Salah satu tantangan utama dalam kesehatan masyarakat di negara dengan penghasilan menengah ke bawah adalah stunting. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), prevalensi stunting pada balita pada tahun 2018 mencapai 30,8 persen, yang berarti satu dari tiga balita mengalami kondisi ini. Indonesia menempati peringkat kedua tertinggi di Asia Tenggara dan kelima di dunia dalam hal angka stunting pada anak. Masalah gizi yang dialami oleh remaja putri di Indonesia antara lain adalah status gizi pendek (stunting), anemia, dan Kekurangan Energi Kronis (KEK). Pada dasarnya, masalah gizi di kalangan remaja muncul akibat perilaku gizi yang tidak tepat. Selain itu, masalah gizi ini juga berhubungan dengan kejadian berat badan lahir rendah (BBLR), yang merupakan faktor risiko terjadinya stunting. Metode pelaksanaan pengabdian ini adalah pelayanan dan penyuluhan. Pelayanan berupa pemeriksaan haemoglobin (Hb) dan pengukuran status gizi sedangkan penyuluhan mengenai gerakan masyarakat sehat peduli stunting pada remaja putri. Berdasarkan hasil pemeriksaan Hb didapatkan remaja dengan kadar Hb normal 73% sedangkan remaja dengan anemia ringan sebesar 26%. Hasil identifikasi status gizi responden sebagian besar adalah kurus yaitu 39%, sedangkan kategori normal 36% dan gemuk 25%. Penyuluhan gerakan masyarakat sehat bagi remaja putri peduli stunting dilaksanakan pada tanggal 24 Juli 2024 yang dihadiri 45 remaja. Hasil yang diharapkan dari kegiatan pengabdian ini diharapkan tenaga kesehatan (bidan) dapat menstimulasi remaja putri secara intensif untuk konsisten mengkonsumsi tablet Fe serta monitoring pemeriksaan Hb sebagai upaya pencegahan stunting serta gerakan masyarakat sehat pada remaja putri.