Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Dari Qadian ke Dunia: Sejarah Kemunculan dan Persebaran Ahmadiyah: From Qadian to The World: The History of The Emergence and Spread of The Ahmadiyya Movement Nurul Islamiah; Indo Santalia; Agus Masykur
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 9 No. 1: Januari 2026 -In Progress
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i1.9376

Abstract

Gerakan Ahmadiyah merupakan salah satu fenomena keagamaan paling penting dan kontroversial dalam sejarah islam modern. Didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad pada akhir abad ke-19 di Qadian, India, Ahmadiyah muncul dalam konteks kolonialisme, krisis otoritas keagamaan, dan kebutuhan pembaharuan pemikiran islam. Gerakan ini menawarkan penafsiran baru mengenai konsep kenabian, jihad, serta pembaruan moral-spiritual umat, yang kemudian memicu respon luas dari masyarakat muslim, mulai dari penerimaan terbatas hingga penolakan keras. Penelitian ini membahas latar historis kemunculan Ahmadiyah, tahapan perkembangannya, perpecahan internal antara Ahmadiyah Qadian dan Lahore, serta penyebarannya ke berbagai kawasan dunia islam. Dengan pendekatan historis dan sosiologis, penelitian ini bertujuan memberikan pemahaman komprehensif tentang bagaimana ahmadiyah tumbuh, bertahan, dan terus memainkan peran signifikan dalam diskursus keislaman global.
Rasionalisme Mu’tazilah dan Ushul al-Khamsah: Analisis Historis, Teologis dan Relevansi Kontemporer: Mu'tazilah Rationalism and Ushul al-Khamsah: Historical, Theological Analysis and Contemporary Relevance Haidar Ali; Indo Santalia; Agus Masykur
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 9 No. 1: Januari 2026 -In Progress
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i1.9552

Abstract

Penelitian ini membahas rasionalisme Mu’tazilah dan lima prinsip pokoknya (Ushul al-Khamsah) melalui kajian historis-teologis untuk memahami kontribusinya dalam perkembangan pemikiran Islam. Tujuan utama penelitian ini adalah menjelaskan akar kemunculan aliran Mu’tazilah, menguraikan struktur teologinya, serta menilai relevansinya dalam konteks pemikiran Islam kontemporer. Metode yang digunakan ialah studi kepustakaan dengan analisis tematik terhadap literatur klasik dan modern yang membahas perkembangan historis, doktrin, dan pengaruh intelektual Mu’tazilah. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Mu’tazilah tidak hanya muncul dari perdebatan mengenai status pelaku dosa besar, tetapi juga sebagai upaya sistematis untuk membangun teologi Islam yang rasional, logis, dan konsisten. Ushul al-Khamsah memperlihatkan cara pandang yang mengutamakan kemurnian tauhid, keadilan Tuhan, tanggung jawab manusia, serta posisi moderat dalam menyikapi persoalan teologis. Penelitian ini juga menemukan bahwa warisan rasionalisme Mu’tazilah memiliki relevansi kuat terhadap isu kontemporer seperti dialog agama–sains, kebebasan berpikir, reformasi pemikiran Islam, dan pendidikan kritis. Studi ini memberikan kontribusi penting dalam memperkaya kajian teologi Islam dengan menunjukkan bahwa pendekatan rasional Mu’tazilah tetap relevan dan dapat menjadi inspirasi dalam merespons tantangan intelektual umat Islam di era modern.
Rekonstruksi Historis Pokok-Pokok Ajaran Ahmadiyah: Historical Reconstruction of the Main Principles of Ahmadiyya Teachings Ratna; Indo Santalia; Agus Masykur
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 9 No. 1: Januari 2026 -In Progress
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i1.9570

