Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Aksiologi Filsafat Pendidikan Islam Dalam Pembentukan Akhlak Digital Peserta Didik Dewi Sri Wahyuniarti; Rahmad Fadhli; Yahanan Yahanan; Siti Mahmudah Noorhayati
Pedagogik Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : CV Edu Tech Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65311/pedagogik.v4i1.1834

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan yang signifikan dalam pola interaksi dan perilaku peserta didik, sekaligus memunculkan berbagai persoalan etika dan akhlak di ruang digital. Fenomena seperti cyberbullying, penyebaran hoaks, dan rendahnya tanggung jawab bermedia menunjukkan bahwa penguasaan teknologi belum diiringi dengan kematangan moral. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji aksiologi filsafat pendidikan Islam sebagai kerangka normatif dalam pembentukan akhlak digital peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kepustakaan dengan metode analisis filosofis-kritis terhadap literatur primer dan sekunder yang relevan dengan pendidikan Islam, etika digital, dan pendidikan karakter. Hasil kajian menunjukkan bahwa nilai-nilai aksiologis Islam, khususnya adil, ihsan, dan amanah, memiliki relevansi konseptual dan aplikatif dalam membimbing perilaku peserta didik di ruang digital. Nilai-nilai tersebut berfungsi sebagai fondasi etis yang mengaitkan aktivitas digital dengan tanggung jawab moral dan spiritual. Kajian ini menegaskan bahwa pembentukan akhlak digital memerlukan pendekatan pendidikan yang berorientasi pada internalisasi nilai, bukan semata-mata pada kecakapan teknologis, serta memberikan kontribusi konseptual bagi pengembangan pendidikan Islam yang responsif terhadap tantangan era digital.
Filsafat Kurikulum Pendidikan Islam Ananda Pane; Kholid Jamhuri Harahap; Yahanan Yahanan; Siti Mahmudah Noorhayati
Jurnal Riset Pendidikan Multidisiplin dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 4 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : SMA Negeri 1 Bangkinang Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrppm.v1i4.140

Abstract

Kurikulum merupakan komponen fundamental dalam sistem pendidikan Islam yang berfungsi sebagai panduan untuk mencapai tujuan pendidikan yang berkualitas. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis konsep filsafat kurikulum pendidikan Islam, mengidentifikasi landasan-landasan yang mendasarinya, serta menjelaskan prinsip dan asas yang menjadi pedoman pengembangan kurikulum pendidikan Islam. Metode kajian yang digunakan adalah studi literatur dengan menganalisis berbagai sumber pustaka yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa kurikulum pendidikan Islam memiliki karakteristik khusus yang berlandaskan pada Al-Qur'an dan Hadis, serta terintegrasi dengan nilai-nilai keislaman dalam seluruh aspek pendidikan. Landasan kurikulum pendidikan Islam meliputi landasan religius, filosofis, psikologis, sosiologis, dan organisatoris yang saling berkaitan dan melengkapi. Prinsip-prinsip kurikulum pendidikan Islam mencakup keterkaitan dengan ajaran Islam, komprehensif, relevansi, efisiensi, individualitas, dan efektivitas. Sementara itu, asas-asas kurikulum meliputi asas religius, falsafah, psikologis, sosiologis, organisatoris, sosial budaya, dan teknologi. Kurikulum pendidikan Islam yang dikembangkan dengan memperhatikan landasan, prinsip, dan asas tersebut diharapkan mampu membentuk generasi yang beriman, berakhlak mulia, serta memiliki kompetensi yang diperlukan untuk kehidupan di dunia dan akhirat.
Peran Pendidikan Dalam Kemajuan Dan Kemunduran Peradaban: Perspektif Ibnu Khaldun Faiqotus Nabila; Samsimah; Saepul Malik; Siti Mahmudah Noorhayati
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 4: Juni 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i4.18230

Abstract

Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kemajuan dan mencegah kemunduran peradaban. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya mengkaji peran pendidikan dalam perspektif pemikiran Ibnu Khaldun. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis konsep pendidikan serta perannya dalam dinamika peradaban, baik sebagai faktor kemajuan maupun kemunduran. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui kajian terhadap Muqaddimah dan literatur relevan lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan berperan strategis dalam membentuk kualitas sumber daya manusia, memperkuat solidaritas sosial, serta mendorong perkembangan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, lemahnya pendidikan dapat menyebabkan stagnasi intelektual dan kemunduran peradaban. Konsep pendidikan Ibnu Khaldun yang menekankan pembelajaran bertahap, pendekatan humanis, dan integrasi ilmu serta akhlak terbukti relevan dengan pendidikan kontemporer. Dengan demikian, pendidikan menjadi kunci utama dalam membangun peradaban yang maju, berkelanjutan, dan beradab.
Epistemologi Dalam Filsafat Pendidikan Islam Azhar Azmi Manurung; Syifa Zulfi; Siti Mahmudah Noorhayati; Yahanan Yahanan
Cermat : Jurnal Cendekiawan dan Riset Multidisiplin Akademik Terintegrasi Vol. 2 No. 1 (2026): Januari-April
Publisher : SMA Negeri 1 Bangkinang Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cermat.v2i1.118

