Putu Oka Yuli Nurhesti
Universitas Udayana

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN KESIAPAN PERAWAT DALAM MEMBERIKAN PERAWATAN PALIATIF PADA PASIEN KANKER Ni Putu Dwi Ratna Dewi; Putu Oka Yuli Nurhesti; Komang Menik Sri Krisnawati; Ni Putu Emy Darma Yanti
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 2 (2025): April 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i02.p03

Abstract

Sel-sel tubuh yang berkembang biak secara abnormal merupakan sumber dari penyakit kanker. Kondisi kanker dapat menimbulkan berbagai gejala yang kompleks, sehingga meningkatkan kebutuhan pasien kanker terhadap perawatan paliatif. Dalam memberikan perawatan paliatif kepada pasien kanker, peran perawat sangatlah penting. Akan tetapi pada kenyataannya, perawat tidak siap memberikan perawatan paliatif. Salah satu faktor yang memengaruhi kesiapan perawat untuk memberikan perawatan paliatif adalah tingkat pengetahuan mereka tentang praktik perawatan paliatif. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara pengetahuan perawat dan kesiapan memberikan perawatan paliatif kepada pasien kanker. Penelitian ini menggunakan metodologi kuantitatif dengan pendekatan deskriptif korelasional dan desain cross-sectional. Proses pengumpulan data dilakukan selama bulan Januari 2025. Berdasarkan teknik pengambilan sampel secara total sampling, 50 sampel perawat digunakan dalam penelitian ini. Dua kuesioner yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, yaitu kuesioner Kesiapan Perawat dan kuesioner Palliative Care Quiz for Nursing-Indonesian Version (PCQN-I) digunakan untuk mengumpulkan data. Dengan nilai p=0,049 dan nilai r=0,280, hasil uji Spearman Rank penelitian ini menunjukkan adanya korelasi antara pengetahuan perawat dengan kesiapan mereka dalam memberikan perawatan paliatif kepada pasien kanker. Kekuatan hubungan ini lemah ke arah hubungan positif, sehingga semakin berpengetahuan perawat, semakin siap mereka melakukan perawatan paliatif. Berdasarkan hal tersebut, perawat diharapkan dapat meningkatkan pemahaman tentang perawatan paliatif agar dapat lebih siap dalam melakukan perawatan paliatif pada pasien kanker.
HUBUNGAN KADAR HEMOGLOBIN DENGAN TINGKAT CANCER-RELATED FATIGUE PADA PASIEN KANKER PAYUDARA PASCA KEMOTERAPI Putu Agus Permana Indrajaya; Putu Oka Yuli Nurhesti; Desak Made Widyanthari
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 5 (2024): Oktober 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i05.p11

Abstract

Cancer-related fatigue (CRF) dapat dijumpai pada pasien kanker yang menjalani berbagai jenis perawatan seperti kemoterapi, radioterapi, transplantasi sumsum tulang, dan metode perawatan kanker lainnya. Kemoterapi adalah prosedur pemberian obat yang ditujukan untuk memperlambat pertumbuhan sel kanker dalam tubuh. Terapi kemoterapi melibatkan penggunaan obat-obatan yang menghambat pertumbuhan sel. Terdapat beberapa efek samping yang terjadi dari prosedur ini, diantaranya adalah mual, muntah, kebotakan, kelelahan, kulit kering, perubahan pada kulit dan kuku yang menyebabkan mereka menjadi lebih gelap, serta penurunan kadar hemoglobin. Perubahan kadar hemoglobin salah satunya disebabkan oleh peningkatan kerusakan sel darah merah akibat dari proses kemoterapi yang dijalani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan kadar hemoglobin dengan tingkat CRF pada pasien kanker payudara pasca kemoterapi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode cross-sectional yang dilaksanakan selama Januari-Maret 2024. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan purposive sampling (n=30). Data dalam penelitian ini dikumpulkan menggunakan kuesioner Multidimensional Fatigue Inventory (MFI-20) dan data sekunder hasil pemeriksaan kadar hemoglobin. Hasil penelitian yang didapatkan menggunakan Uji Pearson’s Product Moment menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kadar hemoglobin dengan tingkat CRF pada pasien kanker payudara pasca kemoterapi dengan nilai p=0,017 dan nilai r=-0,432. Dapat disimpulkan bahwa kadar hemoglobin berhubungan dengan tingkat CRF dengan arah hubungan negatif yaitu semakin tinggi kadar hemoglobin semakin rendah tingkat CRF pada responden. Responden dalam penelitian ini diharapkan dapat mengetahui dan melakukan manajemen terhadap CRF yang dialami seperti rutin melakukan aktivitas fisik dan mengatur pola serta asupan nutrisi setiap harinya.
HUBUNGAN LITERASI KESEHATAN DENGAN PEMANTAUAN GULA MANDIRI (PGDM) PADA PASIEN DM TIPE 2 DI PUSKESMAS 1 DENPASAR BARAT Ni Komang Ana Puspa Sari; Meril Valentine Manangkot; Putu Oka Yuli Nurhesti; Desak Made Widyanthari
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 6 (2024): Desember 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i06.p13

