Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Gerakan Wahabi: Analisis Historis dan Teologis dalam Konteks Keislaman Indonesia Khoirun Nisa' Nur Aini; Abid Nurhuda; Ali Anhar Syi'bul Huda; Inamul Hasan Ansori
JISRev: Journal of Islamic Studies Review Vol. 1 No. 2 (2025): JISRev: Journal of Islamic Studies Review
Publisher : LaKaspia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69548/jisrev.1.2.61

Abstract

Kajian ini mengulas secara komprehensif tentang teologi Wahabiyah dengan menelusuri sejarah, ajaran, serta proses penyebarannya, khususnya di Indonesia. Gerakan Wahabi berakar dari pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab (1703–1792 M) di Najd, Arab Saudi, yang mengusung ide purifikasi tauhid dan penolakan terhadap praktik keagamaan yang dianggap bid’ah, khurafat, serta syirik. Melalui dukungan politik keluarga Saud, gerakan ini berkembang menjadi ideologi resmi Kerajaan Arab Saudi dan kemudian menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka, dengan pendekatan historis dan teologis. Hasil kajian menunjukkan bahwa Wahabisme memiliki dua sisi utama: pertama, sisi positif yang menumbuhkan kesadaran umat untuk memurnikan ajaran tauhid; dan kedua, sisi negatif berupa munculnya eksklusivisme serta kecenderungan takfiri yang berpotensi mengganggu harmoni sosial-keagamaan. Di Indonesia, penyebaran paham ini difasilitasi oleh jaringan pendidikan dan dakwah Arab Saudi seperti LIPIA dan DDII. Kajian ini menegaskan perlunya pendekatan kritis dan kontekstual terhadap gerakan Wahabi agar tidak menimbulkan konflik intraumat beragama, serta mendorong penguatan Islam moderat sebagai penjaga keberagaman dan persatuan bangsa.
Tasawuf sebagai Basis Pluralisme: Studi Book Review terhadap Karya Syamsun Ni’am Abid Nurhuda; Muhammad Hariyadi; Nur Muhammad Lathif
JISRev: Journal of Islamic Studies Review Vol. 1 No. 2 (2025): JISRev: Journal of Islamic Studies Review
Publisher : LaKaspia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69548/jisrev.1.2.62

Abstract

Buku Tasawuf Kebinekaan di Nusantara karya Prof. Dr. H. Syamsun Ni’am, M.Ag yang direview dalam naskah ini menawarkan perspektif baru mengenai hubungan tasawuf dengan kebinekaan, keberagamaan, dan kebangsaan di Indonesia. Melalui kajian historis-sosiologis, penulis buku menelusuri pemikiran dan praktik para tokoh sufi Nusantara, mulai dari Walisongo, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Achmad Siddiq, hingga KH. Abdurrahman Wahid. Mereka menampilkan tasawuf bukan sekadar laku individual, melainkan energi sosial yang melahirkan toleransi, moderasi, dan cinta tanah air. Buku ini menegaskan bahwa nilai-nilai tasawuf sejalan dengan prinsip Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, sehingga mampu menjadi basis epistemologis bagi nation-building di tengah ancaman radikalisme, polarisasi identitas, dan krisis kebangsaan. Keistimewaan karya ini terletak pada keberhasilannya mengaitkan ajaran klasik sufistik dengan konteks kontemporer Indonesia, sekaligus memperlihatkan bahwa pluralisme tidak hanya wacana, tetapi praksis nyata dalam kehidupan berbangsa. Dengan analisis yang mendalam dan sistematis, buku ini memberikan kontribusi penting bagi studi tasawuf, ilmu sosial keagamaan, dan diskursus pluralisme, serta relevan sebagai referensi akademis maupun praktis dalam merawat harmoni kebangsaan di era modern.
Problematika Hadis Ahad dan Mutawatir: Kritik Epistemik terhadap Paradigma Kepastian dalam Otoritas Sunnah Ahmad Hadi Pranoto; Raharjo Raharjo; Lutfiyah Lutfiyah; Abid Nurhuda; Dena Sri Anugrah
JISRev: Journal of Islamic Studies Review Vol. 1 No. 2 (2025): JISRev: Journal of Islamic Studies Review
Publisher : LaKaspia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69548/jisrev.1.2.63

