Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

ANALISIS PERKEMBANGAN INDUSTRI KONTRAKTOR BOOTH PAMERAN DI JABODETABEK Astomo, Inggit Auliyani; Hijriyani, Devira; Muhammad, Wisaldo; Narolita, Mella
JSE: Jurnal Sharia Economica Vol. 5 No. 2 (2026): April
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/47n08b38

Abstract

This study aims to analyze the development of the exhibition booth contracting industry in the Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, and Bekasi area within the context of the MICE sector. The exhibition industry plays a vital role as an effective direct marketing medium, thereby increasing the demand for innovative and functional booths. This study employs a qualitative approach, utilizing data collection methods that include a questionnaire administered to 60 companies and interviews with 5 exhibition booth contractors. The results indicate that the booth contractor industry has experienced significant growth over the past five years, driven by the post-pandemic recovery of the MICE sector and increasing corporate branding needs. However, the industry also faces challenges such as price competition, fluctuations in production costs, and technical and technological complexities. Key factors influencing purchasing decisions include price, design quality, functionality, technological innovation, and vendor reputation. This study contributes to understanding industry dynamics and serves as a basis for strategic decision-making.  
Proses Produksi Event Budaya Studi Kasus Event Singkat Berbudaya 2025 Kabupaten Demak Putri, Aulia Restu Ariyanto; Narolita, Mella; Amalia, Hamsar Suci; Fitriyani, Nur
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 1 (2026): Februari - April
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i1.6451

Abstract

Event budaya memiliki peran strategis dalam pelestarian identitas lokal sekaligus penggerak sektor ekonomi pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk menjabarkan dan menganalisis proses produksi event budaya melalui studi kasus "Singkat Berbudaya 2025" di Kabupaten Demak dengan tema “Jagad Warna, Budaya Jawa”. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif selama proses produksi, studi dokumentasi, serta wawancara semi terstruktur kepada para pemangku kepentingan (organizer, vendor, dan exhibitor) yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan berdasarkan kerangka teori manajemen event. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses produksi Singkat Berbudaya 2025 dikelola secara sistematis melalui lima tahapan utama, yaitu Fase Konsep dan Proposal yang berbasis riset preferensi masyarakat sehingga terbentuk konsep acaara; Fase Pemasaran dan Penjualan untuk memperkuat dukungan pendanaan dan publikasi; Fase Koordinasi untuk terciptanya keselarasan teknis lintas divisi dan pihak eksternal; Fase Eksekusi sebuah proses produksi yang mengedepankan kontrol operasional di lapangan; serta Fase Tindak Lanjut sebagai bentuk evaluasi dan akuntabilitas melalui Laporan Pertanggungjawaban dan kepuasan stakeholder. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengelolaan event yang profesional dan terstruktur menjadi kunci keberhasilan dalam mentransformasikan kekayaan budaya menjadi daya tarik wisata yang mampu memberikan efek pengganda (multiplier effect) serta memperkuat branding wilayah secara berkelanjutan.
Persuasive Language in Wonderful Indonesia’s Top Destination Mella Narolita; Rahmi Fadhella
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 4: Juni 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i4.16123

Abstract

This study examines persuasive language in the Top Destinations section of the Wonderful Indonesia website. Official tourism websites are important because they provide travel information and shape destination image through promotional discourse. This research aims to identify the persuasive lexical choices, sentence patterns, and projected image themes used in the destination descriptions. The study employed a descriptive qualitative method with discourse analysis. The data were taken from nine selected destination descriptions on the official Wonderful Indonesia website, collected through documentation and note-taking. The analysis focused on words, phrases, clauses, and sentences that contain persuasive meaning. The findings show that the descriptions rely on positive adjectives, evaluative nouns, and attractive verbs to present destinations as beautiful, unique, prestigious, and memorable. The texts use declarative promotional patterns, recommendation structures, reader-oriented expressions, and imperatives to engage readers and encourage positive evaluations. These linguistic features construct recurring image themes of natural beauty, cultural richness, adventure, uniqueness, leisure, and prestige. The features project Indonesia as a diverse and attractive tourism destination. These results show how concise destination blurbs function as persuasive discourse in official tourism promotion.
Analisis Kebutuhan Pasar terhadap Jasa Kontraktor Booth Otomotif pada Event Pameran Otomotif di Indonesia Desla Bonita Pae; Nadilla Putri Galindra; Fachrul Zicri; Mella Narolita
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 5 No. 6: Mei 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v5i6.16732