Abstract

Diabetes Melitus (DM) merupakan salah satu penyakit kronis yang membutuhkan pengelolaan seumur hidup untuk mengontrol kadar gula darah dan mencegah komplikasi. Pengelolaan penyakit DM memerlukan pemahaman yang baik salah satunya adalah literasi kesehatan. Literasi kesehatan membantu pasien dalam menentukan keputusan untuk mengelola kadar gula darah tetap dalam batas normal. Pengelolaan penyakit DM dapat dilakukan salah satunya dengan melakukan Pemantauan Gula Darah Mandiri (PGDM). Literasi kesehatan dikatakan mendukung pelaksanaan PGDM karena literasi kesehatan yang tinggi akan mendukung praktik PGDM yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan literasi kesehatan dengan PGDM pada pasien DM tipe 2. Jenis penelitian deskriptif korelatif dengan desain cross sectional pada 71 pasien DM tipe 2 di Puskesmas 1 Denpasar Barat yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu Health Literacy Survey Europe 16 Questionnaire (HLS-EU 16 Q) dan Self Monitoring Blood Glucose Questionnaire (SMBG-Q). Hasil penelitian ini menunjukkan mayoritas responden memiliki literasi kesehatan sedang 31 orang (43,7%). Mayoritas responden memiliki PGDM cukup 36 orang (50,8%). Berdasarkan hasil analisis, didapatkan hubungan positif yang sedang antara literasi kesehatan dengan PGDM pada pasien DM tipe 2 (p-value = 0,000 ; r = 0,463) yang artinya semakin baik literasi kesehatan maka semakin baik PGDM responden. Kesimpulan ada hubungan yang signifikan antara literasi kesehatan dengan PGDM pada pasien DM tipe 2 di Puskesmas 1 Denpasar Barat.
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) DENGAN CANCER RELATED FATIGUE (CRF) PADA PASIEN CA MAMMAE PASCA KEMOTERAPI Putu Seprina; Kadek Cahya Utami; Putu Oka Yuli Nurhesti
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 5 (2024): Oktober 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i05.p13

Abstract

Cancer Related Fatigue (CRF) merupakan salah satu dampak dari kemoterapi. Indeks Massa Tubuh (IMT) dapat memengaruhi kejadian CRF. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan IMT dengan CRF pada pasien ca mammae pasca kemoterapi. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional yang dilaksanakan dari bulan Maret hingga Juni 2024. Teknik sampling dalam penelitian ini yaitu menggunakan quota sampling dengan jumlah sampel 30 orang. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Multidimensional Fatigue Inventory (MFI-20). Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa IMT pasien ca mammae pasca kemoterapi rata-rata 22,62 dengan rentang normal, sedangkan skor kuesioner CRF dengan hasil rata-rata yaitu 55 yang menunjukkan fatigue sedang. Hasil dari uji Spearman rank diperoleh nilai 0,953 (p ≥ 0,05) yang mengindikasikan bahwa tidak ada hubungan antara IMT dengan CRF pada pasien ca mammae pasca kemoterapi. Pasien ca mammae pasca kemoterapi diharapkan dapat memantau indeks massa tubuhnya agar tidak terjadi kekurangan atau kelebihan berat badan sehingga mampu menjaga kestabilan kesehatannya.
HUBUNGAN POSTURAL STRESS DENGAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA BURUH SUUN DI PASAR BADUNG Yunda Syahlaila Enasanaj; Desak Made Widyanthari; Gusti Ayu Ary Antari; Putu Oka Yuli Nurhesti
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 5 (2024): Oktober 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i05.p08

