Peningkatan risiko reaksi obat yang tidak diinginkan (adverse drug reactions/ADRs) dan masalah terkait obat (drug-related problems/DRPs) pada pasien penyakit kronis, khususnya peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS), sangat membutuhkan informasi dan edukasi intensif terkait optimalisasi terapi. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengidentifikasi insiden ADRs dan DRPs pada kelompok PROLANIS di Puskesmas Surian dan memberikan edukasi yang terfokus untuk meminimalkan risiko, demi mencapai terapi optimal. Kegiatan diawali dengan wawancara dan pengumpulan data kuesioner dari 30 responden (semua perempuan). Hasil demografi menunjukkan mayoritas responden (70,00%) berusia 45–64 tahun, dan dua pertiga (66,67%) mengalami polifarmasi (menderita 3–7 penyakit kronis). Empat penyakit utama yang diderita adalah artritis, hipertensi, hiperurisemia, dan dislipidemia. Penting untuk dicatat, 60% responden melaporkan keluhan yang mengindikasikan ADRs dan DRPs. Sebagian besar subjek memperoleh obat dari tenaga kesehatan formal (86,67%). Tindak lanjut kegiatan mencakup pemeriksaan kesehatan gratis (tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan asam urat) serta konseling langsung. Pasien PROLANIS menerima edukasi mendalam tentang cara penggunaan obat yang benar, terutama dalam terapi polifarmasi, untuk meminimalkan masalah terkait obat. Disimpulkan bahwa edukasi intensif dan berkelanjutan mengenai obat-obatan, pengobatan alternatif, dan suplemen kesehatan kepada komunitas PROLANIS sangat penting. Intervensi ini secara signifikan berkontribusi pada keselamatan pasien dan meningkatkan pemahaman masyarakat dalam pengelolaan penyakit kronis.