Panca Abdini Sitorus
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Relevansi Pemikiran Murji’ah dan Khawarij terhadap Kehidupan Umat Islam Kontemporer Ahmad Al Kindi; Panca Abdini Sitorus; Zaimiri Zaimiri; Zulfahmi Lubis; Muhammad Basri
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.7869

Abstract

Artikel ini membahas relevansi pemikiran teologis Murji’ah dan Khawarij terhadap kehidupan umat Islam kontemporer di tengah kompleksitas tantangan sosial, politik, dan keagamaan modern. Kedua aliran ini lahir dari konflik awal Islam yang berkaitan dengan persoalan iman, amal, dan dosa besar, namun warisan pemikirannya masih tercermin dalam sikap keberagamaan umat Islam masa kini, baik dalam bentuk moderasi maupun ekstremisme. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui studi kepustakaan terhadap sumber-sumber klasik dan literatur ilmiah kontemporer. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemikiran Murji’ah memiliki relevansi positif dalam menumbuhkan sikap toleran, moderat, dan inklusif dengan menekankan penangguhan penilaian iman kepada Allah, meskipun berpotensi menimbulkan sikap permisif apabila dipisahkan secara ekstrem dari amal dan tanggung jawab moral. Sementara itu, pemikiran Khawarij lebih berfungsi sebagai bahan refleksi kritis-historis untuk memahami bahaya ekstremisme, intoleransi, dan doktrin takfir yang dapat memicu konflik serta perpecahan umat. Dengan demikian, kajian terhadap Murji’ah dan Khawarij menegaskan pentingnya keseimbangan antara iman dan amal serta penguatan nilai moderasi (wasathiyah) sebagai fondasi dalam membangun kehidupan beragama yang harmonis dan kontekstual di era kontemporer.
PERAN GURU PAI DALAM MEMBUDIDAYAKAN BERBUSANA ISLAMI PADA PESERTA DIDIK panca Abdini Sitorus; Muhammad Irwan Padli Nasution
TA'LIM : Jurnal Studi Pendidikan Islam Vol. 9 No. 1 (2026): January
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/talim.v9i1.11512

Abstract

Abstract This study aims to describe the role of Islamic Education (PAI) teachers in cultivating Islamic dress culture among students in heterogeneous public schools. Using a descriptive qualitative method at YAPIM, data were obtained through observation, interviews, and documentation. The findings show that PAI teachers act as educators, role models, moral guides, and motivators, including providing practical guidance on choosing and wearing comfortable and stylish hijabs, as well as serving as philanthropists. Despite facing obstacles such as hot weather, peer influence, and the absence of official school regulations, PAI teachers continue to drive the habituation of Islamic dress practices. This study emphasizes the crucial role of PAI teachers in shaping students' religious awareness and character through the culture of Islamic dress Abstrak Penelitian ini bertujuan menggambarkan peran guru PAI dalam membudayakan berbusana Islami pada peserta didik di sekolah umum yang heterogen. Menggunakan metode kualitatif deskriptif di YAPIM, data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAI berperan sebagai pendidik, teladan, pembina moral, dan motivator, termasuk memberikan bimbingan praktis tentang pemilihan dan penggunaan jilbab yang nyaman dan stylish serta sebagai filantropis. Meski menghadapi hambatan seperti cuaca panas, pengaruh teman sebaya, dan ketiadaan aturan resmi sekolah, guru PAI tetap menjadi penggerak pembiasaan berbusana Islami. Penelitian ini menegaskan pentingnya peran guru PAI dalam membentuk kesadaran dan karakter religius siswa melalui budaya busana Islami.
Perbandingan Tradisi Literasi Ulama Nusantara Era Konvensional dan Era Digital   Panca Abdini Sitorus; Solihah Titin Sumanti
Edusifa: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 10 No. 1 (2026): Edusifa : Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : STIT Sirojul Falah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56146/edusifa.v10i1.437

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menganalisis transformasi tradisi literasi ulama Nusantara dari dakwah konvensional menuju dakwah digital di era media sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode library research. Data diperoleh dari buku, artikel jurnal, dan dokumen ilmiah yang dianalisis menggunakan content analysis dan analisis komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi dakwah tidak mengubah substansi ajaran Islam, tetapi menggeser media dan metode penyampaiannya. Dakwah konvensional unggul dalam menjaga sanad keilmuan, pembinaan akhlak, dan hubungan guru dengan murid, sedangkan dakwah digital memperluas jangkauan dakwah melalui media sosial secara cepat dan efektif. Oleh karena itu, pengembangan dakwah di era digital perlu mengintegrasikan tradisi literasi ulama Nusantara dengan literasi digital agar otoritas keilmuan dan etika dakwah tetap terjaga Kata Kunci: : tradisi literasi, ulama Nusantara, dakwah digital, media sosial ABSTRACT This study analyzes the transformation of the Nusantara scholars' literacy tradition from conventional to digital preaching in the social media era. A qualitative approach with a library research method was employed. Data were collected from books, scholarly journals, and academic documents and analyzed using content and comparative analysis. The findings reveal that digital transformation has not changed the substance of Islamic preaching but has shifted its media and methods. Conventional preaching remains important for preserving scholarly authority, moral development, and teacher–student relationships, while digital preaching expands its reach through social media more effectively. Therefore, integrating the literacy tradition of Nusantara scholars with digital literacy is essential to maintain scholarly authority and ethical Islamic preaching Keywords: literacy tradition, Nusantara scholars, digital preaching, social media.