Abstract

Keluhan muskuloskeletal dapat menyebabkan beberapa gejala berupa kelelahan, nyeri dan pegal yang berdampak pada penurunan aktivitas sehari-hari. Keluhan muskuloskeletal dapat disebabkan oleh postural stress. Postural stress merupakan beban tubuh terhadap proses biomekanik yang terjadi ketika tubuh bekerja dengan gerakan dan postur yang tidak selaras dengan posisi integritas tubuh. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan postural stress dengan keluhan muskuloskeletal pada Buruh Suun di Pasar Badung. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan studi deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah 73 orang buruh suun di Pasar Badung dengan menggunakan teknik sampling yaitu purposive sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner Nordic Body Map (NBM) dan Ovako Work Analisys System (OWAS). Hasil analisis univariat sebanyak 91,8% buruh suun berusia diatas 30 tahun, 98,6%, berjenis kelamin perempuan, 78,1% mengalami overweight, 68,5% buruh bekerja >15 tahun, dan 87,7% buruh suun mengangkat barang >20 kg, 37% buruh suun mengalami postural stress pada kategori 2 (perlu perbaikan dimasa depan), dan 95,9 % keluhan muskuloskeletal buruh suun berada pada kategori rendah. Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara postural stress dengan keluhan muskulsokeletal dengan p value 0,028 dan r 0,258 dengan kekuatan hubungan lemah dan arah positif. Buruh suun diharapkan dapat menurunkan risiko postural stress dengan menggunakan alat bantu saat bekerja seperti troli sehingga dapat menurunkan keluhan muskuloskeletal.
POST-TRAUMATIC STRESS DISORDER PADA PENYINTAS COVID-19 PASCA PERAWATAN RUMAH SAKIT Ni Kadek Chandra Ayu Sarining Merta; Ni Kadek Ayu Suarningsih; Putu Oka Yuli Nurhesti
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 6 (2024): Desember 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i06.p09

Abstract

Corona Virus Diseases-19 atau Covid-19 merupakan wabah yang menyebar secara cepat dan menyebabkan tingginya laporan kasus Covid-19 di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Penatalaksanaan Covid-19 dilakukan dengan memberikan perawatan di rumah sakit yang didasari oleh beberapa faktor. Perawatan tersebut dapat menyebabkan pasien mengalami stres fisik dan psikologis. Selain itu, rawat inap akibat Covid-19 dapat dianggap sebagai peristiwa traumatis sehingga dapat menimbulkan masalah kesehatan mental, salah satunya PTSD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik dan gejala PTSD pada individu penyintas Covid-19. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif dengan pendekatan cross sectional pada 97 responden yang diperoleh melalui quota sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas rentang usia responden antara 56-65 tahun dan didominasi oleh perempuan (55,7%). Sejumlah 70,1% responden dirawat di rumah sakit dengan durasi kurang dari satu minggu dan 96,9% dirawat di ruang isolasi. Hanya 3,1% responden yang memiliki riwayat gangguan mental dan mayoritas tidak memiliki penyakit komorbid. Sebagian besar responden tidak menunjukkan gejala PTSD (93,8%). Rendahnya gejala PTSD dalam penelitian ini diprediksi berkaitan dengan resiliensi yang tinggi dan durasi rawat inap yang singkat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi data tambahan dalam penanganan Covid-19 pasca pandemi terutama berkaitan dengan masalah psikososial.
GAMBARAN NILAI ANKLE BRACHIAL INDEX (ABI) PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI PUSKESMAS II NEGARA Muhamad Yuslim Wajidal Muiz; Desak Made Widyanthari; Ni Ketut Guru Prapti; Putu Oka Yuli Nurhesti
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i01.p03

