Putra, Azhar Syafiq
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Evaluasi dan Perbandingan Kinerja Manajemen Gudang di Garut Menggunakan Integrasi Metode AHP-SAW Hatala, Muhammad Hudzaly; Fatliana, Anggun Nindy; Rahmad, Nuraini; Walenna, A. M. Adhitya A.; Krisnasari, Dea Dita; Salma, Melati; Mardika, Riski Arif; Putra, Azhar Syafiq
Jurnal Kalibrasi Vol 23 No 2 (2025): Jurnal Kalibrasi
Publisher : Institut Teknologi Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33364/kalibrasi/v.23-2.2656

Abstract

This study aims to evaluate and compare warehouse management performance in Garut Regency based on five main variables: warehouse layout, equipment, SOP standards, human resources (HR), and occupational health and safety (K3). A mixed-method approach was applied, where the Analytical Hierarchy Process (AHP) was used to determine the weight of each variable, while the Simple Additive Weighting (SAW) method was employed to calculate the total performance score (utility score) and rank warehouses according to the weighted scores of each variable. Data were collected from eight different warehouses through direct observation, interviews, and warehouse check-up audits using a Likert scale. The results show that warehouse layout holds the highest weight at 44.95%, followed by SOP at 23.67%, equipment at 15.02%, HR at 9.75%, and K3 at 6.62%. Warehouse 5 achieved the highest performance score of 94%, indicating the most optimal warehouse management due to its strong performance in layout and K3, as well as high utility scores in the other variables. In contrast, Warehouse 6 obtained the lowest score of 58%, mainly due to poor layout, limited equipment, and weak SOP, highlighting the need for significant improvements. These findings emphasize that layout and SOP are the most dominant factors in determining warehouse management effectiveness, while the other variables serve as supporting elements. The results also indicate that larger-scale companies tend to achieve higher utility scores, reflecting greater maturity across the five evaluated variables.
Pemberdayaan Masyarakat RT 40 Kelurahan Damai Bahagia Berbasis Mesin Pencacah Sampah Plastik Produksi Eco-Batako Rachmadani, Anggun Safa; AM, Chaerul Qalbi; Putra, Azhar Syafiq; Sari, Martina Puspita; Romadhan, Catur Putra
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 17, No 2 (2026): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v17i2.26785

Abstract

Permasalahan  sampah plastik  di wilayah  pesisir  Indonesia semakin  memprihatinkan, termasuk di Rukun Tetangga 40 (RT 40) Kelurahan  Damai  Bahagia,  Kecamatan  Balikpapan  Selatan,  Kalimantan  Timur.  Lokasi  yang berbatasan langsung dengan laut dan menerima aliran limpasan dari kawasan bisnis Balikpapan Super Block (BSB) menyebabkan penumpukan sampah plastik yang mencemari lingkungan. Minimnya sarana pengelolaan  sampah dan rendahnya kesadaran masyarakat memperburuk kondisi tersebut. Program ini  bertujuan  memberikan  solusi  melalui  pendekatan  teknologi  tepat  guna  dan  pemberdayaan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan meliputi perancangan dan pembuatan mesin pencacah plastik sederhana serta pelatihan pemanfaatan limbah plastik menjadi produk eco-batako. Proses produksi eco-batako dilakukan dengan mencampurkan cacahan plastik, pasir, dan semen dengan perbandingan 0,1:2:1, kemudian dicetak dan dikeringkan hingga mengeras. Program ini melibatkan masyarakat Rukun Tetangga 40 (RT 40) secara aktif, khususnya kelompok ibu rumah tangga dan pemuda. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan masyarakat terkait pengelolaan sampah dan kemampuan menghasilkan produk bernilai ekonomis berbasis limbah. Program ini menjadi model pemberdayaan lingkungan yang berkelanjutan dan direkomendasikan untuk dilanjutkan melalui pembentukan kelompok usaha bersama serta pendampingan pemasaran produk, sehingga dapat diterapkan di wilayah pesisir lain yang memiliki permasalahan serupa.