Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PENGGUNAAN APLIKASI GOOGLE CLASSROOM SEBAGAI SARANA MENINGKATKAN KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA DI SMPN 1 CILELES KABUPATEN LEBAK Arta; Eneng Humaeroh; Muhammad Arifin
Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan Vol 4 No 2 (2025): Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan
Publisher : Fakultas Agama Islam, Universitas Mathla'ul Anwar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kemandirian belajar siswa dalam menghadapi perkembangan teknologi digital yang semakin pesat. Kemandirian belajar merupakan kemampuan siswa dalam mengelola proses belajar secara mandiri, termasuk mengatur waktu, mencari sumber belajar, serta bertanggung jawab terhadap tugas dan hasil belajar yang diperoleh. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemandirian belajar siswa adalah melalui pemanfaatan aplikasi Google Classroom sebagai media pembelajaran digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas kepala sekolah, guru Pendidikan Agama Islam, dan siswa SMP Negeri 1 Cileles Kabupaten Lebak. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan penggunaan Google Classroom dilakukan melalui penyusunan materi pembelajaran digital, pembuatan kelas digital, pengelolaan peserta didik, pengaturan jadwal pembelajaran, serta penyediaan sarana dan prasarana pendukung. Penggunaan Google Classroom dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam mampu meningkatkan kemandirian belajar siswa melalui kemudahan akses materi, penyelesaian tugas secara mandiri, peningkatan disiplin belajar, serta tanggung jawab dalam mengikuti pembelajaran. Faktor pendukung penggunaan Google Classroom meliputi tersedianya sarana dan prasarana teknologi, kompetensi digital guru, dukungan sekolah, serta kemudahan akses aplikasi. Adapun faktor penghambat yang ditemukan meliputi keterbatasan jaringan internet, keterbatasan perangkat digital, rendahnya literasi digital sebagian siswa, serta kurangnya motivasi dan disiplin belajar. Kata Kunci: Google Classroom, Kemandirian Belajar, Pendidikan Agama Islam.
Perspektif Etika Pendidikan Menghadapi Potensi Bias Kognitif Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Eneng Humaeroh; Saepudin Saepudin
INTELEKTIUM Vol 7 No 1 (2026): INTELEKTIUM
Publisher : Neolectura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37010/int.v7i1.2148

Abstract

This article aims to explore educational ethics that can be applied to address potential cognitive biases in learning, which are systematic deviations in thinking. These biases can disrupt the fairness and effectiveness of the teaching and learning process. This research analyzes concepts of cognitive biases and principles of educational ethics, as well as their implications for interactions in learning. The research findings indicate that the principles of educational ethics, such as fairness, transparency, and inclusive, can be used as strategies to mitigate the impact of cognitive biases. This article also provides practical recommendations to raise awareness of potential biases in learning
Problematika Penggunaan Artificial Intelligence dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Madrasah Ibtidaiyah: Studi Kualitatif di Mathla’ul Anwar Pandeglang Eneng Humaeroh
Jurnal Pendidikan Indonesia : Teori, Penelitian, dan Inovasi Vol 5, No 6 (2025): Jurnal Pendidikan Indonesia : Teori, Penelitian, dan Inovasi
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpi.v5i6.2582

