Sharfina Permata Noor, Erla
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

HMPA (Hukum Materiil Peradilan Agama) Tentang Ahli Waris Pengganti : Tinjauan Ontologi, Epistimologi, Dan Aksiologi Hukum Islam Sharfina Permata Noor, Erla; Jalaluddin, Jalaluddin; Azhari, Fathurrahman; Hamdi, Fahmi
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 2 (2024): Implementation and Dynamics of Islamic Law and Civil Law in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i2.572

Abstract

Abtrack This paper examines the concept of substitutional heir (plaatsvervulling) in Islamic inheritance law from the perspectives of ontology, epistemology, and axiology. The concept of substitutional heir regulates the inheritance mechanism when the primary heir (biological child) has passed away before the testator (parent). Differences in interpretation among Islamic legal scholars regarding this concept can affect the final outcome of inheritance distribution, especially in cases involving complex family structures. This paper aims to unify perspectives and develop a comprehensive guideline on the application of the substitutional heir concept. From the ontological aspect, the paper explores the essence and philosophical foundation of this concept within Islamic teachings. Epistemologically, the paper examines the sources and interpretive methods used. From the axiological perspective, the paper evaluates the values and objectives to be achieved through the implementation of this concept in realizing justice, utility, and general welfare in the distribution of inheritance according to Islamic law. Keywords: Substitutional heir (plaatsvervulling), Islamic inheritance law, Ontology of Islamic law, Epistemology of Islamic law, Axiology of Islamic law. Abstrak Makalah ini mengkaji konsep ahli waris pengganti (plaatsvervulling) dalam hukum kewarisan Islam dari perspektif ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Konsep ahli waris pengganti mengatur mekanisme pewarisan ketika ahli waris utama (anak kandung) telah meninggal lebih dulu daripada pewaris (orang tua). Perbedaan interpretasi di kalangan ahli hukum Islam terkait konsep ini dapat mempengaruhi hasil akhir pembagian harta warisan, khususnya dalam kasus yang melibatkan struktur keluarga kompleks. Makalah ini bertujuan untuk menyatukan pandangan dan menyusun pedoman komprehensif mengenai penerapan konsep ahli waris pengganti. Dari sisi ontologi, dibahas hakikat dan landasan filosofis konsep ini dalam ajaran Islam. Secara epistemologi, dikaji sumber dan metode interpretasi yang digunakan. Dari sisi aksiologi, dinilai nilai-nilai dan tujuan yang ingin dicapai melalui implementasi konsep ini dalam mewujudkan keadilan, kemanfaatan, dan kemaslahatan umum dalam pembagian harta warisan. Kata Kunci : Ahli waris pengganti, Hukum kewarisan Islam, Ontologi hukum Islam, Epistemologi hukum Islam, Aksiologi hukum Islam
Akad Dan Tradisi Jual Beli Masyarakat Banjar Persfektif Hukum Ekonomi Syariah Sharfina Permata Noor, Erla; Sukarni , Sukarni; Hanafiah, H.M.; Muhajir, Ahmad
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 2 (2024): Implementation and Dynamics of Islamic Law and Civil Law in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i2.573

