Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

STRATIFIKASI DAN STRUKTUR MASSA AIR LAUT BANDA SAAT MUSIM TIMUR: STRATIFICATION AND STRUCTURE OF THE BANDA SEA WATERMASS DURING THE EAST MONSOON AWAYAL, DION DOLLAN; Simon Tubalawony; Yunita A Noya
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 7 No. 1 (2023): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2023.007.01.4

Abstract

Laut Banda termasuk jalur Arlindo bagian timur, sebagai reservoir sementara massa air, dan merupakan wilayah Upwelling yang bervariasi secara musiman tergantung dari arah musim. Penelitian ini merupakan bagian dari Ekspedisi Jala Citra 2-2022 Banda yang bertujuan untuk mengkaji stratifikasi massa air di Laut Banda. Proses sampling menggunakan CTD Rosette pada 6 Stasiun pengamatan yang meliputi data suhu, salinitas dan densitas. Analisa stratifikasi massa air untuk melihat pelapisan massa air, sedangkan analisa lapisan Gumbar (Core Layers), analisis isopiknal dan analisis diagram TS untuk analisa struktur massa air. Hasil penelitian menunjukan variasi suhu, salinitas dan densitas cukup besar di lapisan permukaan. Pada lapisan termoklin ditemukan massa air dengan salinitas maksimum (Smax) mencapai 34,79 Psu, kisaran suhu 17,09-230C dengan isopiknal 23,99-25,45 Kg/m3 yang berada di kedalaman 106-187 m. Pada lapisan bawah termoklin ditemukan massa air dengan salinitas maksimum (Smax) mencapai 34,81 Psu, kisaran suhu 8,67-12,790C dan isopiknal 26,41-27,01 Kg/m3 dengan kedalaman 230-402 m. Salinitas minimum (Smin) berada pada isopiknal 26,11-26,56 Kg/m3 dengan salinitas mencapai 34,36 Psu di kedalaman 234-324 m dengan kisaran suhu 10,60-12,580C. Lapisan dalam ditemukan massa air dengan kisaran salinitas 33,48-34,74 Psu yang berada di kedalaman 674-1000 m dengan kisaran suhu 4,59-6,940C serta isopiknal >27 Kg/m3. Massa air lapisan termoklin yang memiliki Smax diyakini adalah massa air NPSW. Pada lapisan bawah termoklin merupakan karakter dari massa air SPLTW (Smax) sedangkan massa air yang memiliki Smin adalah massa air NPIW. Pada lapisan yang lebih dalam merupakan karakter dari massa air AAIW.   The Banda Sea, a part of the Eastern Arlindo line which is also an area of upwelling that varies seasonally depending on the season's direction, plays an important role as a temporary reservoir of water masses. This research is part of the Jala Citra 2-2022 Banda Expedition which aims to study the stratification of water masses in the Banda Sea. The sampling process uses CTD Rosette at 6 observation stations which includes temperature, salinity and density data. Water mass stratification analysis is used to see the layering of water mass, while the core layers analysis, isopicnal analysis, and TS diagram analysis is used for water mass structure analysis. The results showed that the variations in temperature, salinity and density are quite large in the surface layer. In the thermocline layer, a mass of water with maximum salinity (Smax) is found reached 34,79 Psu, the temperature range is 17,09-230C with isopicnal 23,99-25,45 Kg/m3 which is at a depth of 106-187 m. At the bottom of the thermocline, a mass of water with maximum salinity (Smax) is found reached 34,81 Psu, the temperature range is 8,67-12,790C and isopicnal 26,41-27,01 Kg/m3 with a depth of 230-402 m. The minimum salinity (Smin) is found at isopicnal 26,11-26,56 Kg/m3 with salinity reaching 34,36 Psu at a depth of 234-324 m with a temperature range of 10,60-12,580C. In the deep layer, water masses are found with a salinity range of 33,48-34,74 Psu at a depth of 674-1000 m with a temperature range of 4,59-6,940C and isopicnal more than 27 Kg/m3. The mass of water in the thermocline layer which has Smax believed to be the NPSW water mass. In the lower layer the thermocline is the character of the SPLTW water mass (Smax) while the mass of water which has Smin is the mass of water NPIW. In a deeper layer is the character of the AAIW water mass.
MAPPING OF BENTHIC HABITAT IN BAIR ISLAND USING ALLEN CORAL ATLAS DATA Teurupun, Gafli Luter; Lodar, Stevani; Rahaket, Emelliana; Awayal, Dion Dollan
Jurnal Perikanan Unram Vol 15 No 2 (2025): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v15i2.1359

