Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Potential Economic Value Of Nutritional Content Of Moringa Leaf Tea In Sikka Regency, East Nusa Tenggara Wahyuni, Yuyun; Carcia, Maria Silvana Mariabel; Nunung, Agnes Yuniati; Se’do, Maria; Kopong, Rosalina; Nitit, Daniel Sera
Jurnal Projemen UNIPA Vol 12 No 1 (2025): Januari: Jurnal Projemen UNIPA
Publisher : Universitas Nusa Nipa Maumere

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Moringa (Moringa Oleifera) is a plant that is easily found in the surrounding environment and grows in Java, Sunda, Bali, Lampung, Madura, Sulawesi and Flores. In Flores, especially in Sikka Regency, moringa is a plant that is being cultivated. Moringa leaves also contain phytochemicals such as tannins, steroids, triterpenoids, flavonoids, saponins and alkaloids. These compounds have the ability as antibiotics, anti-inflammatory, detoxification and antibacterial drugs. One product that can be developed from moringa leaves is moringa tea. Moringa leaves can be used as a basic ingredient in making tea. In making tea, a drying process is carried out which aims to reduce the water content in the raw materials. This study aims to determine the nutritional content of moringa tea from several places in Sikka Regency so that it can help in the use of moringa as tea. This study was conducted in 3 locations for sampling moringa leaves, namely Talibura District, Alok Timur District and Paga District. The study used descriptive methods and laboratory tests on moringa tea. The results of the study were then compared with the quality parameters of tea according to the Indonesian National Standard (SNI) for tea. The output of the study is a national publication so that the community, especially in Sikka Regency, can use moringa leaves as a drink. The test was carried out at the Food Quality and Safety Laboratory, Faculty of Agricultural Technology, Brawijaya University, Malang. The results of the study showed differences in the nutritional content of moringa tea from the three locations. The highest protein content was in Paga District with a value of 25.86%, the highest fat content was in Talibura District with a value of 4.43%, water content was in Alok Timur District with a value of 8.42%, ash content in Paga District with a value of 8.20% and carbohydrate content in Alok Timur District with a value of 57.08%.
Studi Perbandingan Pewiwilan Terhadap Produksi Tanaman Strawberry (Fragaria ananassa L.) Se’do, Maria; Beja, Henderikus Darwin; Bolly, Yovita Yasinta
Baselang Vol 6, No 1: APRIL 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/bsl.v6i1.303

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan pertumbuhan vegetatif tanaman stroberi (Fragaria ananassa L.) yang berlebihan sehingga dapat menghambat pembentukan bunga dan buah . Pewiwilan  merupakan salah satu teknik budidaya yang dilakukan untuk mengendalikan pertumbuhan vegetatif dengan cara memangkas sulur dan daun tua agar energi tanaman terfokus pada pembentukan organ generatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan pewiwilan terhadap produksi tanaman stroberi. Penelitian dilaksanakan pada September 2025 di PT. Kusuma Agrowisata, Kota Batu, menggunakan metode komparatif dengan dua perlakuan, yaitu tanpa pewiwilan dan dengan pewiwilan. Sampel penelitian berjumlah 80 tanaman yang terdiri atas 40 tanaman tanpa pewiwilan dan 40 tanaman dengan pewiwilan. Pengamatan dilakukan selama lima minggu dan data dianalisis secara komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman tanpa pewiwilan memiliki tinggi tanaman lebih tinggi  (19,71 cm) dibandingkan tanaman dengan pewiwilan (16,97 cm). Namun, perlakuan pewiwilan menghasilkan pembentukan bunga yang lebih stabil serta jumlah buah lebih tinggi pada minggu ke-5, yaitu 1,87 buah dibandingkan 1,7 buah pada tanaman tanpa pewiwilan. Pewiwilan terbukti mampu meningkatkan efisiensi distribusi nutrisi dan produksi tanaman stroberi melalui pengendalian pertumbuhan vegetatif.