Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Makna Ritus Kematian pada Etnis Bugis di Banten Eva Syarifah Wardah; Romi Romi
Tsaqofah Vol 17 No 1 (2019): June 2019
Publisher : Departement of History and Islamic Civilization, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tsaqofah.v17i1.3173

Abstract

For the Bugis community in the Bugis Karangantu Banten village, death has a rite that is heavily colored by Islamic teachings. This is because death is the transition of human life from the real world to the mysterious realm, and Islam is believed to be a religion that can answer all mysterious problems after death. However, there are still some forms of ritual that appear to be inherited from pre-Islamic traditions. There are two unique rituals from the death rites of the Bugis Muslim community on the coast of Karangantu Banten, which are not found in the death rites of the Muslim community of Banten in general. First, the Mapasili rite which is performed on the 3rd day, and second, the Matampung rite which is generally performed on the 7th or 40th day, or after several months or one year has passed depending on the readiness of funds from the family of the deceased to perform the rite. this is because it costs a lot of money, such as a celebration or wedding ceremony. The Matampung rite is the biggest rite along the death rite for the Bugis people on the Karangantu coast, Banten
Keterlibatan Md. Juhdi Ma’mur Dalam Organisasi Pembela Tanah Air (Peta) Di Banten Tahun 1943-1945 milasari handayani; zaenal abidin; Eva Syarifah Wardah
Tsaqofah Vol 16 No 1 (2018): June 2018
Publisher : Departement of History and Islamic Civilization, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tsaqofah.v16i1.3194

Abstract

Muhamad Juhdi Ma’mur is one of the leaders of the Banten fighters who came from the village of Pancaregang, Pancanegara, Pabuaran district. Juhdi born in year 1917 and died in the year 1945. Juhdi Ma’mur is an Indonesian Defense Defender (PETA) who served as the Platoon Commander and become a member of the People’s Security Agency. On October 3, 1943 was established PETA which serves to maintain the homeland. PETA the first time is was established in Banten was Daidan I under the leadership of K.H Syam’un and Daidan II under the leadership of the leadership E.O Ternaya. In the beginning Daidan I domiciled in Serang then moved to Labuan. K.H Syam’un founded Daidan III in Cilegon again. Daidan I in Labuan was handed over to K.H Khatib, next set up Daidan IV led by Tb. Uding Suryatmaja.
Sejarah Perkembangan Filologi Eva Syarifah Wardah
Tsaqofah Vol 1 No 1 (2002): December 2002
Publisher : Departement of History and Islamic Civilization, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tsaqofah.v1i1.3484

Abstract

masalah filologi sudah dikenal sejak beberapa abad yang lain terutama dalam pengakajian tentang teks klasik maupun pernaskahan. Mengetengahkan Filologi artinya dengan membicarakan bahasa budaya, sejarah, antropologi, sosial dan hukum karena erat kaitannya dengan manusia. Manusia seorang pujangga yang sangat akrab dengan dunia sasrra begitunpula seorang sejarawab tetap lekat dengan keserajarahannya. Disiplin ilmu yang disebutkan di atas selalu berhubungan dengan filologi baik secara sadar maupun tidak sadar tetap memadang perlu adanya filologi. Dari sini daoat dilihat betapa pentingya dunia filologi bagi pengembangan dan perkembangan dunia ilmu pengetahuan khususnya pernaskahan.
Penyelenggaraan Perpustakaan yang Mampu Menjaga Pelestarian Bahan Pustaka Eva Syarifah Wardah
Tsaqofah Vol 7 No 2 (2009): December 2009
Publisher : Departement of History and Islamic Civilization, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tsaqofah.v7i2.3502

Abstract

Penyelenggaraan perpustakaan sangat penting `untuk menjaga pelestarian bahan pustaka secara fisik maupun menyelamatkan nilai-nilai informasi yang terkandung di dalamnya. Agar tujuan dan fungsi perpustakaan dapat tercapai secara balk sesuai dengan sasaran yang telah ditentukan, maka perpustakaan harus dikelola dengan balk sesuai dengan prinsip-prinsip manajemen. Hal yang harus diperhatikan dalam penyelenggaraan perpustakaan meliputi lokasi gedung, perabotan dan peralatan, penataan ruang koleksi, pengembangan koleksi, perawatan dan pelestarian, dan sistem pelayanan. Selain itu peningkatan sumber daya manusia dari pustakawan/pengelola perpustakaan sangat penting untuk meningkatkan mutu dan kinerja perpustakaan.
Upacara Hajat Bumi dalam Tradisi Ngamumule Pare pada Masyarakat Banten Selatan Eva Syarifah Wardah
Tsaqofah Vol 15 No 2 (2017): December 2017
Publisher : Departement of History and Islamic Civilization, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tsaqofah.v15i2.3382

