Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Islam dan Hak-Hak Minoritas: Analisis tentang bagaimana Islam memandang hak-hak minoritas dan bagaimana konsep ini dapat diterapkan dalam masyarakat yang pluralism Mulyadi Mulyadi; Nofik Afriko; Tamrin Kamal; Riki Putra; Julhadi Julhadi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pluralitas agama, etnis, dan budaya merupakan keniscayaan sosial yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan masyarakat modern. Dalam konteks ini, perlindungan terhadap hak-hak minoritas menjadi salah satu indikator utama keadilan sebuah peradaban. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Islam memandang hak-hak kelompok minoritas serta bagaimana konsep tersebut dapat diaplikasikan dalam masyarakat pluralistik kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan analisis normatif-teologis dan historis terhadap sumber-sumber utama Islam, seperti al-Qur’an, hadis, serta praktik sejarah Nabi Muhammad saw., khususnya melalui Piagam Madinah. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa Islam sejak awal mengakui pluralitas sebagai sunnatullah dan meletakkan prinsip keadilan, kebebasan beragama, serta perlindungan martabat manusia sebagai fondasi relasi sosial. Konsep ahl al-żimmī dalam fikih klasik memperlihatkan adanya jaminan hak-hak fundamental bagi minoritas non-Muslim, meliputi perlindungan jiwa dan harta, kebebasan beribadah, hak ekonomi, jaminan sosial, serta partisipasi terbatas dalam kehidupan politik. Praktik historis di Madinah membuktikan bahwa Islam mampu membangun tatanan masyarakat multikultural yang damai dan inklusif melalui Piagam Madinah sebagai konstitusi bersama. Dalam konteks masyarakat plural modern, konsep perlindungan minoritas dalam Islam mengalami transformasi dari sistem żimmah menuju konsep kewarganegaraan setara (muwāṭanah), yang menekankan kesetaraan hak dan kewajiban seluruh warga negara tanpa diskriminasi agama. Dengan demikian, Islam memandang hak-hak minoritas bukan sekadar sebagai kompromi sosial-politik, melainkan sebagai kewajiban teologis dan etis yang berakar pada prinsip keadilan ilahi dan kemanusiaan universal. Konsep ini relevan untuk diterapkan dalam masyarakat plural seperti Indonesia guna memperkuat harmoni sosial dan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
INTELIGENSIA/CENDEKIAWAN ISLAM SEBAGAI SEBUAH KELAS SOSIAL BARU: SEBUAH HARAPAN DAN PERJUANGAN EKSISTENSI DAN JATI DIRI SERTA BEBAN SEJARAH DAN MASA DEPAN Yuldafriyenti Yuldafriyenti; Tamrin Kamal; Saifullah Saifullah; Desi Asmaret; Julhadi Julhadi
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): Volume 6 No. 1 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i1.41039

Abstract

Inteligensia atau cendekiawan Islam berada dalam posisi unik untuk membantu umat Islam menghadapi kesulitan-kesulitan modernitas. Salah satu perkembangan signifikan dalam dinamika sosial dan intelektual umat Islam adalah munculnya ulama Islam sebagai kelas sosial baru. Baik secara politik maupun intelektual, para pemikir Islam Indonesia telah mengalami pasang surut. Metode yang digunakan yakni Kualitatif dengan desain studi literature atau library research. Kemudian dilakukan dengan meninjau sumber bacaan yang terkait dengan topik penelitian yang dibahas, serta dengan meninjau studi dokumen dari penelitian sebelumnya yang berkaitan konsep. Data dikumpulkan dengan meliat buku, jurnal ilmiah serta sember digital. Hasil penelitian membahas mengenai pengertian inteligensia atau cendekiawan, peran cendekiawan muslim. Cendekiawan Islam dapat dipandang sebagai kelas sosial baru yang terbentuk melalui proses pendidikan modern, baik di lembaga-lembaga Islam tradisional maupun institusi pendidikan sekuler.
Multiculturalism from the Perspective of Islamic Law and Its Application in Education Yuliani; Syahrul Fadli. R; Yuliarni; Ali Amat; Maigus; Mira Salsabila; Tamrin Kamal; Firdaus
Asian Journal of Applied Education (AJAE) Vol. 5 No. 3 (2026): July 2026
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/ajae.v5i3.16594

Abstract

This study examines the concept of multiculturalism from the perspectives of classical and contemporary Islamic law and its application in Islamic education. It employs a qualitative, library-based research approach, analyzing academic literature concerning multiculturalism, Islamic law, and Islamic education. The findings indicate that multiculturalism in Islam rests on a strong normative foundation rooted in principles of justice, tolerance, and respect for diversity. From a classical Islamic legal perspective, the multicultural concept is reflected in the Charter of Medina, the *ahl al-dhimmah* concept, and the social practices of early Muslim communities that accommodated plurality. Meanwhile, contemporary Islamic thought offers a reinterpretation of multicultural concepts through approaches emphasizing religious moderation, human rights, and democracy. Multicultural values ​​can be implemented in Islamic education by developing inclusive curricula, strengthening teacher competence, and creating educational environments that value diversity. The study affirms that multicultural education within Islam impacts the cognitive, affective, and psychomotor development of learners, contributing to the creation of an inclusive and harmonious society.
REVIEW HISTORIS PENDIDIKAN ISLAM ABAD KE-19 : SEJARAH, TOKOH, PROBLEMA DAN KONTRIBUSI PADA PERADABAN syafriyon; Saifullah SA; TAMRIN KAMAL; Desi Asmaret; Julhadi
Edusifa: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 8 No. 1 (2024): Edusifa:  Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : STIT Sirojul Falah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56146/edusifa.v8i1.224

Abstract

This research aims to review the history of Islamic education in the 19th century in the fields of history, problems and contributions to civilization. To take positive values from the progress of Islamic education in the past and take ibrah/lessons from the factors that trigger the decline of Islamic education. Islamic education aims to form perfect humans, carry out religious teachings, create a generation that believes and is devoted to Allah SWT, does good deeds, has noble character, has knowledge and is able to compete with the progress of the times. This research uses a qualitative method, namely in-depth observation of the history of Islamic education in the 19th century, as well as revealing several figures who have succeeded in laying the foundations of Islamic civilization, in building the ummah, as well as the contributions that have been inherited in the world of education, such as: Muhammad Abdh, Rasyid Ridah, Jamaludin Al Afgani, Fathi al-Fawzan, as well as Indonesian national figures such as Syekh Ahmad Kahtib Al Minangkabawi, KH. Ahmad Dahlan, Hasyim al-'Asy'ari, Rahma El Yunusiyah and others. They were figures who contributed greatly to building Islamic civilization. Islamic education figures contributed to the development of Islam so that it was able to reach the peak of Islamic glory during the Abbasid dynasty as evidenced by the birth of famous Islamic figures such as Al Farabi, Ibnu Sina, Ibn Tufail and left a valuable legacy in science. The contribution of written works from Islamic figures becomes gold work and is very valuable as a reference in the world of education