Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Perbandingan Penggunaan dan Waktu Pelaksanaan Metode Triage Emergency Severity Index (ESI) dan Simple Triage and Rapid Treatment (START) di Instalasi Gawat Darurat Annalia Wardhani; Insana Maria; Rusdi Rusdi; Fir'ad Setya Nugraha; Winda Sari; Zahara Noor Fadhila
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.668

Abstract

Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan unit pelayanan kesehatan yang memberikan penanganan segera kepada pasien dengan kondisi kegawatdaruratan. Ketepatan dalam menentukan prioritas pasien melalui sistem triage sangat penting untuk mencegah keterlambatan penanganan pada pasien kritis. Beberapa metode triage yang umum digunakan adalah Emergency Severity Index (ESI) dan Simple Triage and Rapid Treatment (START). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan penggunaan serta waktu pelaksanaan metode triage ESI dan START dalam menentukan prioritas pasien di instalasi gawat darurat. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan komparatif yang dilaksanakan di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Ratu Zalecha Martapura. Sampel penelitian berjumlah 25 perawat yang dipilih menggunakan teknik nonprobability sampling dengan metode accidental sampling. Instrumen penelitian berupa lembar observasi waktu pelaksanaan triage, kuesioner penggunaan metode triage, serta rekam medis pasien sebagai data pendukung. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dan uji Mann-Whitney dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perawat menggunakan metode ESI sebanyak 18 orang (72%), sedangkan metode START digunakan oleh 7 orang (28%) dengan perbedaan yang signifikan (χ² = 4,840; p = 0,028). Rata-rata waktu pelaksanaan triage metode ESI adalah 18,39 ± 2,45 detik, sedangkan metode START adalah 11,29 ± 1,11 detik. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara kedua metode (Z = -3,786; p < 0,001) dengan effect size besar (r = 0,76). Dapat disimpulkan bahwa metode START lebih cepat dalam pelaksanaan triage, sedangkan metode ESI memberikan klasifikasi kegawatan pasien yang lebih komprehensif.
Manajemen Kepatuhan Pengobatan Antiretroviral di Poli VCT HIV Kusnindyah Praedevy Reviagana; M. Noor Ifansyah; Rusdi Rusdi
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 7 No. 5 (2025): Oktober 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i5.684

Abstract

Saat ini belum terdapat pengobatan HIV yang berfungsi untuk menyembuhkan, namun terdapat pengobatan antiretroviral yang berfungsi untuk mensuspresi perkembangan virus di dalam tubuh. Dalam melaksanakan pengobatan diperlukan kepatuhan yang tidak hanya menjadi tanggung jawab pasien, namun juga layanan PDP yaitu RS sebagai layanan pengobatan pasien, atau dalam hal ini adalah poli VCT. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor pendukung, penghambat, dan metode pemantauan kepatuhan pasien ODHIV yang mengakses layanan pengobatan di poli VCT. Penelitian ini memiliki metode kualitatif dengan melakukan diskusi kelompok terfokus pada 6 informan antara lain dokter, perawat, petugas farmasi, petugas laboratorium, dan pendukung sebaya di Poli VCT As-Syifa. Hasil dari penelitian dianalisis secara tematik dan mendapatkan informasi bahwa berbagai dukungan yang diberikan Poli VCT As-Syifa antara lain adalah melakukan pemeriksaan lengkap ketika pasien melakukan pengambilan obat ARV, melakukan jemput bola kepada pasien ODHIV baru, bekerja sama dengan dinas kesehatan dan KPA setempat, mengoptimalisasikan peran pendukung sebaya (PS) dengan ODHIV, dan melakukan pemantauan data pasien melalui sistem informasi HIV AIDS (SIHA) agar dapat melihat pasien yang cenderung loss to follow up (LTFU). Hal tersebut dilakukan demi mendukung kelancaran pengobatan ODHIV. Selain itu terdapat media edukasi dan peran dari pendukung sebaya untuk memberikan pemahaman dan pemantauan terhadap pengobatan, dan dukungan pemerintah. Namun masih terdapat faktor penghambat yang harus diperhatikan antara lain pemahaman tentang teknologi yang seharusnya memudahkan pemberian edukasi dan komunikasi tentang pengobatan, rasa malu, takut menerima stigma, terlupa minum obat, akses terhadap layanan PDP, dan juga kondisi tubuh yang sudah merasa sehat.
HUBUNGAN IMT (INDEKS MASSA TUBUH), JUMLAH KEHAMILAN DAN RIWAYAT HIPERTENSI AKIBAT KEHAMILAN DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN DI PUSKESMAS MARTAPURA 1 Rusdiana Rusdiana; Rusdi Rusdi; Zubaidah Zubaidah; Restu Putra Kamanda
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 8 (2026): Januari 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hypertension in pregnancy is a condition in which blood pressure increases to ≥140/90 mmHg during pregnancy. It remains one of the leading causes of maternal morbidity and mortality in Indonesia. Risk factors include body mass index, number of pregnancies, and a history of hypertension in previous pregnancies. This study aimed to determine the relationship between body mass index, number of pregnancies, and history of pregnancy-induced hypertension with the incidence of hypertension in pregnancy, specifically at Puskesmas Martapura 1. The study used a quantitative approach with a cross-sectional design. From a total population of 296 pregnant women, 174 were selected using purposive sampling. Data were collected using an observation sheet and analyzed using the Spearman’s rho test. The results showed that the majority of respondents were overweight, had ≤2 pregnancies, and had no history of hypertension in previous pregnancies. The Spearman’s rho test indicated that body mass index (p = 0.831) and number of pregnancies (p = 0.070) had no significant relationship with the incidence of hypertension in pregnancy. However, a history of pregnancy-induced hypertension showed a significant association (p = 0.000). These findings suggest that a history of hypertension in pregnancy is an important factor to consider. Therefore, pregnant women with such a history should be more vigilant and regularly monitor their blood pressure to prevent recurrence