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam konsep epistemologi dalam filsafat pendidikan Islam, meliputi sumber dan validitas pengetahuan, serta pendekatan epistemologi bayani, irfani, dan burhani. Epistemologi dalam pendidikan Islam memiliki kekhasan tersendiri karena tidak hanya mengandalkan rasio dan empirisme sebagaimana tradisi Barat, tetapi juga menempatkan wahyu sebagai sumber kebenaran absolut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis terhadap literatur-literatur primer dan sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber pengetahuan dalam epistemologi pendidikan Islam terdiri dari tiga pilar utama: ayat-ayat ilahiyah (Al-Qur'an dan Sunnah), ayat-ayat insaniyah (potensi akal, indera, hati, dan fitrah manusia), dan ayat-ayat kauniyah (fenomena alam semesta). Validitas pengetahuan dalam Islam diukur bukan hanya dari aspek rasionalitas dan empirisitas, tetapi juga dari kesesuaiannya dengan nilai-nilai tauhid, moral, dan tujuan spiritual. Ketiga pendekatan epistemologi—bayani (tekstual), irfani (intuitif-spiritual), dan burhani (rasional-empiris)—saling melengkapi dalam membentuk fondasi epistemologi pendidikan Islam yang holistik dan integratif. Implikasi dari penelitian ini adalah perlunya pengembangan kurikulum pendidikan Islam yang mengintegrasikan ketiga pendekatan epistemologi tersebut secara seimbang agar menghasilkan peserta didik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual, kematangan moral, dan kesadaran akan tanggung jawab sebagai khalifah Allah di muka bumi
METODE DIALEKTIKA DALAM PENDIDIKAN ISLAM: SINTESIS KLASIK-MODERN MENUJU INSAN KAMIL Aura sufi sabila; Despita Amalina Harahap; Widya Eka Putri Pohan; Siti mahmudah noorhayati; Yahanan Yahanan
Cermat : Jurnal Cendekiawan dan Riset Multidisiplin Akademik Terintegrasi Vol. 2 No. 1 (2026): Januari-April
Publisher : SMA Negeri 1 Bangkinang Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cermat.v2i1.198

Abstract

Pendidikan Islam kontemporer menghadapi tantangan reduksi fungsi ke aspek kognitif semata, dikotomi ilmu agama-umum, dan krisis identitas moral akibat globalisasi dan digitalisasi. Penelitian ini mengkaji metode dialektika sebagai solusi potensial melalui sintesis tesis-antitesis yang mengintegrasikan pemikiran filsuf Islam klasik (Al-Farabi, Al-Ghazali, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun) dengan konteks modern. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi literatur dan analisis konseptual terhadap sumber primer dan sekunder terkait filsafat pendidikan Islam dan dialektika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode dialektika efektif mengintegrasikan rasionalitas (Al-Farabi) dengan spiritualitas (Al-Ghazali), individualitas dengan sosialitas (Ibnu Khaldun), serta idealisme dengan realisme untuk mencapai keseimbangan ruhani-jasmani-akal menuju pembentukan insan kamil. Implementasi dialektika dalam kurikulum melalui tahap tesis (pengenalan materi), antitesis (diskusi ketegangan), dan sintesis (proyek kreatif) terbukti meningkatkan kemampuan berpikir kritis, identitas Islam, dan tanggung jawab sosial siswa, sehingga pelatihan guru PAI menggunakan metode dialektika, pengembangan kurikulum berbasis langkah tesis-antitesis-sintesis, serta penelitian empiris lanjutan untuk validasi implementasi di madrasah Indonesia sangat urgensi.
Islamic Educational Philosophy as a Foundation for Character Education in Schools Reno Aji Prayitno; Ali Patoni; Mufid Renov Maradika; Siti Mahmudah Noorhayati
Al-Hikmah: International Journal of Islamic Studies Vol. 2 No. 1 (2026): JUNI
Publisher : PT. Education Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64540/40wy3269