Abstract

The rapid development of Artificial Intelligence (AI) has significantly influenced contemporary education, including Islamic Religious Education (Pendidikan Agama Islam/PAI) in Madrasah Ibtidaiyah (MI). The implementation of AI has the potential to facilitate teaching and learning processes; however, it also requires teachers to adapt swiftly to technological advancements. Empirical evidence indicates that teachers continue to face various challenges in effectively integrating AI into PAI instruction. This study aims to identify the key challenges of AI utilization in PAI learning at Madrasah Ibtidaiyah Mathla’ul Anwar, Pandeglang Regency, and to propose strategic solutions. A qualitative approach was employed through literature review, field observation, and interviews with school administrators, teachers, and students. The findings reveal that AI integration remains limited and is constrained by three major issues: inadequate technological infrastructure, low AI literacy among PAI teachers, and pedagogical as well as ethical challenges in aligning AI with Islamic educational values; consequently, this article contributes by proposing a value-based pedagogical framework to guide ethical, contextual, and effective AI integration in Islamic religious education at the primary level.ABSTRAKPerkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) telah memberikan pengaruh signifikan terhadap dunia pendidikan, termasuk dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di Madrasah Ibtidaiyah (MI). Penerapan AI berpotensi mempermudah proses belajar mengajar, namun pada praktiknya menuntut kemampuan adaptasi guru yang cepat terhadap perkembangan teknologi. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa guru masih menghadapi berbagai problematika dalam implementasi AI pada pembelajaran PAI. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi problematika penggunaan AI dalam pembelajaran PAI di Madrasah Ibtidaiyah Mathla’ul Anwar Kabupaten Pandeglang serta merumuskan solusi strategis yang relevan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur, observasi lapangan, dan wawancara dengan pengelola madrasah, guru, serta peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AI belum terintegrasi secara optimal dan masih dihadapkan pada tiga problematika utama, yaitu keterbatasan infrastruktur teknologi, rendahnya literasi AI guru PAI, serta tantangan pedagogis dan etis dalam menjaga keselarasan AI dengan nilai-nilai pendidikan Islam; oleh karena itu, artikel ini berkontribusi dengan menawarkan kerangka solusi berbasis pedagogi bernilai sebagai landasan integrasi AI yang kontekstual dan beretika dalam pembelajaran PAI di madrasah.
Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Untuk Mengatasi Bias Kognitif Dalam Pembelajaran Eneng Humaeroh
Jurnal Pendidikan Indonesia : Teori, Penelitian, dan Inovasi Vol 6, No 1 (2026): Jurnal Pendidikan Indonesia : Teori, Penelitian, dan Inovasi
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpi.v6i1.2581

Abstract

Cognitive bias refers to systematic tendencies in thinking that can interfere with learners’ understanding of instructional content and lead to irrational decision-making. In the context of Islamic Religious Education (IRE), cognitive bias has the potential to generate misconceptions that affect not only academic achievement but also religious attitudes and behaviors. This study aims to analyze the role of IRE curriculum development in minimizing cognitive bias within the learning process. The research employs a literature review method using a descriptive-narrative approach by examining books, nationally and internationally indexed journal articles, and relevant educational policy documents. The findings indicate that common forms of cognitive bias in IRE learning include confirmation bias, overconfidence, availability bias, and the Dunning-Kruger effect. An integrative, contextual, and adaptive curriculum supported by information literacy, concept clarification, value-based inquiry learning, and the strengthening of critical thinking skills has been shown to be effective in reducing the potential impact of cognitive bias. This study concludes that a systematically designed IRE curriculum grounded in students’ needs, along with teachers’ readiness to apply debiasing strategies, can foster learners who are critical, reflective, and capable of objectively evaluating and verifying religious information.ABSTRAKBias kognitif merupakan kecenderungan sistematis dalam berpikir yang dapat mengganggu pemahaman peserta didik terhadap materi ajar dan berdampak pada pengambilan keputusan yang tidak rasional. Dalam konteks Pendidikan Agama Islam (PAI), bias kognitif berpotensi menimbulkan kesalahan pemahaman keagamaan yang tidak hanya memengaruhi capaian akademik, tetapi juga sikap dan perilaku beragama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pengembangan kurikulum PAI dalam meminimalkan potensi bias kognitif dalam proses pembelajaran. Metode yang digunakan adalah studi literatur (library research) dengan pendekatan deskriptif-naratif melalui penelaahan buku, artikel jurnal nasional dan internasional, serta dokumen kebijakan pendidikan yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa bentuk bias kognitif yang sering muncul dalam pembelajaran PAI meliputi confirmation bias, overconfidence, availability bias, dan Dunning–Kruger effect. Pengembangan kurikulum yang integratif, kontekstual, dan adaptif, melalui penguatan literasi informasi, klarifikasi konsep, pembelajaran berbasis inkuiri nilai, serta penguatan keterampilan berpikir kritis, terbukti efektif dalam mengurangi potensi bias kognitif. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa kurikulum PAI yang dirancang secara sistematis dan berbasis kebutuhan peserta didik, disertai kesiapan guru dalam menerapkan strategi debiasing, mampu membentuk peserta didik yang kritis, reflektif, dan objektif dalam memahami serta memverifikasi informasi keagamaan.