Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Sosialisasi bahaya limbah tempe dan kotoran hewan terhadap lingkungan di Desa Cilokotot, Kabupaten Bandung Lia Muliati; Galu Murdikaningrum; Rini Sitawati; Vika Amelia; Riska .
JAMARI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandiri Vol 2 No 1 (2025): Juli
Publisher : Universitas Insan Cendekia Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37577/jamari.v2i01.922

Abstract

Kampung Cilokotot terletak di Kabupaten Bandung, merupakan salah satu sentra pengrajin tempe, di kampung tersebut terdapat 2 pabrik tempe berskala rumahan yang melibatkan banyak pengrajin tempe dengan kapasitas produksi sekitar 700 Kg per hari dengan menghasilkan limbah cair rata – rata sebanyak 8.000 Liter setiap harinya. Selain sentra pengarajin tempe, di Kampung Cilokotot terdapat juga perternakan kecil yang memelihara sapi dan kambing dengan total ternak sebanyak 5 – 10 ekor di daerah padat penduduk. Dengan adanya kondisi tersebut keberadaan limbah peternakan sapi dan kambing serta limbah dari pembutan tempe membutuhkan perhatian tersendiri, karena apabila tidak diolah dengan baik, akan mendatangkan masalah bagi lingkungan dan warga sekitar. Tahapan kegiatan pengabdian diawali dengan pemilihan lokasi, yaitu di Kampung Cilokotot, Kabupaten Bandung, selanjutnya menyiapkan perizinan kepada RT, RW dan warga sekitar yang kemudian dilanjutkan dengan menyiapkan materi dan kelengkapan presentasi, kemudian diakhiri dengan pelaksanaan kegiatan PkM berupa pemaparan materi, diskusi dan tanya jawab. Kegiatan berlangsung lancar dan peserta mengikuti dan terlibat dalam diskusi serta tanya jawab antara narasumber dan warga khususnya dalam hal solusi penanggulangan limbah yang dapat bermanfaat untuk warga sekitar. Kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap warga dan pengrajin tempe di Kampung Cilokotot dengan bertambahnya pengetahuan dan keterampilan pengolahan limbah tempe dan kotoran ternak.
Edukasi tanaman florikultur di SD Asy-Syifa 2 Kecamatan Antapani Bandung, Jawa Barat Irfan Maulana; Rini Sitawati; Dikayani .; Aghnia Rahmawati
JAMARI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandiri Vol 2 No 1 (2025): Juli
Publisher : Universitas Insan Cendekia Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37577/jamari.v2i01.909

Abstract

Pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu bentuk pengimplementasian Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat di berbagai bidang. Salah satu topik yang memiliki relevansi tinggi dengan pendidikan adalah florikultur, yang berkaitan dengan budidaya tanaman hias. Artikel ini mengulas kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh dosen dari Universitas insan cendekia mandiri dengan tema " Edukasi Tanaman Florikultur di SD Asy-Syifa 2 Kecamatan Antapani Bandung, Jawa Barat". Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan mengenai pemeliharaan tanaman hias kepada guru-guru di SD Asy-Syifa 2, yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan lingkungan hidup di sekolah.
Sosialisasi bahaya limbah tempe dan kotoran hewan terhadap lingkungan di Desa Cilokotot, Kabupaten Bandung Lia Muliati; Galu Murdikaningrum; Rini Sitawati; Vika Amelia; Riska .
JAMARI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandiri Vol 2 No 1 (2025): Juli
Publisher : Universitas Insan Cendekia Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37577/jamari.v2i01.922