Abstract

urnal ini mengkaji tentang asal usul gerakan Ahmadiyah dan ajaran intinya dari perspektif historis-teologis. Ahmadiyah muncul di India pada akhir abad ke-19, periode kritis di mana umat Muslim mengalami kemunduran politik setelah runtuhnya Kekaisaran Mughal, menghadapi tekanan dari aktivitas misionaris Kristen, dan bergulat dengan modernitas kolonial. Konteks sosial-politik yang rapuh ini membentuk respons Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Ahmadiyah, yang menawarkan pembaharuan spiritual dan intelektual. Studi ini berpendapat bahwa doktrin inti Ahmadiyah terkait erat dengan kondisi zamannya. Melalui analisis isi dari sumber primer dan sekunder, artikel ini mengidentifikasi dua aspek kunci: pertama, analisis kontekstual latar belakang munculnya Ahmadiyah sebagai reaksi terhadap kolonialisme, Kristenisasi, dan fragmentasi internal umat Muslim di India; Kedua, studi ini meneliti tujuh ajaran teologisnya yang paling kontroversial, terutama interpretasi tentang Nabi Penutup, klaim Mirza Ghulam Ahmad sebagai Mesias dan Mahdi yang Dijanjikan, konsep jihad damai, dan kepercayaan pada kematian Yesus (saw). Studi ini menyimpulkan bahwa Ahmadiyah merupakan upaya untuk menafsirkan kembali Islam secara radikal untuk mengatasi tantangan zaman modern, tetapi sekaligus menciptakan perdebatan teologis yang mendalam tentang makna dengan Islam arus utama, menjadikannya salah satu gerakan paling kontroversial dalam sejarah Islam modern.
Analisis Historis: Akar-Akar Kemunculan dan Konsolidasi Syiah dalam Sejarah Islam Awal: Historical Analysis: The Roots of the Emergence and Consolidation of Shi'ism in Early Islamic History Afifah Amatullah; Indo Santalia; Agus Masykur
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 9 No. 1: Januari 2026 -In Progress
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i1.9571

Abstract

Jurnal ini mengkaji sejarah kemunculan dan perkembangan mazhab Syiah dalam dunia Islam melalui pendekatan penelitian historis. Kajian ini menyimpulkan bahwa akar kemunculan Syiah bersifat politis, bermula dari peristiwa Saqifah Bani Sa'idah dan klaim hak kepemimpinan (imamah) Ali bin Abi Thalib beserta keturunannya. Konsolidasi identitas Syiah semakin mengkristal pasca-tragedi politik Tahkim dan terutama setelah peristiwa tragis pembunuhan Husain bin Ali di Karbala, yang menjadi momentum pembentukan doktrin teologis dan solidaritas kolektif. Perkembangannya ditandai oleh dinamika konflik dan resistensi, mulai dari penindasan di masa Bani Umayyah dan awal Abbasiyah, fragmentasi internal menjadi berbagai sekte seperti Zaidiyah, Imamiyah, dan Ismailiyah, hingga upaya bertahan dan berekspansi melalui pendirian dinasti-dinasti seperti Idrisiyah, Fatimiyah, dan kekuasaan Bani Buwaihi. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa Syiah berevolusi dari sekadar dukungan politik personal menjadi mazhab teologis-politis yang kompleks, yang formasi dan perkembangannya tak terpisahkan dari narasi konflik, penindasan, dan legitimasi keturunan Nabi Muhammad SAW.
Keragaman Dalam Islam: Pokok Ajaran Syiah, Perbedaan Dengan Sunni, Dan Jalur Menuju Persaudaraan: Diversity in Islam: The Core Teachings of Shia, Differences with Sunni, and the Path to Brotherhood Ilfah Luthfiah; Indo Santalia; Agus Masykur
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 12: Desember 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i12.9769

Abstract

Islam, sebagai agama yang global, mengalami berbagai interpretasi yang muncul karena perubahan politik dan teologis, yang kemudian membentuk mazhab besar salah satunya Sunni dan Syiah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis ajaran utama Syiah Tauhid, Nubuwwah, Imamah, Al-‘Adl, dan Ma‘ad serta membandingkannya dengan prinsip-prinsip Sunni dalam hal kepemimpinan, otoritas keagamaan, sumber hukum, dan praktik ibadah, serta harmonisasi keduanya, melalui metode tinjauan pustaka yang menggabungkan analisis deskriptif dan komparatif, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meski ada perbedaan dalam doktrial, kedua mazhab memiliki kesamaan dalam hal pokok keimanan dan ibadah. Penemuan ini menegaskan pentingnya dialog antarmazhab, pendidikan yang inklusif, dan kolaborasi sosial untuk memperkuat solidaritas umat Islam. Penelitian ini berkontribusi terhadap pembentukan harmoni antaragama dengan menjadikan keberagaman teologis sebagai aset intelektual dan spiritual, bukan sebagai penyebab perpecahan.