada pada kategori cukup, dengan variasi tingkat pengetahuan berdasarkan usia, tingkat kelas, status menarche, dan sumber informasi. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa remaja putri sekolah dasar telah memiliki pemahaman dasar tentang menarche, namun masih memerlukan penguatan edukasi kesehatan reproduksi agar kesiapan menghadapi menarche dapat ditingkatkan secara optimal.
HUBUNGAN FREKUENSI MENGKONSUMSI MAKANAN SIAP SAJI (FAST FOOD) DENGAN KEJADIAN DISMENORE PADA REMAJA PUTRI Ni Made Susanti Dwi Utami; Ni Ketut Citrawati; Ni Luh Gede Intan Saraswati
Jurnal Penelitian Keperawatan Vol 12 No 2 (2026): Jurnal Penelitian Keperawatan
Publisher : STIKES RS Baptis Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32660/jpk.v12i2.1025

Abstract

Dismenore merupakan keluhan umum pada remaja putri yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Konsumsi makanan siap saji yang tinggi lemak jenuh, natrium, dan zat aditif diduga berperan dalam meningkatkan produksi prostaglandin sehingga memicu nyeri menstruasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui keterkaitan frekuensi konsumsi fast food dengan kejadian dismenore pada remaja putri di SMA Negeri 1 Abiansemal. Penelitian menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 237 siswi kelas X–XII yang dipilih secara purposive sampling dari total populasi 582 siswi. Data dikumpulkan melalui kuesioner Food Frequency Questionnaire (FFQ) dan kuesioner dismenore, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil menunjukkan sebagian besar responden sering mengkonsumsi fast food (84,8%) dan mengalami dismenore (70,9%). Uji Chi-Square menghasilkan nilai p-value = 0,001 (p < 0,05), yang menunjukkan adanya keterkaitan bermakna antara frekuensi konsumsi fast food dengan kejadian dismenore. Hal ini menggambarkan bahwa semakin sering remaja putri mengkonsumsi fast food maka semakin tinggi risiko mengalami dismenore.
The Effect Of Five-Finger Hypnosis Therapy On Improving Adolescent Mental Health At State Senior High School 2 Gianyar I Dewa Gede Candra Dharma; Ni Ketut Citrawati
Jurnal Gema Keperawatan Vol 19 No 1 (2026): Jurnal Gema Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33992/jgk.v19i1.5225

Abstract

Adolescence is a critical developmental stage experienced by every individual, characterized by significant physical, biological, socio-emotional, and cognitive changes. Stress during adolescence commonly arises from the inability to adapt effectively to internal and external life demands, resulting in both psychological and physiological disturbances. Five-finger hypnosis therapy is a self-hypnosis intervention that induces deep relaxation, thereby helping to reduce mental tension and psychological burden. This study aimed to analyze the effect of five-finger hypnosis therapy on stress levels among adolescents. A quantitative quasi-experimental pretest-posttest design was employed, involving 40 tenth-grade high school students, with 20 participants assigned to the intervention group and 20 to the control group. Participants were recruited using a consecutive sampling technique. Stress levels were measured before and after the intervention using the Depression Anxiety Stress Scales (DASS) questionnaire. The intervention group received five-finger hypnosis therapy in four 10-minute sessions over one month, while the control group received no intervention. The findings showed that the control group remained predominantly at a moderate stress level before and after the study (60,0%). In contrast, the intervention group initially demonstrated predominantly severe stress (70,0%), which decreased to predominantly mild stress (90.0%) following the intervention. The Mann–Whitney test revealed a statistically significant difference in post-intervention stress levels between the intervention and control groups (p = 0,001; p < 0,05). These findings indicate that five-finger hypnosis therapy is effective in reducing stress levels among adolescents.