Abstract

Kampung Cilokotot terletak di Kabupaten Bandung, merupakan salah satu sentra pengrajin tempe, di kampung tersebut terdapat 2 pabrik tempe berskala rumahan yang melibatkan banyak pengrajin tempe dengan kapasitas produksi sekitar 700 Kg per hari dengan menghasilkan limbah cair rata – rata sebanyak 8.000 Liter setiap harinya. Selain sentra pengarajin tempe, di Kampung Cilokotot terdapat juga perternakan kecil yang memelihara sapi dan kambing dengan total ternak sebanyak 5 – 10 ekor di daerah padat penduduk. Dengan adanya kondisi tersebut keberadaan limbah peternakan sapi dan kambing serta limbah dari pembutan tempe membutuhkan perhatian tersendiri, karena apabila tidak diolah dengan baik, akan mendatangkan masalah bagi lingkungan dan warga sekitar. Tahapan kegiatan pengabdian diawali dengan pemilihan lokasi, yaitu di Kampung Cilokotot, Kabupaten Bandung, selanjutnya menyiapkan perizinan kepada RT, RW dan warga sekitar yang kemudian dilanjutkan dengan menyiapkan materi dan kelengkapan presentasi, kemudian diakhiri dengan pelaksanaan kegiatan PkM berupa pemaparan materi, diskusi dan tanya jawab. Kegiatan berlangsung lancar dan peserta mengikuti dan terlibat dalam diskusi serta tanya jawab antara narasumber dan warga khususnya dalam hal solusi penanggulangan limbah yang dapat bermanfaat untuk warga sekitar. Kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap warga dan pengrajin tempe di Kampung Cilokotot dengan bertambahnya pengetahuan dan keterampilan pengolahan limbah tempe dan kotoran ternak.
Pelatihan Aplikasi Pupuk Organik Cair (POC) Pada Tanaman di Kampung Cilokotot, Kabupaten Bandung Muliati, Lia; Sitawati, Rini; Murdikaningrum, Galu
JAMARI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandiri Vol. 2 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Universitas Insan Cendekia Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37577/.v2i2.1031

Abstract

The continued use of inorganic fertilizers has a negative impact on the environment, necessitating a more sustainable alternative, liquid organic fertilizer (POC). Cilokotot Village, South Margahayu Village, is a tempeh production center that produces liquid waste and cow dung that have the potential to be processed into biogas and POC. This Community Service (PkM) activity aims to provide education and training to the community on techniques for applying POC, a byproduct of biogas fermentation, to plants. The methods used included equipment preparation, formula determination experiments, and training through lectures and hands-on practice. The results showed that the POC from anaerobic leachate has an acidic pH (3–5), requiring a neutralization process to reach the ideal pH (5.5–7) through dilution techniques, the addition of alkaline materials (lime or rice husk ash), or re-fermentation. The training participants, consisting of tempeh artisans, demonstrated high enthusiasm and successfully improved their understanding and technical skills in fertilizing plants with a dilution dosage of 1:10 to 1:30. The conclusion of this activity is that the community is now able to independently manage waste into useful products, which is expected to reduce dependence on chemical fertilizers and increase local economic potential.
Pelatihan Aplikasi Pupuk Organik Cair (POC) Pada Tanaman di Kampung Cilokotot, Kabupaten Bandung Muliati, Lia; Sitawati, Rini; Murdikaningrum, Galu
JAMARI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandiri Vol. 2 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Universitas Insan Cendekia Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37577/.v2i2.1031

Abstract

The continued use of inorganic fertilizers has a negative impact on the environment, necessitating a more sustainable alternative, liquid organic fertilizer (POC). Cilokotot Village, South Margahayu Village, is a tempeh production center that produces liquid waste and cow dung that have the potential to be processed into biogas and POC. This Community Service (PkM) activity aims to provide education and training to the community on techniques for applying POC, a byproduct of biogas fermentation, to plants. The methods used included equipment preparation, formula determination experiments, and training through lectures and hands-on practice. The results showed that the POC from anaerobic leachate has an acidic pH (3–5), requiring a neutralization process to reach the ideal pH (5.5–7) through dilution techniques, the addition of alkaline materials (lime or rice husk ash), or re-fermentation. The training participants, consisting of tempeh artisans, demonstrated high enthusiasm and successfully improved their understanding and technical skills in fertilizing plants with a dilution dosage of 1:10 to 1:30. The conclusion of this activity is that the community is now able to independently manage waste into useful products, which is expected to reduce dependence on chemical fertilizers and increase local economic potential.