Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Feeding Practice Education For Mothers As An Effort To Prevent Stunting Metri, Deni; Puspitarini, Zenni
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 10, No 11 (2024): Volume 10 No.11 November 2024
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v10i11.18105

Abstract

Latar Belakang: Stunting pada  anak dapat berkembang selama dua tahun pertama kehidupan dan sebagian besar disebabkan kurangnya asupan gizi. Stunting mempengaruhi sekitar seperempat dari anak di bawah lima tahun di seluruh dunia . Unicef menyebutkan  bahwa terdapat berbagai hambatan yang menyebabkan tingginya angka balita stunting usia 6-23 bulan di Indonesia, salah satu hambatan utamanya adalah pengetahuan yang tidak memadai dan praktik-praktik gizi yang tidak tepat. Peranan ibu sebagai pengasuh utama anaknya sangat diperlukan mulai dari pembelian hingga penyajian makanan. Jika pendidikan dan pengetahuan ibu rendah akibatnya ia tidak mampu untuk memilih hingga menyajikan makanan untuk anak dalam rangka memenuhi syarat gizi seimbang.  Informasi dalam pendidikan kesehatan (edukasi) dapat  mengubah  pola  pikir  menjadi  lebih baik sehingga terjadi perubahan sikap dalam pemberian makan.Tujuan: Menganalisis pengaruh edukasi feeding practice pada ibu dalam pemberian makanan pada anakMetode: Penelitian ini menggunakan metode  quasy experiment. Desain penelitian yang digunakan yaitu one-group pretest-post test design. Populasi penelitian adalah ibu yang mempunyai anak usia 6 -24 bulan di wilayah kerja puskesmas Kotabumi II Lampung jumlah total populasi.  Analisis data dengan univariat dan bivariat (uji T)Hasil: Terdapat  peningkatan pada rerata skor pemberian dari 6,91 menjadi 13,36. ada perbedaan nilai praktik pemberian makan bayi dan anak sebelum dan setelah diberikan adukasi (p<0.05).Kesimpulan: Edukasi feeding practice  dapat meningkatkan pemberian makan yang baik dalam upaya mencegah stunting.Saran: Meningkatkan pemberian edukasi  gizi  sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap dalam pemenuhan  nutrisi  dan dapat menjadi salah satu intervensi alternatif untuk  meningkatkan  perilaku  kesehatan dalam   mencegah   stunting.   Kata kunci edukasi, feeding practice, stunting ABSTRACT Background: Stunting in children can develop during the first two years of life and is mostly caused by lack of nutritional intake and infectious diseases. Stunting affects around a quarter of children under five years old worldwide. Unicef Indonesia's study shows that there are various obstacles that cause the high number of stunted toddlers aged 6-23 months in Indonesia, one of the main obstacles is inadequate knowledge and inappropriate nutritional practices. The mother's role as the main caregiver of her child is very necessary, from purchasing to serving food. If the mother's education and knowledge is low, the result is that she is unable to choose and serve food to the child in order to meet the requirements for balanced nutrition.  Information in health education (education) can change thought patterns for the better, resulting in changes in attitudesObjective:  Analyzing the influence of feeding practice education on mothers in  providing food to children.Method: This study This type of research is a quasi experiment. The research design used is one-group pretest-post test design. The research population was mothers who had children aged 6 -24 months in the working area of the Kotabumi II Lampung community health center, the total population.  Data analysis using univariate and bivariate (T test).Results: There was an increase in the mean giving score from 6.91 to 13.36. There was a difference in the value of infant and child feeding practices before and after being given adulation (p<0.05)Conclusion: The results showed that Feeding practice education can improve good feeding in an effort to prevent stunting.Suggestion: Increasing the provision of nutrition education so that it can increase knowledge and attitudes in fulfilling nutrition and can be an alternative intervention to improve health behavior in preventing stunting Keywords: aducation, feeding practice, stunting
Penerapan Terapi Autogenik Pada Pasien Skizofrenia Dengan Masalah Keperawatan Ansietas Di Puskesmas Kotabumi ILampung Utara Fika Trisyani; Madepan Mulia; Deni Metri
Jurnal Dunia Ilmu Kesehatan (JURDIKES) Vol. 2 No. 2 (2024): JURDIKES - DESEMBER
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/jurdikes.v2i2.432