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) merupakan gangguan insulin yang menyebabkan hiperglikemia yang jika tidak tertangani dalam waktu yang lama dapat menyebabkan terjadinya Peripheral Artery Disease (PAD). PAD memiliki kecenderungan asymptomatic sehingga penanganan PAD yang tidak adekuat mengakibatkan kondisi yang serius seperti amputasi, gangguan kapasitas fungsional, dan kualitas hidup. Pemeriksaan yang dapat mendeteksi PAD adalah pemeriksaan Ankle Brachial Index (ABI) yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran nilai ABI berdasarkan jenis kelamin, usia, lama menderita, riwayat hipertensi, IMT, GDP, status merokok. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif kuantitatif. Teknik sampling yang digunakan adalah non-probability sampling dengan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 30 orang pasien DM di wilayah kerja Puskesmas II Negara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien DM berjenis kelamin wanita sebesar 56,7%, usia tengah (44-59 tahun) 46,7%, tidak merokok 100%, memiliki GDP tinggi 66,7%, IMT kategori normal 76,7%, memiliki riwayat hipertensi 73,3%, lama menderita  tahun 83,3% dan nilai ABI pasien pada rentang normal sebesar 56,7% dan PAD Ringan 43,3%. Pasien DM yang mengalami PAD berjenis kelamin perempuan sebanyak 26,7%, usia lansia 20%, hipertensi 3,3%, IMT normal 30%, GDP tinggi 30%, tidak merokok 43,3% dan lama menderita  tahun 33,3%. Kesimpulan penelitian ini yaitu mayoritas pasien DM yang mengalami PAD memiliki hipertensi, GDP tinggi, pada IMT normal, tidak merokok, lama menderita  tahun dan berjenis kelamin wanita. Diharapkan pada penelitian selanjutnya mengkaji status kesehatan masa lalu seperti status kolesterol, status merokok masa lalu, tingkat aktivitas, hiperlipidemia, dan riwayat penyakit gagal ginjal kronik.
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG COVID-19 DAN TINGKAT RESILIENSI DALAM MENGHADAPI PANDEMI PADA MAHASISWA KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA Putu Putri Paramitha; Putu Oka Yuli Nurhesti; Kadek Eka Swedarma
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 3 (2025): Juni 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i03.p15

Abstract

COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona yang sangat mudah menular. Pengetahuan tentang COVID-19 diperlukan untuk dapat mencegah penyebaran dan penularan COVID-19 dan resiliensi diperlukan untuk dapat mengatasi situasi sulit pandemi yang menekan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan tentang COVID-19 dan tingkat resiliensi dalam menghadapi pandemi pada Mahasiswa Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Responden didapatkan melalui teknik total sampling sebanyak 266 Mahasiswa Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner online. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan tentang COVID-19 responden berada dalam kategori baik sebanyak 80%, cukup sebanyak 13,2%, dan kurang sebanyak 4,9%. Hasil tingkat resiliensi responden berada dalam kategori tinggi sebanyak 16,5%, sedang sebanyak 55,6%, dan rendah sebanyak 24,4%. Simpulan hasil penelitian terlihat responden memiliki pengetahuan tentang COVID-19 baik dan tingkat resiliensi sedang dalam menghadapi pandemi. Disarankan kepada mahasiswa agar dapat mempertahankan pengetahuannya pada ketegori baik dengan selalu memperbaharui informasi mengenai COVID-19 agar dapat mencegah penularan dan penyebaran COVID-19. Mahasiswa juga diharapkan dapat meningkatkan resiliensi yang dimiliki dengan meningkatkan kapasitas individu secara positif untuk dapat menghadapi permasalahan yang menekan di era pandemi.
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN STATUS PSIKOLOGIS PADA PASIEN KANKER PAYUDARA POST KEMOTERAPI Putu Krisna Candra Yoga; Putu Oka Yuli Nurhesti; Ida Arimurti Sanjiwani; Desak Made Widyanthari
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i01.p08

Abstract

Kanker payudara merupakan suatu penyakit kanker dimana terjadi perkembangan tidak terkendali atau pertumbuhan secara berlebih dari sel-sel atau jaringan payudara. Status psikologis merupakan suatu istilah yang mengarah pada kondisi mental, emosional, dan psikologis seseorang pada suatu hal tertentu. Adapun beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah psikologis yaitu kelompok perilaku kognitif, terapi atau konseling, dukungan kelompok sebaya, dan dukungan keluarga. Dukungan keluarga merupakan suatu perilaku dari anggota keluarga yang selalu memberikan dukungan, perhatian, pendidikan dengan penuh kasih sayang, bimbingan serta bantuan untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan status psikologis pada pasien kanker payudara post kemoterapi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelatif dengan cross sectional yang dilaksanakan bulan Februari hingga Mei 2024. Teknik pengumpulan sampel pada penelitian ini menggunakan purposive sampling (n=30). Hasil uji Spearman Rank menunjukkan adanya hubungan signifikan antara dukungan keluarga dengan status psikologis pada pasien kanker payudara post kemoterapi dengan p-value yaitu 0,007, r= -0,481, R= 23,1%. Arah korelasi negatif berada dalam kategori sedang. Korelasi negatif berarti semakin tinggi dukungan keluarga maka semakin rendah status psikologisnya, sebaliknya semakin rendah dukungan keluarga maka semakin tinggi pula status psikologisnya. Keluarga harus peka dan menyadari apabila dukungan yang diberikan optimal memberikan dampak baik bagi pasien kanker payudara dalam mengatasi masalah psikologis.