Abstract

Character education has become a central concern in contemporary education due to increasing moral, social, and technological challenges among learners. Various problems such as declining discipline, dishonesty, weak responsibility, low social concern, and identity crises indicate that education should not only emphasize cognitive achievement but also strengthen moral and spiritual formation. This study aims to analyze Islamic educational philosophy as a foundation for character education in schools through ontological, epistemological, and axiological perspectives. This research employs a qualitative approach using library research. Data were obtained from books, scholarly journal articles, legal documents, and relevant academic sources related to Islamic educational philosophy and character education. The data were analyzed through content analysis and philosophical interpretation. The findings show that Islamic educational philosophy provides a comprehensive framework for character education through the concepts of tawhid, fitrah, akhlaq, and insan kamil. Ontologically, learners are viewed as human beings endowed with moral potential. Epistemologically, Islamic education integrates revelation, reason, and experience. Axiologically, noble character is positioned as the ultimate goal of education. This study contributes to the development of Islamic values-based character education that is holistic, integrative, and relevant to the digital era.
Moral And Spiritual Education In Buya Hamka's Educational Thought Affan Haydar; Siti Mahmudah Noorhayati
Al-Hikmah: International Journal of Islamic Studies Vol. 2 No. 1 (2026): JUNI
Publisher : PT. Education Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64540/ef6z2g18

Abstract

The rapid transformation of modern society driven by technological advancement, globalisation, and socio-cultural change has generated significant challenges for Islamic education, particularly in addressing moral decline, spiritual alienation, and the dehumanisation of educational practices. This study aims to analyse the concepts of moral and spiritual education in the thought of Buya Hamka and examine their relevance to contemporary Islamic education. The research employs a qualitative library research approach using philosophical hermeneutics as the primary analytical framework. Primary data were derived from Hamka’s major works, including Tasawuf Modern, Lembaga Budi, Pribadi Hebat, and Tafsir al-Azhar, while secondary data were obtained from scholarly books, journal articles, and related academic studies. Data were analysed through content analysis and contextual interpretation to identify the fundamental principles and educational implications of Hamka’s ideas. The findings reveal that Hamka’s educational philosophy is founded upon an integrative paradigm that harmonises intellectual, moral, and spiritual dimensions. Moral education is centred on character formation through value internalisation, exemplary conduct, and ethical habituation, while spiritual education emphasises the strengthening of faith, worship, self-control, and inner purification through the framework of modern Sufism. The novelty of this study lies in its integrated examination of morality and spirituality as a unified epistemological foundation of Islamic education. The study concludes that Hamka’s thought offers a relevant and transformative educational paradigm capable of addressing contemporary moral and spiritual crises while promoting holistic human development based on religious humanism and Islamic values.  
Konsep Ta’dib dalam Filsafat Pendidikan Syed Muhammad Naquib Al-Attas dan Relevansinya terhadap Krisis Adab Modern Neni Hariyani Hairunnisa; Dayu Sumantoro; Siti Maryam; Siti Mahmudah Noorhayati
JDP (JURNAL DINAMIKA PENDIDIKAN) Vol. 13 No. 3 (2026): JULI
Publisher : Educational Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64540/pw3d6310

Abstract

  This study aims to analyze the concept of ta’dīb in the philosophy of education proposed by Syed Muhammad Naquib Al-Attas and its relevance to the crisis of adab in modern education. The crisis of modern education is not merely related to technical-pedagogical issues but is rooted in epistemological and ontological problems resulting from the dominance of secular, positivistic, and utilitarian paradigms that separate knowledge from spiritual and moral values. This research employs a qualitative method with a library research approach. Primary data were obtained from the works of Syed Muhammad Naquib Al-Attas, particularly Islam and Secularism and The Concept of Education in Islam, while secondary data were collected from relevant books, journals, and scholarly articles. Data were analyzed using a descriptive-analytical method with philosophical and hermeneutical approaches to understand the epistemological, ontological, and axiological dimensions of the concept of ta’dīb. The findings reveal that ta’dīb represents an integrative and holistic concept of Islamic education, positioning adab as the core of education in shaping a civilized human being (insān ādabī). This concept emphasizes not only the acquisition of knowledge but also the development of moral character, spirituality, and ontological awareness in relation to God, humanity, and nature. Furthermore, ta’dīb demonstrates strong relevance in addressing the problems of secularization, the dichotomy of knowledge, and moral degradation in modern education through the integration of knowledge and values within the framework of tawḥīd. Therefore, ta’dīb can be regarded as a relevant and transformative paradigm of Islamic education in responding to the crisis of adab in the modern era.