Abstract

Ansietas adalah gangguan mental emosional yang bermanifestasi sebagai gangguan kecemasan dan depresi sehingga dapat mempengaruhi pasien dalam menjalani proses penyembuhan, relaksasi autogenik diketahui menjadi salah satu dari terapi autogenik yang dapat memberikan efek positif terhadap kondisi kecemasan yang dialami oleh pasien. Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran tanda dan gejala pasien ansietas setelah penerapan terapi autogenik di Wilayah Kerja Puskesmas Kotabumi I Lampung Utara. Metode penelitian dalam bentuk studi kasus berupa penerapan terapi autogenik terhadap 1 orang pasien skizofrenia dengan masalah keperawatan ansietas di Wilayah Kerja Puskesmas Kotabumi I Lampung Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah diberikan tindakan keperawatan berupa penerapan terapi autogenik terjadi penurunan tanda dan gejala ansietas sebesar 42%. Perawat diharapkan dapat memberikan tindakan keperawatan terapi autogenik kepada pasien ansietas.
Adolescent Characteristics And The Role Of Friends In Behavioral Efforts Prevention Of Hiv/Aids Metri, Deni; Hasan, Amrul
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 11, No 3 (2025): Volume 11 No 3 Maret 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v11i3.19798

Abstract

 ABSTRAK : KARAKTERISTIK REMAJA DAN PENGARUH TEMAN SEBAYA  DALAM UPAYA  PENCEGAHAN PENULARAN HIV AIDS Latar Belakang: Remaja adalah masa dimana tanda-tanda seksual sekunder seseorang sudah berkembang mengalami kematangan secara fisik, psikologis, maupun sosial.  Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-18 tahun. Pada usia itu permasalahan yang sering terjadi pada remaja  yang dikenal dengan  Tiga Permasalahan Kesehatan Reproduksi atau yang disebut juga dengan TRIAD KRR yaitu seksualitas, HIV/AIDS dan NAPZA. Adanya peningkatan Kasus HIV/AIDS pada remaja di Indonesia sebesar 3,8 % pada tahun 2022  dari pada tahun sebelumnya.  Kementerian Kesehatan menyebutkan  sekitar 1.929  pada rentang usia  15-24. tahun yang terinfeksi HIV. Jenis kelamin menentukan  perilaku pencegahan HIV aids. Perilaku positif terhadap pencegahan HIV/AIDS paling banyak dilakukan jenis kelamin perempuan dari pada laki-laki. Pendidikan sangat diperlukan untuk mendapatkan informasi dan . Semakin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi (Wawan 2010).  Menurut teori L.Green di Notoadmodjo ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku pencegahan HIV/AIDS pada remaja yaitu faktor predisposisi (jenis kelamin, tingkat pendidikan)  dan faktor pendorong peran teman sebaya dalam upaya pencegahan penularan HIV Aids. Tujuan: Menganalisis karakteristik remaja dan peran teman sebaya dalam upaya pencegahan penularan HIV AidsMetode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, dengan pendekatan atau desain cross sectional study.  Populasi penelitian adalah Ramaja yang berusia 10-18 tahun di wilayah kerja puskesmas Negara Ratu  Lampung Utara Jumlah total populasi. 141 orang. Sampel  pada penelitian ini menggunakan  rumus Vincent Gaspersz, didapatkan 57 responden. Analisis data dengan univariat dan bivariat. Uji statistik yang digunakan adalah chi-square dengan confidence interval 95%,  digunakan batas kemaknaan α = 0,05.Hasil: ada hubungan yang bermakna antara peran teman sebaya dengan perilaku pencegahan penularan HIV Aids.Kesimpulan:  peran teman sebaya berhubungan dengan perilaku pencegahan HIV Aids pada remajaSaran: Meningkatkan pemberian edukasi tentang perilaku pencegahan HIV Aids dan bahaya HIV pada remaja  sehingga dapat meningkatkan pengetahuan sebagai upaya pencegahan HIV Aids dan dapat menjadi salah satu intervensi alternatif untuk  meningkatkan  perilaku  kesehatan dalam   mencegah  HIV Aids   Kata kunci , karakteristik, peran teman, pencegahan HIV Aids ABSTRACT Background:: Adolescence is a period when a person's secondary sexual characteristics have developed and become physically, psychologically and socially mature.  