Nofik Afriko
Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Model Pendidikan, Pendidikan Multikultural, Peranan Guru, Pendidikan Karakter Nofik Afriko; Julhadi Julhadi; Mahyudin Ritonga
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.7917

Abstract

Indonesia sebagai bangsa yang multietnis, multikultural, dan multireligius membutuhkan model pendidikan yang mampu menumbuhkan sikap toleran, demokratis, dan berkarakter. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep model pendidikan multikultural, pendidikan karakter, serta peranan guru dalam membangun karakter peserta didik melalui pendidikan multikultural. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode studi kepustakaan (library research) terhadap berbagai sumber literatur yang relevan, baik buku maupun artikel ilmiah. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan multikultural merupakan model pendidikan yang menekankan penghargaan terhadap keragaman budaya, etnis, agama, dan latar belakang sosial peserta didik. Pendidikan karakter berbasis multikultural dapat diimplementasikan secara efektif melalui prinsip integratif, kompak, dan konsisten, yaitu dengan mengintegrasikan nilai-nilai multikultural ke dalam seluruh kegiatan sekolah, melibatkan seluruh komponen pendidikan, serta menerapkannya secara berkelanjutan tanpa diskriminasi. Guru memiliki peranan strategis sebagai teladan, fasilitator, dan agen perubahan dalam menanamkan nilai-nilai toleransi, keadilan, dan penghargaan terhadap perbedaan kepada peserta didik. Dengan demikian, pengembangan model pendidikan karakter berbasis multikultural tidak hanya relevan tetapi juga menjadi kebutuhan mendesak dalam sistem pendidikan nasional. Implementasi yang tepat diharapkan mampu membentuk peserta didik yang berkarakter, berakhlak mulia, serta mampu hidup harmonis dalam masyarakat yang plural.
Islam dan Hak-Hak Minoritas: Analisis tentang bagaimana Islam memandang hak-hak minoritas dan bagaimana konsep ini dapat diterapkan dalam masyarakat yang pluralism Mulyadi Mulyadi; Nofik Afriko; Tamrin Kamal; Riki Putra; Julhadi Julhadi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pluralitas agama, etnis, dan budaya merupakan keniscayaan sosial yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan masyarakat modern. Dalam konteks ini, perlindungan terhadap hak-hak minoritas menjadi salah satu indikator utama keadilan sebuah peradaban. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Islam memandang hak-hak kelompok minoritas serta bagaimana konsep tersebut dapat diaplikasikan dalam masyarakat pluralistik kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan analisis normatif-teologis dan historis terhadap sumber-sumber utama Islam, seperti al-Qur’an, hadis, serta praktik sejarah Nabi Muhammad saw., khususnya melalui Piagam Madinah. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa Islam sejak awal mengakui pluralitas sebagai sunnatullah dan meletakkan prinsip keadilan, kebebasan beragama, serta perlindungan martabat manusia sebagai fondasi relasi sosial. Konsep ahl al-żimmī dalam fikih klasik memperlihatkan adanya jaminan hak-hak fundamental bagi minoritas non-Muslim, meliputi perlindungan jiwa dan harta, kebebasan beribadah, hak ekonomi, jaminan sosial, serta partisipasi terbatas dalam kehidupan politik. Praktik historis di Madinah membuktikan bahwa Islam mampu membangun tatanan masyarakat multikultural yang damai dan inklusif melalui Piagam Madinah sebagai konstitusi bersama. Dalam konteks masyarakat plural modern, konsep perlindungan minoritas dalam Islam mengalami transformasi dari sistem żimmah menuju konsep kewarganegaraan setara (muwāṭanah), yang menekankan kesetaraan hak dan kewajiban seluruh warga negara tanpa diskriminasi agama. Dengan demikian, Islam memandang hak-hak minoritas bukan sekadar sebagai kompromi sosial-politik, melainkan sebagai kewajiban teologis dan etis yang berakar pada prinsip keadilan ilahi dan kemanusiaan universal. Konsep ini relevan untuk diterapkan dalam masyarakat plural seperti Indonesia guna memperkuat harmoni sosial dan semangat Bhinneka Tunggal Ika.