Abstract

Abstract This article discusses the contract (akad) and trading traditions of the Banjar community in South Kalimantan, Indonesia. The Banjar people have a rich history in buying and selling practices, with the contract or agreement playing a central role. The study aims to: 1) understand the concept of contract (akad) in Islamic law, 2) examine in-depth the economic interactions in the buying and selling practices of the Banjar community, and 3) analyze the perspective of sharia economics on the economic traditions of the Banjar community. The research method used is a qualitative approach with a descriptive design. The findings show that in the buying and selling practices of the Banjar community, the contract (akad) or agreement covers various aspects such as price, product quality, delivery time, and payment, which are based on the principles of honesty, fairness, and mutual respect. The trading traditions of the Banjar community also reflect local cultural values, such as polite communication, the use of the Banjar language, and the practice of bargaining. Overall, the economic traditions of the Banjar community are generally aligned with the principles of sharia economics, although some practices may require further evaluation. Keywords: Contract (Akad), Buying and Selling, Banjar Community, Sharia Economic Law Abstrak Artikel ini membahas tentang akad dan tradisi jual beli dalam masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan, Indonesia. Masyarakat Banjar memiliki sejarah yang kaya dalam praktik jual beli dan perdagangan, dengan akad atau perjanjian memegang peran sentral. Artikel ini bertujuan untuk: 1) memahami konsep akad dalam hukum Islam, 2) mengkaji secara mendalam interaksi ekonomi dalam praktik jual beli di masyarakat Banjar, dan 3) menelaah perspektif ekonomi syariah terhadap tradisi ekonomi masyarakat Banjar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam praktik jual beli masyarakat Banjar, akad atau perjanjian mencakup berbagai aspek seperti harga, kualitas barang, waktu penyerahan, dan pembayaran, yang didasarkan pada prinsip-prinsip kejujuran, keadilan, dan saling menghormati. Tradisi jual beli masyarakat Banjar juga mencerminkan nilai-nilai budaya lokal, seperti komunikasi yang sopan, penggunaan bahasa Banjar, dan praktik tawar-menawar. Secara umum, tradisi ekonomi masyarakat Banjar selaras dengan prinsip-prinsip ekonomi syariah, meskipun terdapat beberapa praktik yang perlu dievaluasi lebih lanjut. Kata Kunci: Akad, Jual Beli, Masyarakat Banjar, Hukum Ekonomi Syariah
Politik Islam di Zaman Pra-Kemerdekaan Sharfina Permata Noor, Erla; Hasan, Ahmadi; Umar, Masyithah; Khasyi'in, Nuril
Interdisciplinary Explorations in Research Journal Vol. 2 No. 2 (2024)
Publisher : PT. Sharia Journal and Education Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ierj.v2i2.571

Abstract

Abstract This research examines the politics of Islam during the pre-independence period in Indonesia and its role in the nation's struggle. Islamic politics during that period had a significant impact on Indonesia's history of struggle. Prior to the independence in 1945, Indonesia experienced more than three centuries of colonization by the Netherlands. Islamic politics became a major force in organizing society and fighting for independence. Islamic political movements emerged as a response to the colonization and modernization efforts carried out by the Dutch colonial government. Islamic politics during the pre-independence period in Indonesia were grounded in a strong religious spirit. Islam played a central role in the lives of Indonesian society, and Islamic figures at that time viewed politics as a means to advocate for justice, freedom, and the welfare of the Muslim community. Islamic politics were also influenced by global political shifts at that time. Islamic organizations such as Sarekat Islam, Muhammadiyah, and Nahdlatul Ulama played a crucial role in coordinating the political, social, and cultural struggles of the Muslim community in Indonesia. Islamic political parties such as the Masyumi Party also played a significant role in shaping Islamic political perspectives and influencing the national political direction of Indonesia. Additionally, it showcases the role of Islamic politics in the national awakening movement towards achieving independence. Keywords : Politics of Islam, Pre-independence Era, Islamic Organizazion Abstrak Penelitian ini membahas politik Islam pada masa pra-kemerdekaan Indonesia dan perannya dalam perjuangan bangsa. Politik Islam pada periode tersebut memiliki dampak yang signifikan dalam sejarah perjuangan Indonesia. Sebelum kemerdekaan pada tahun 1945, Indonesia mengalami penjajahan oleh Belanda selama lebih dari tiga abad. Politik Islam menjadi kekuatan utama dalam mengorganisir masyarakat dan memperjuangkan kemerdekaan. Gerakan politik Islam mulai muncul sebagai respons terhadap penjajahan dan modernisasi yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda. Politik Islam pada masa pra-kemerdekaan Indonesia didasarkan pada semangat agama yang kuat. Agama Islam memainkan peran sentral dalam kehidupan masyarakat Indonesia, dan tokoh-tokoh Islam pada masa itu melihat politik sebagai sarana untuk memperjuangkan keadilan, kebebasan, dan kesejahteraan umat. Politik Islam juga dipengaruhi oleh pergeseran politik global pada saat itu. Organisasi Islam seperti Sarekat Islam, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama menjadi kekuatan penting dalam mengoordinasikan perjuangan politik, sosial, dan budaya umat Islam di Indonesia. Partai politik Islam seperti Partai Masyumi juga memainkan peran penting dalam merumuskan pandangan politik Islam dan mempengaruhi arah politik nasional Indonesia. Selain itu juga memperlihatkan peran politik Islam dalam moment kebangkitan nasional untuk mencapai kemerdekaan. Kata Kunci : Politik Islam, Pra-Kemerdekaan, Organisasi Islam