Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pelatihan Emotional Literacy Support Assistant (ELSA) Untuk Mendampingi Pemulihan Sosioemosi Anak Korban Bullying Pada Guru SD Di Garut Emotional Literacy Support Assistant Training to Assist the Socio-Emotional Anastasia Wulandari; Eka Fauziyya Zulnida; Muhammad Ariez Musthofa; Syahnur Rahman; Sitti Chotidjah; Mif Baihaqi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5483

Abstract

Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) ini menyoroti masalah kekerasan dan perundungan yang menjadi ancaman serius bagi anak-anak di lingkungan pendidikan. Berdasarkan data Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) tahun 2023, perundungan paling banyak terjadi di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), diikuti oleh Sekolah Dasar (SD), dengan dua kasus fatal yang menyebabkan kematian. Fakta ini menegaskan bahwa perundungan bukan hanya sekadar masalah psikologis, tetapi juga berpotensi fatal. Kondisi ini sejalan dengan misi Program Studi Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, yang mencakup perlindungan anak. Perilaku agresif tersebut dapat menimbulkan dampak jangka panjang, seperti gangguan psikis, penurunan fungsi sosial, dan hambatan dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan intervensi berbasis psikologi. Sebagai kontribusi nyata, penelitian ini menguji efektivitas pelatihan Emotional Literacy Support Assistant (ELSA) bagi tenaga pendidik dalam mendampingi pemulihan sosioemosional korban perundungan. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan adanya peningkatan rata-rata skor dari pretest (xˉ=21.83) ke posttest (xˉ=22.39). Peningkatan ini menunjukkan tren positif, namun dari hasil uji t-test berpasangan, nilai t-hitung sebesar -1.970 dengan p-value dua arah 0.0615. Karena nilai p-value ini lebih besar dari taraf signifikansi 0.05, disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik antara rata-rata skor pretest dan posttest. Meskipun ada peningkatan, hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan tersebut belum cukup kuat untuk dianggap sebagai hasil yang signifikan pada populasi.
Pencegahan Kekerasan Seksual Pada Anak Melalui Emotional Well-Being Support Di Sekolah Indonesia Luar Negeri Gemala Nurendah; Selfiyani Lestari; Eka Fauziyya Zulnida; Hanna Maryama; Ruth Agestianti
Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat
Publisher : Progran Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpm.v7i1.822

Abstract

Kekerasan seksual pada anak dapat terjadi di berbagai tempat termasuk di lingkungan pendidikan serta berdampak negatif terhadap perkembangan anak. Program pengabdian kepada masyarakat luar negeri ini dilaksanakan di Sekolah Indonesia Luar Negeri CLC Ladang Ladong Simunjan, Sarawak, Malaysia, dengan tujuan untuk mencegah kekerasan seksual melalui psikoedukasi berbasis emotional well-being support. Program ini meliputi kegiatan edukasi, sosialisasi, permainan, dan roleplay yang berfokus pada pengenalan kekerasan seksual, pendidikan tentang kesetaraan gender, bahaya kekerasan seksual, dan pengembangan karakter pribadi dengan melibatkan 1 guru pamong, 2 guru bina, dan 54 siswa. Instrumen yang digunakan adalah pretest dan posttest yang dikembangkan berdasarkan materi edukasi untuk mengevaluasi peningkatan pengetahuan peserta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program psikoedukasi ini secara efektif meningkatkan pengetahuan peserta. Skor rata-rata pretest sebesar 32,9 meningkat menjadi 40,1 pada posttest. Hasil uji t berpasangan menunjukkan perbedaan yang signifikan (p < 0,001). Pemahaman yang baik terkait pencegahan kekerasan seksual dan pendidikan karakter positif dapat mendorong anak memahami perasaan diri sendiri dan orang lain, regulasi emosi secara positif, serta mempertahankan hak dan kepercayaan diri mereka termasuk kemampuan menolak atau membela diri jika menghadapi tindakan kekerasan seksual di masa depan.
Gambaran Kematangan Karir Anak Binaan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Anastasia Wulandari; Sri Maslihah; Ismawati Kosasih; Eka Fauziyya Zulnida
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 3 No. 2 (2023): Volume 3. No 2, Tahun 2023
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v3i2.36

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya anak binaan LPKA yang memutuskan bekerja setelah menyelesaikan masa pembinaan di LPKA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kematangan karir anak binaan LPKA. Lokasi penelitian dilakukan di LPKA Kelas II Bandung dengan sampel sebanyak 20 anak binaan yang akan menyelesaikan masa pembinaan dalam 3-6 bulan lagi. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan wawancara untuk menggali kematangan karir anak binaan. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner kematangan karir dan dilanjutkan dengan wawancara kepada 9 orang anak binaan. Hasil pengolahan data deskriptif kematangan karir anak binaan didapati 15 % berada pada kategori sangat rendah, 40% rendah, 40% tinggi dan 5 % kategori sangat tinggi. Data tersebut menunjukkan bahwa anak dengan kategori kematangan karir rendah dan tinggi menunjukkan jumlah yang sama. Hasil wawancara pada 9 orang anak yang berada pada kategori tinggi, rendah dan sangat rendah menunjukkan bahwa anak pada kategori tinggi umumnya sudah mampu menyatakan karir yang ingin dicapainya di masa yang akan datang, sementara anak dengan kategori rendah masih ragu dengan karir yang ingin dicapainya. Baik anak dengan kategori tinggi maupun rendah mampu mengenali potensi atau kelebihan yang dimilikinya. Kata kunci: kematangan karir; anak binaan; LPKA