According to the Republic of Indonesia Minister of Health Regulation Number 25 of 2014, teenagers are residents in the age range 10-18 years. At that age, the problems that often occur in teenagers are known as the Three Reproductive Health Problems or also known as the TRIAD KRR, namely sexuality, HIV/AIDS and narcotics. There will be an increase in HIV/AIDS cases among teenagers in Indonesia by 3.8% in 2022 compared to the previous year.  The Ministry of Health said around 1,929 were in the age range 15-24. years infected with HIV. Gender determines HIV AIDS prevention behavior. Positive behavior towards preventing HIV/AIDS is most often carried out by women than men. Education is very necessary to obtain information and . The higher a person's education, the easier it is to receive information (Wawan 2010).  According to L.Green's theory in Notoadmodjo, there are several factors that influence HIV/AIDS prevention behavior in adolescents, namely predisposing factors (gender, level of education) and factors that encourage the role of peers in efforts to prevent the transmission of HIV/AIDS.Objective: Analyzing the characteristics of adolescents and the role of peers in efforts to prevent HIV/AIDS transmissionMethod: This research uses quantitative methods, with a cross sectional study approach or design.  The research population was Ramaja aged 10-18 years in the working area of the Negara Ratu Health Center, North Lampung. Total population. 141 people. The sample in this study used Vincent Gaspersz's formula, obtaining 57 respondents. Data analysis using univariate and bivariate. The statistical test used was chi-square with a confidence interval of 95%, a significance limit of α = 0.05 was used.Results: There is a significant relationship between the role of peers and behavior to prevent HIV/AIDS transmission.Suggestion: Increasing the provision of education about HIV Aids prevention behavior and the dangers of HIV in adolescents so that it can increase knowledge as an effort to prevent HIV Aids and can be an alternative intervention to improve health behavior in preventing HIV Aids Keywords: characteristics, role of friends, prevention of HIV Aids 
Physical environment increase the transmission of tuberculosis Metri, Deni
Malahayati International Journal of Nursing and Health Science Vol. 8 No. 9 (2025): Volume 8 Number 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/minh.v8i9.1711

Abstract

Background: The physical environment is a contributing factor to tuberculosis cases in several developing countries. Indonesia ranks third in the world for tuberculosis cases. According to the World Health Organization (WHO) the increase in cases was attributed to problems with sanitation and poor living conditions. The appropriate method to prevent transmission is to interrupt transmission from three factors: the host, the agent, and the environment to children. The source of tuberculosis (TB) transmission in children is adult patients with smear-positive TB. Purpose: To prevent transmission of pulmonary TB to children, which is related to the physical environment. Method: A descriptive correlational, specially focusing on cross-sectional method. The study took place from August 2025 in Community Health Center, Kotabumi. The independent variable was physical environment, meanwhile the dependent variable included tuberculosis transmission. Using random sampling and slovin formula 38 respondents were selected who meet specific inclusion and exclusion criteria. The analysis proceeded with a univariate test to determine the frequency distribution of respondent’s characteristics, followed by bivariate analysis using chi square test and multivariate with logistic regression. Results: Analysis multivariate shows that home lighting and home cleanliness are significantly associated with TB prevention, with OR 8.370 (p = 0.001) and OR 4.825 (p = 0.016). Ventilation (OR 2.091; p = 0.238) and air humidity (OR 2.959; p = 0.060) did not show a significant relationship. Conclusion: Home lighting and home cleanliness was identified as the most influential factor in preventing pulmonary TB transmission.