Abstract

Benthic habitat mapping in Bair Island, Southeast Maluku Regency, Maluku Province is the first step in the management and conservation of marine ecosystems that need to be improved. This study aims to map and calculate the extent of benthic habitat around Bair Island by utilizing Allen Coral Atlas (ACA) data. The methods used include multispectral satellite image analysis by performing atmospheric correction, water column correction and sun glare removal. Benthic habitats mapped included coral reefs, seagrasses, microalgae, dead corals and other substrates such as rocks and sand. The results showed that coral reefs dominated the coastal area of Bair Island with an area reaching 53,9 ha, seagrasses 8,4 ha and microalgae 9,8 ha and area of rubble 8,8 ha followed by the dominance of rocks 118 ha as well as sand 98,8 ha. The utilization of ACA data proved effective in providing accurate spatial information with high resolution, so that it can support ecosystem-based management on Bair Island
Keanekaragaman Lamun dan Echinodermata Sebagai Indikator Kondisi Perairan Rumaat, Maluku Tenggara Silaban, Rosita; Dobo, Johny; Silubun, Dortje Theodora; Awayal, Dion Dollan; kilmanun, Anthon Daud
Jurnal Kelautan Vol 18, No 2: Agustus (2025)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v18i2.29587

Abstract

ABSTRAKEchinodermata merupakan salah satu hewan yang sangat penting dalam ekosistem laut dan bermanfaat sebagai salah satu komponen dalam rantai makanan, pemakan sampah organik dan hewan kecil lainnya. Echinodermata merupakan hewan avertebrata yang hanya dapat hidup di perairan laut dengan berbagai tipe habitat, salah satunya adalah padang lamun. Padang lamun yang begitu luas memungkinkan banyaknya biota yang hidup berasosiasi dengan lamun seperti alga, Moluska, Crustacea, mamalia, ikan dan Echinodermata. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui kerapatan lamun, kepadatan Echinodermata, indeks ekologi serta hubungan kerapatan lamun dan kepadatan Echinodermata. Komposisi jenis lamun diperoleh 8 spesies dan Echinodermata sebanyak 9 spesies di perairan Rumaat. Lamun perairan Rumaat menunjukan kondisi tumbuh sangat rapat dengan kerapatan tertinggi spesies Thalassia hemprichii. Kepadatan Echinodermata tertinggi dari spesies Holothuria atra. Keanekaragaman lamun dan Echinodermata dikategorikan sedang yang menunjukan kondisi stabil. Kesergaman lamun dan Echinodermata tergolong sedang menunjukan tidak adanya tekanan dari faktor lingkungan. Indeks dominansi yang rendah menunjukkan bahwa di lokasi ini tidak ada spesies yang mendominasi. Hasil uji regresi kerapatan lamun dan kepadatan Echinodermata tidak memiliki pengaruh yang nyata.Kata kunci:  keanekaragaman, lamun, Echinodermata, RumaatABSTRACTEchinoderms is are one of the most important animals in the marine ecosystem and is useful as one of the components in the food chain, eating organic waste and other small animals. Echinoderms and are invertebrate animal that can only live in sea waters with various types of habitats, one of which is seagrass beds. The vast seagrass beds allow many organism to live in association with seagrass including algae, Molluscs, Crustacea, mammals, fish and Echinoderms. The purpose of this study was to determine the density of seagrass, the density of Echinoderms, the ecological index and the relationship between seagrass density and Echinoderms density. The composition of seagrass species obtained 8 species and Echinoderms as many as 9 species in the Rumaat waters. Seagrass in the Rumaat waters showed very dense growth conditions with the highest density of the Thalassia hemprichii species. The highest density of Echinoderms from the Holothuria atra species. The diversity of seagrass and Echinoderms is categorized as moderate indicating a stable condition. The uniformity of seagrass and Echinoderms is classified as moderate indicating no pressure from environmental factors. The low dominance index indicates that there is no dominant species in this location. The results of the regression test of seagrass density and Echinoderms density have no significant effect.Keywords: diversity, seagrass, Echinoderms, Rumaat
ANALISIS UKURAN BUTIRAN SEDIMEN DAN BATUAN SERTA DISTRIBUSINYA DI MUARA SUNGAI WAE YAME DESA WAYAME KECAMATAN TELUK AMBON KOTA AMBON Elake, Alexander; Asa, Buagina; Akyuwen, Frandy; Nanlohy, Pieldrie; Awayal, Dion Dollan
JOURNAL ONLINE OF PHYSICS Vol. 11 No. 1 (2025): JOP (Journal Online of Physics) Vol 11 No 1
Publisher : Prodi Fisika FST UNJA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jop.v11i1.47637