Abstract

Tradisi ngamumule pare pada aktifitas pertanian di Kecamatan Sobang dan Panimbang merupakan salah satu kearifan lokal yang memiliki manfaat secara ekonomi, sosial serta pelestarian lingkungan maka keberadaannya dapat berkelanjutan hingga saat ini. Manfaat ekonomi dapat diperoleh secara langsung dan tidak langsung, begitupun dengan manfaat sosial yakni kepatuhan pada tradisi, bertanggungjawab, kebersamaan, saling berbagi dan jujur. Keselarasan manusia dengan alamnya didasarkan pada pengalaman masa lalu membuat manusia menyadari dan perlu menjaga keselarasan dengan alam. Keberadaan kearifan lokal yang berupa kearifan terhadap lingkungan tentunya tidak dapat dipisahkan dari kondisi ekonomi, sosial dan lingkungan alam sekitarnya. Kebiasaan tersebut berkembang menjadi tradisi yang dipegang sebagai pedoman untuk bertingkah laku positif terhadap alam. Kearifan lokal dibangun dari persepsi masyarakat akan kehidupan di masa lalu yang selaras dengan alam kemudian tertuang di dalam tingkah laku, pola hidup dan kebiasaan seharihari serta mendatangkan manfaat ekonomi, sosial dan lingkungan membentuk ikatan yang kuat antara masyarakat dengan kearifan lokal yang dianut. Masyarakat agraris yang memiliki suatu kepercayaan terhadap mitos yang diwujudkan dalam sebuah tradisi menghormti dan memulyalan Dewi Sri Pohaci. Upacara ritual Ngamumule Pare untuk menghormati Nyi Sri Pohaci tersebut dilaksanakan oleh seluruh masyarakat di Sobang dan Panimbang, prosesinya melibatkan seluruh warga masyarakat.Ilmu pengetahuan tentang mitos atau mitologi merupakan suatu cara untuk menghadirkan atau mengungkapkan Yang Ilahi melalui bahasa simbolik. Melalui pengetahuan ini memungkinkn manusia memberi tempat kepada bermacam kesan dan pengalaman hidup. Berdasarkan acuan yang diberikan mitos, manusia dapat berorientasi dalam kehidupan, ia tahu dari mana datang dan kemana akan pergi, asal-usul dan tujuan hidupnya dijelaskan dalam mitos. Mitos menyediakan suatu pegangan hidup. Mitos adalah cerita pemberi pedoman dan arah tertentu kepada sekelompok orang. Mitos, juga menyadarkan manusia akan kekuatan-kekatan gaib. Demikian juga yang terjadi pada mitos Dewi Sri Pohaci sebagai dewi padi yang diyakini oleh masyarakat petani di Kecamatan Sobang dan Panimbang yang menjadikan dasar dilestarikannya tradisi ngamumule pare pada aktifitas pertanian mereka.
Kesenian Tradisional Beluk dan Fungsinya di Masyarakat Banten Eva Syarifah Wardah
Tsaqofah Vol 9 No 02 (2011): December 2011
Publisher : Departement of History and Islamic Civilization, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tsaqofah.v9i02.3437

Abstract

Kesenian beluk adalah jenis kesenian tembang sekar irama memiliki yang umumnya menggunakan nada-nada tinggi dengan rumpaka, berpola kepada pupuh yang dikemas dalam akar cerita yang disebut wawacan. Kata Kunci: seni tradisional, seni Beluk, masyarakat Banten
Dari Toponimi Hingga Gastronomi: Melacak Tinggalan Jaringan Perdagangan Rempah di Banten Eva Syarifah Wardah; Eneng Malihatunnajiah
Tsaqofah Vol. 20 No. 1 (2022): Januari-Juni 2022
Publisher : Departement of History and Islamic Civilization, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tsaqofah.v20i1.5770

Abstract

Banten as an emporium which has progressed quite rapidly, especially in the spice trade network. Based on historical records, Banten was the administrative center of the Banten Sultanate as well as the center of the spice route with the main commodity of pepper, which has the best quality in the archipelago. The smell of spices eventually made merchants from various countries, such as Arab, Persian, Gujarat, Indian, Chinese, Dutch, Portuguese, and English visit Banten. So that since the 16th century Banten was known as a pepper and another spices such as pepper, nutmeg, cloves, cardamom, ginger, turmeric, cinnamon and many more. The foreigners are coming to Banten, made the sultan issue a policy of open free trade politics, among others, organizing the area based on ethnicity, activities, and production. The sultan’s policy had a major influence on the tracking of the spice routes in Banten. Besides spices being the political and economic reason for the Banten Sultanate to prosper the people, spices are also a catalyst for Banten’s domination and competition with foreign nations. The traces of this spice route become the heritage of the ancestors who have the values ​​of local wisdom.
Mengungkap Asihan dalam Manuskrip Awrād K.H. Sandra Koyimah, Koyimah; Al Ayubi, Sholahuddin; Sugito, Mohamad Shofin; Wardah, Eva Syarifah; Hidayat, Angga Pusaka
Jurnal Tamaddun: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 12, No 1 (2024)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/tamaddun.v12i1.17949

