Ahmad Hadi Pranoto
Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Problematika Hadis Ahad dan Mutawatir: Kritik Epistemik terhadap Paradigma Kepastian dalam Otoritas Sunnah Ahmad Hadi Pranoto; Raharjo Raharjo; Lutfiyah Lutfiyah; Abid Nurhuda; Dena Sri Anugrah
JISRev: Journal of Islamic Studies Review Vol. 1 No. 2 (2025): JISRev: Journal of Islamic Studies Review
Publisher : LaKaspia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69548/jisrev.1.2.63

Abstract

Kajian ini menelaah problem epistemologis yang melingkupi perbedaan kedudukan antara hadis ahad dan hadis mutawatir dalam tradisi keilmuan Islam. Secara historis, perdebatan tentang otoritas keduanya berakar pada pertentangan antara kepastian (qath‘iy) dan dugaan kuat (zhanniy) dalam penerimaan riwayat. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan pendekatan analisis kritis terhadap sumber-sumber hadis klasik (seperti karya al-Khatib al-Baghdadi dan Ibn Hajar al-‘Asqalani) serta pandangan kontemporer yang mengkaji ulang legitimasi epistemik hadis ahad. Hasil analisis menunjukkan bahwa hadis mutawatir memperoleh otoritas karena jaminan kuantitas dan keotentikan periwayatannya, sedangkan hadis ahad tetap memiliki validitas normatif selama memenuhi standar keadilan dan ketepatan sanad. Dalam konteks modern, problematika ini muncul kembali ketika rasionalisme dan kritik historis mencoba menguji ulang posisi hadis ahad dalam ranah hukum dan teologi. Artikel ini menawarkan sintesis baru bahwa keabsahan hadis tidak semata ditentukan oleh jumlah perawi, tetapi oleh integritas epistemologis, koherensi matan, dan relevansi moralnya dengan maqaṣid al-syari‘ah. Dengan demikian, perbedaan antara hadis ahad dan mutawatir harus dipahami secara dialektik: bukan sebagai dikotomi hierarkis, melainkan sebagai dua jalur epistemik yang saling melengkapi dalam menjaga kontinuitas ajaran profetik di tengah perubahan paradigma keilmuan Islam modern.
Respons Hukum Islam Terhadap Banjir Bandang Aceh dan Sumatera: Analisis Tarjih Muhammadiyah, Bahtsul Masail NU, dan Fatwa MUI Abid Nurhuda; Ali Anhar Syi'bul Huda; Ahmad Hadi Pranoto; Arif Al Anang; Muhammad Faqihuddin Ismail
JISRev: Journal of Islamic Studies Review Vol. 2 No. 1 (2026): JISRev: Journal of Islamic Studies Review
Publisher : LaKaspia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69548/jisrev.2.1.67

Abstract

This article examines the Islamic legal response to the recurring phenomenon of flash floods in Aceh and Sumatra by comparing the views of Tarjih Muhammadiyah, Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama, and the Indonesian Ulema Council's Fatwa. Flash floods are understood not merely as natural events, but as ecological-social crises with legal, ethical, and public policy implications. This study uses a qualitative-normative approach, with doctrinal, comparative, and contextual analyses of the official documents of the three religious institutions, as well as empirical data on disasters in Aceh and Sumatra. The results of the study show that although they differ methodologically (Muhammadiyah with a maqāṣid approach based on scientific data, NU with social fiqh and contextual maslahat, and MUI with ijtihad jama‘i and national maslahat), all three have strong common ground on the principles of protection of life, ecological responsibility, and collective obligations in mitigation and post-disaster recovery. This article affirms that contemporary Islamic law has the epistemological flexibility to respond to ecological crises in an integrative manner and has the potential to become a transformative normative framework in disaster management based on environmental justice and public interest.