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan pasar terhadap jasa kontraktor booth otomotif pada event pameran otomotif di Indonesia. Perkembangan industri pameran otomotif yang semakin pesat mendorong perusahaan otomotif untuk menghadirkan booth pameran yang lebih menarik, interaktif, dan representatif. Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya kebutuhan terhadap jasa kontraktor booth yang mampu memenuhi tuntutan teknis dan visual yang semakin kompleks. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam kepada enam perusahaan kontraktor booth yang pernah menangani brand otomotif pada pameran nasional maupun internasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan pasar terhadap jasa kontraktor booth otomotif mengalami perkembangan yang signifikan, meliputi kebutuhan desain premium, ukuran booth yang lebih besar, integrasi teknologi interaktif, sistem konstruksi modular, serta waktu produksi yang lebih cepat. Selain itu, klien juga membutuhkan area fungsional seperti display kendaraan, area transaksi, VIP lounge, ruang interaksi digital serta program penunjang aktivitas di booth. Temuan ini menunjukkan bahwa kontraktor booth perlu meningkatkan kemampuan desain, integrasi teknologi, serta efisiensi manajemen proyek. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memahami perkembangan kebutuhan pasar jasa kontraktor booth otomotif serta menjadi referensi bagi kontraktor booth dalam meningkatkan daya saing pada pameran industri.
Analisis Berbasis Korpus terhadap Terminologi Teknis MICE dari Situs Web Pusat Konvensi Menggunakan Voyant Tools dalam English for Specific Purposes (ESP) Mella Narolita
(JPAP) Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI
Publisher : Postgraduate University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jpap.v10i1.1444

Abstract

Industri Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) menuntut komunikasi teknis yang tepat dan sering kali melampaui kefasihan bahasa Inggris umum. Meskipun sektor ini tumbuh pesat di Indonesia, kurikulum English for Specific Purposes (ESP) mengalami kesenjangan yang sering kali memprioritaskan soft skills namun mengabaikan istilah-istilah khusus dalam bidang tersebut. Penelitian ini menjawab ketidakterhubungan tersebut dengan mengidentifikasi dan mengategorikan terminologi teknis MICE untuk menginformasikan desain kurikulum berbasis data. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, sebuah korpus yang terdiri dari 5.815 kata disusun dari sepuluh situs convention center di konteks internasional dan Indonesia. Analisis melalui Voyant Tools mengungkapkan bahwa wacana yang ada sangat memprioritaskan manajemen spasial, dengan istilah frekuensi tinggi meliputi room/rooms (109), meeting (80), dan space (50). Istilah tersebut disusun ke dalam empat kategori fungsional yaitu logistik spasial, operasional acara, metrik teknis, dan dukungan profesional. Temuan ini menunjukkan bahwa instruksi ESP harus beralih dari bahasa Inggris pariwisata umum menuju carrier content spesifik domain dan literasi kuantitatif, seperti mengomunikasikan capacity, dimensions, dan floor weight loading. Wacana digital otentik yang digunakan secara efektif menjembatani kesenjangan antara akademisi dan industri, sehingga membekali lulusan dengan keterampilan bahasa Inggris yang diperlukan untuk pasar MICE global.
Semantic shift of crisis neologisms in digital media: a sociolinguistic study Mella Narolita
Cendikia : Media Jurnal Ilmiah Pendidikan Vol 16 No 6 (2026): Education Science
Publisher : Institute of Computer Science (IOCS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/cendikia.v16i6.7360

Abstract

This study provides a sociolinguistic analysis of how crisis neologisms reconfigure their meanings in response to structural societal stress. Utilizing a descriptive qualitative method and Geoffrey Leech’s framework of seven types of meaning, this research investigates five prominent terms: burnout, quiet quitting, job hugging, hustle culture, and underconsumption. By analyzing linguistic data extracted from the News on the Web (NOW) Corpus, this study offers empirical evidence of significant semantic migration across the entire sample set. The findings reveal that these neologisms do not remain static; rather, they shift beyond their original conceptual definitions into affective, collocative, and connotative realms to reflect modern pressures such as labor instability, mental health crises, and changing consumption patterns. This research contributes a novel framework for digital lexicography, offering practical applications for media analysts and communication experts to better identify, decode, and interpret the linguistic indicators of emergent societal tensions.