Abstract

Banten is one of the regions that houses a rich collection of magical manuscripts. In the Ciomas District, the Awrād manuscript of K.H. Sandra was unearthed, containing segments with magical teachings. This study aims to achieve two primary objectives: first, to identify Awrād manuscripts, and second, to contextualize these manuscripts within the lives of the Bantenese people. The research employs philological methods, encompassing manuscript inventory, description, transliteration, text editing, translation, and contextual analysis. The findings indicate that K.H. Sandra’s Awrād manuscript is a singular text, thus subjected to a standardized textual criticism process. Various errors such as omission, addition, and substitution are found in the process of textual criticism. This manuscript underscores that magical practices are deeply ingrained in the social fabric of Bantenese society, particularly in addressing challenges perceived as insurmountable through rational means. The Awrād manuscript serves as compelling evidence of the community’s steadfast belief in magical potency. These practices are not confined to social rituals but are also intertwined with religious life. This research underscores the necessity of preserving and further investigating similar manuscripts to gain a deeper understanding of Bantenese cultural heritage and magical traditions.
Harmoni Agama Pada Masyarakat Adat Baduy Wardah, Eva Syarifah; Sujana, Achmad Maftuh; Tausiyah, Dalilah
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i1.25700

Abstract

Keyakinan dan kepercayaan lokal mengakomodasi nilai nilai ajaran yang berkembang di masyarakat ketika pertemuan sehingga secara implisit terjadi upaya untuk saling mengakomodasi antara nilai nilai ajaran agama yang ada dengan kepercayaan lokal dengan dipraktekan dalam kehidupan keseharian. Hasil dari pertemuan kepercayaan lokal bisa bermacam macam bisa bersifat sintetik maupun sintetis tergantung kepada kuat lemahnya dan serasi atau tidaknya corak keyakinan yang datang dan menanti. Kepercayaan lokal ketika berhadapan dengan agama yang datang mengunakan strategi ketertupan dan keterbukaanya sehingga kepercayaan lokal menerima agama yang datang bahkan tidak sedikit yang mengafirmasi sebagai bagian identitass baru mereka yang menujukan adanya harmonisas kehidupan beragama. Harmonisasi Islam sebagai keyakinan yang datang dan kepercayaan lokal Sunda Wiwitan sebagai keyakinan yang menanti dapat dilihat dalam kehidupan keberagamaan masyarakat adat Baduy di Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Masyarakat Baduy memiliki kehidupan beragama yang sangat kental dengan tradisi-tradisi kepercayaan leluhur mereka. Namun, di sisi lain, mereka juga terbuka dengan agama-agama lain dan mengintegrsikan ajaran agama Islam dalam ritual keagamaan Sunda Wiwitan yang mereka anut.
Gendered Agency in Spice Trade Histories: Female Stewardship of Islamic Gastronomic Traditions in the Nusantara Archipelago Wardah, Eva Syarifah; Fauziyah, Siti; Hujjah, Wasithotul; Akosmanoğlu, Tuğçe; Belgasem, Hanan Salem Masoud; Voeut, Nasri
JURNAL INDO-ISLAMIKA Vol. 15 No. 1 (2025): (JUNE) INDO-ISLAMIKA: Journal of Interdisciplinary Studies on Islam in Indones
Publisher : Graduate School of UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jii.v15i1.47029

Abstract

During the Sultanate era, Banten emerged as a global spice emporium, attracting international traders through its pepper-dominated 16th-century economy. Though its prominence in the spice trade has waned, historical traces persist through preserved heritage and enduring culinary traditions rooted in spice culture. This study employs qualitative methods and a cultural-historical approach within the Islam Nusantara framework to analyze women’s pivotal role in sustaining Banten’s spice-based culinary practices. As guardians of traditional recipes, healers, and perfumers, women preserve spiritual and health values tied to spices. Findings reveal their multifaceted contributions—from agricultural cultivation and post-harvest processing to local commerce—while embedding spices into religious rituals, spiritual healing, and cultural traditions. These activities enrich the symbolic significance of spices and reinforce community identity. Women’s strategic participation not only sustains the archipelago’s spice civilization but also bolsters the local economy, demonstrating how cultural stewardship aligns with Islamic principles of community welfare. This research underscores the intersection of gender, cultural preservation, and economic resilience in maintaining Indonesia’s spice heritage.