Henti jantung tetap menjadi penyebab kematian utama secara global dengan tingkat kelangsungan hidup yang rendah, terutama pada kejadian luar rumah sakit (OHCA). Rendahnya kemampuan masyarakat dan penolong pertama dalam melakukan resusitasi jantung paru (RJP), serta ketidaksesuaian praktik klinis dengan bukti terkini, berkontribusi besar terhadap tingginya angka mortalitas. Intervensi keperawatan berbasis bukti, termasuk edukasi, pelatihan, dan simulasi, menjadi strategi penting untuk meningkatkan respons awal dan kualitas tindakan resusitasi. Tinjauan literatur ini bertujuan menganalisis efektivitas intervensi keperawatan berbasis bukti terhadap peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan keberhasilan tindakan resusitasi jantung paru. Pencarian artikel dilakukan melalui Google Scholar dan Portal Garuda menggunakan kata kunci “resusitasi jantung paru”, “intervensi keperawatan”, “berbasis bukti”, “cardiopulmonary resuscitation”, dan “nursing intervention”. Seleksi artikel mengikuti alur PRISMA dengan kriteria inklusi mencakup publikasi tahun 2014–2024, menggunakan desain kuantitatif, eksperimental, quasi-eksperimental, atau literature review, serta membahas intervensi keperawatan pada RJP/BHD. Lima artikel memenuhi kriteria dan dianalisis menggunakan pendekatan PICO. Empat artikel menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan setelah edukasi RJP/BHD pada siswa sekolah, masyarakat desa, karyawan non-medis, dan anggota Brimob. Pelatihan berbasis simulasi menghasilkan peningkatan keterampilan teknis dan ketepatan respons yang lebih tinggi dibandingkan edukasi teori. Sementara itu, satu studi klinis menunjukkan bahwa keberhasilan RJP pada pasien gagal jantung dipengaruhi oleh faktor klinis seperti jenis kelamin, lokasi resusitasi, dan pemberian adrenalin. Temuan ini menegaskan bahwa intervensi keperawatan berbasis bukti secara konsisten meningkatkan kompetensi penolong pertama serta mendukung hasil resusitasi pada konteks klinis. Intervensi keperawatan berbasis bukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapsiagaan masyarakat maupun petugas lapangan dalam menangani henti jantung. Pada konteks klinis, kualitas resusitasi dipengaruhi oleh berbagai faktor pendukung sehingga integrasi bukti ilmiah ke dalam praktik keperawatan dan pelatihan berkelanjutan sangat penting untuk meningkatkan peluang keberhasilan resusitasi dan menurunkan mortalitas.