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ukuran butir sedimen dan batuan serta distribusinya di muara sungai Wae Yame Desa Wayame Kecamatan Teluk Ambon Kota Ambon. Lokasi ini merupakan wilayah perairan transisi yang menerima masukan sedimen dari daratan dan laut, sehingga memahami karakteristik sedimennya penting untuk mendukung pengelolaan wilayah daerah pesisir. Hasil pengujian terhadap 12 titik sampel sedimen sungai Wae Yame menunjukan fraksi sedimen berupa pasir, pasir sangat halus, debu, kerikil dan batuan terdistribusi dengan tidak merata di setiap titik pengambilan sampel. Hasil analisis menunjukkan bahwa distribusi fraksi pasir sangat halus tersebar di hampir seluruh titik pengambilan sampel dengan nilai berkisar antara 0,10 % sampai 6,91 %  dan nilai tertinggi berada pada titik ke 8, sedangkan distribusi fraksi krikil dan batuan sangat dominan pada semua titik lokasi pengambilan sampel dengan Persentase mencapai 0% hingga 100%. Persentase tertinggi fraksi kerikil dan batuan berada pada titik 12 dengan nilai berkisar 100%.
Distiribusi Spasial Habitat Bentik dan Substrat di Pantai Ngurbloat Memanfaatkan Data Allen Coral Atlas Awayal, Dion Dollan; Lekatompessy, Vanela Chatrin; Silaban, Rosita; Elake, Alexander Yosep; Nanlohy, Pieldrie
Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik Vol 9 No 3 (2025): Agustus
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46252/jsai-fpik-unipa.2025.Vol.9.No.3.523

Abstract

Ngurbloat Beach, located in the Kei Islands, Maluku Province, has a varied coastal ecosystem, including benthic habitats that play an important role in ecological balance and sustainability of marine resources. This study aims to map the spatial distribution of benthic habitats including substrates in the waters of Ngurbloat Beach by utilizing Allen Coral Atlas data. The analysis was conducted through classification of high-resolution satellite images using remote sensing and geographic information system (GIS) methods. The results showed that the total mapped area was 183 ha. Benthic habitats in this area are dominated by coral reefs (18.99%), seagrasses (0.85%), microalgae (2.93%) and sand substrates (16.42%), rocks (39.44%) and dead corals (22.7%). Oceanographic factors and anthropogenic activities in the waters of Ngurbloat Beach affect the distribution of benthic habitats, especially coral reefs that have suffered serious damage and need to be rehabilitated. The utilization of Allen Coral Atlas data proved effective in providing accurate spatial data for benthic ecosystem mapping, which can support conservation efforts and sustainable management of coastal resources.
Pengembangan Desa Wisata Berbasis Pemetaan Digital Di Desa Rumahkay Kabupaten Seram Bagian Barat Elake, Alexander Yosep; Akyuwen, Frandy; Elly, Erfin; Awayal, Dion Dollan
KOMUNITA: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 4 No 4 (2025): November
Publisher : PELITA NUSA TENGGARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60004/komunita.v4i4.342

Abstract

Maluku merupakan daerah kepulauan dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, seperti gunung, pantai, hutan tropis, dan terumbu karang yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai objek wisata. Salah satu wilayah yang menjanjikan adalah Desa Rumahkay di Kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat. Desa ini memiliki potensi alam berupa hasil hutan, perkebunan, pantai, dan air terjun. Namun, potensi tersebut belum banyak diketahui masyarakat luas sehingga pengembangan Desa Rumahkay sebagai destinasi wisata masih kurang terpublikasi. Untuk menjawab permasalahan tersebut, dilaksanakan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dengan tujuan menerapkan teknologi digital berupa GPS, Avenza Map, dan ArcGIS dalam pemetaan potensi sumber daya alam. Kegiatan ini menghasilkan peta informatif yang menunjukan potensi sumber daya alam Desa Rumahkay terutama objek wisata alam. Metode pelaksanaan mencakup sosialisasi, pelatihan pemetaan menggunakan GPS dan Avenza Map, dan survei pemetaan lapangan. Melalui pemetaan berbasis perangkat digital, berbagai potensi wisata alam Desa Rumahkay dapat terdokumentasi secara sistematis. Beberapa produk yang dihasilkan dari kegiatan ini meliputi peta jalur objek wisata alam air terjun yang menampilkan informasi grafis jalur tercepat menuju objek wisata alam tersebut serta peta fasilitas umum yang menggambarkan mengenai sebaran infrastruktur dan sarana pendukung yang tersedia bagi masyarakat maupun wisatawan. Adapun hasil evaluasi dari pelaksanaan kegiatan ini menunjukkan melalui metode pelatihan secara langsung (learning by doing) mampu secara signifikan meningkatkan pemahaman masyarakat dan ketertarikan masyarakat terhadap pengembangan Desa Rumahkay sebagai desa wisata yang berkelanjutan.