Abstract

Kajian ini menelaah problem epistemologis yang melingkupi perbedaan kedudukan antara hadis ahad dan hadis mutawatir dalam tradisi keilmuan Islam. Secara historis, perdebatan tentang otoritas keduanya berakar pada pertentangan antara kepastian (qath‘iy) dan dugaan kuat (zhanniy) dalam penerimaan riwayat. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan pendekatan analisis kritis terhadap sumber-sumber hadis klasik (seperti karya al-Khatib al-Baghdadi dan Ibn Hajar al-‘Asqalani) serta pandangan kontemporer yang mengkaji ulang legitimasi epistemik hadis ahad. Hasil analisis menunjukkan bahwa hadis mutawatir memperoleh otoritas karena jaminan kuantitas dan keotentikan periwayatannya, sedangkan hadis ahad tetap memiliki validitas normatif selama memenuhi standar keadilan dan ketepatan sanad. Dalam konteks modern, problematika ini muncul kembali ketika rasionalisme dan kritik historis mencoba menguji ulang posisi hadis ahad dalam ranah hukum dan teologi. Artikel ini menawarkan sintesis baru bahwa keabsahan hadis tidak semata ditentukan oleh jumlah perawi, tetapi oleh integritas epistemologis, koherensi matan, dan relevansi moralnya dengan maqaṣid al-syari‘ah. Dengan demikian, perbedaan antara hadis ahad dan mutawatir harus dipahami secara dialektik: bukan sebagai dikotomi hierarkis, melainkan sebagai dua jalur epistemik yang saling melengkapi dalam menjaga kontinuitas ajaran profetik di tengah perubahan paradigma keilmuan Islam modern.
Reconstruction of the Scientific Integration Model in Indonesia: The Offer of Qur'anic Epistemology Abid Nurhuda
Journal of Social Science and Humanities Vol. 1 No. 2 (2026): February
Publisher : CV. Tripe Konsultan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research stems from concerns about the deeply rooted dichotomy of knowledge within the Indonesian education system, where religious and general knowledge are often positioned separately, even in opposition to each other. This situation not only creates epistemological divisions but also weakens the nation's competitiveness in facing global challenges. This study offers a reconstruction model for scientific integration based on Qur'anic epistemology as an alternative that can present a more holistic, ethical, and relevant approach to the needs of the times. Using qualitative research methods based on literature reviews, this study critically examines the relationship between revelation, reason, and empirical experience, and places it within the context of the dynamics of contemporary Indonesian education and development. The results of the study indicate that Qur'anic epistemology has great potential to become a foundation for scientific integration, because it affirms the unity of knowledge sources, connects the transcendental dimension with empirical reality, and offers an ethical orientation for scientific development. This integration model encompasses epistemological, curricular, and institutional dimensions that together form a new scientific paradigm.
Hadith Criticism in Islam: Basic Concepts, Definitions, and Historical Development Abid Nurhuda; Aurizan Himmi Azhar; Nur Muhammad Lathif
International Journal of Religion, Humanity and Cultural Heritage Vol. 1 No. 4 (2025): December
Publisher : CV Projurnal Mitra Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66324/ijrch.v1i4.183

Abstract

Hadith occupies a central position in the normative structure of Islam as the second source of law after the Qur’an and the historical medium for transmitting the teachings of the Prophet Muhammad (peace be upon him). However, the humanistic nature of hadith narration makes the problem of authenticity an unavoidable epistemological issue. This article aims to analyze hadith criticism in Islam as a historical and scientific process that develops from personal belief to systematic methodological standards. This research uses a library study method with a historical-epistemological approach to classical and contemporary literature on hadith science. The results of the study indicate that hadith criticism has been present since the time of the Prophet Muhammad (peace be upon him) through direct verification mechanisms, developed during the era of the Companions and Tabi’in through the affirmation of the importance of sanad (chain of transmission), and reached methodological maturity in the codification and post-codification periods through the disciplines of rijāl, jarḥ wa ta’dīl, and musthalaḥ al-ḥadīth. In the medieval period, hadith criticism functioned as a means of preserving and perfecting the scientific heritage through the traditions of shari’ah and takhrij. Meanwhile, in the modern era, hadith criticism has been adaptive and dialogical in responding to the challenges of Orientalism and the Qur’anic scripturalism movement. This article asserts that hadith criticism is not a rejection of the Sunnah, but rather a foundation of scientific rationality that safeguards the Prophet’s authority from historical distortion and ensures its relevance throughout the ages.