p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Social Empirical
Hafid Pradana
Universitas Negeri Padang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pola Asuh Orang Tua dalam Menghadapi Kenakalan Remaja Gen Z di Kelurahan Ulak Karang Kota Padang Aget Sepriadi; Fara Aisyah Zalma; Farisa Aulia; Hafid Pradana; Bunga Dinda Permata; Delmira Syafrini
Social Empirical Vol. 2 No. 1 (2025): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v2i1.3

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk pola asuh orang tua terhadap kenakalan remaja Gen Z di Kelurahan Ulak Karang Utara, Kota Padang. Hal ini menarik untuk diteliti karena pola asuh orang tua secara langsung memengaruhi perilaku dan sikap remaja dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pola asuh orang tua di perlukan untuk meminimalisir kenakalan remaja Gen Z. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen, dengan teknik purposive sampling. Jumlah informan sebanyak tujuh orang tua, terdiri dari lima laki-laki dan dua perempuan, dengan latar belakang pekerjaan sebagai buruh, montir, sopir, pedagang, dan ibu rumah tangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh demokratis orang tua dalam menghadapi kenakalan remaja gen z di antaranya pertama, pemberian kebebasan orang tua terhadap remaja. Kedua, membangun kedekatan dengan anak lewat sharing session. Ketiga komunikasi dan pemberian nasihat kepada anak remaja. Keempat perbedaan pola asuh berdasarkan jenis kelamin. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami dan menerapkan pola asuh yang mendorong perkembangan positif remaja, serta didukung oleh peran aktif lingkungan sosial sekitar.
Flexing di Kalangan Mahasiswa FIS UNP: Strategi Mencari Pengakuan Sosial di Era Media Sosial Riva Nasrila; Hanafi Saputra; Fauzanah Fauzan El Muhammady; Hafid Pradana; Ratih Haifa Putri; Nur Aisyah; Marwatil Husna
Social Empirical Vol. 3 No. 1 (2026): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v3i1.625

Abstract

Perkembangan media sosial telah mengubah pola interaksi sosial masyarakat dan melahirkan berbagai fenomena baru, salah satunya adalah flexing. Di kalangan mahasiswa, flexing tidak hanya berkaitan dengan tindakan memamerkan kepemilikan materi atau gaya hidup, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun citra diri dan memperoleh pengakuan sosial di ruang digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna flexing di kalangan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang (FIS UNP) sebagai strategi memperoleh pengakuan sosial. Kebaruan penelitian ini terletak pada upaya dalam  menjelaskan fenomena flexing secara lebih komprehensif sebagai tindakan sosial yang berkaitan dengan pengakuan sosial, identitas diri, status sosial, dan eksistensi, bukan semata-mata sebagai perilaku konsumtif sebagaimana banyak dibahas dalam penelitian sebelumnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe studi kasus dengan melibatkan delapan informan yang dipilih melalui teknik purposive. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen,  kemudian diolah menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berangkat dari perspektif teori Interaksionisme Simbolik oleh George Herbert Mead hasil penelitian menunjukkan bahwa flexing dimaknai mahasiswa sebagai sarana memperoleh pengakuan sosial, membangun identitas diri, menunjukkan status sosial, serta mempertahankan eksistensi di era digital. Media sosial menjadi arena penting bagi mahasiswa untuk menampilkan simbol-simbol sosial yang membentuk citra diri dan memperoleh legitimasi dari lingkungan sekitarnya. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa fenomena flexing perlu dipahami sebagai bentuk interaksi sosial yang mengandung makna simbolik dalam proses pembentukan identitas dan relasi sosial mahasiswa di era digital.