Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh work-life balance terhadap burnout kerja pada karyawan generasi Z di sektor retail Kota Samarinda. Karyawan generasi Z yang bekerja di sektor retail menghadapi tuntutan kerja yang tinggi, sistem kerja berbasis shift, target penjualan, serta keterbatasan waktu pemulihan, sehingga berpotensi mengalami burnout. Burnout merupakan kondisi psikologis akibat stres kerja berkepanjangan yang ditandai dengan kelelahan emosional, depersonalisasi, dan penurunan pencapaian pribadi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analisis regresi linear sederhana. Sampel penelitian berjumlah 104 karyawan generasi Z yang bekerja di retail Kota Samarinda, berusia 18–28 tahun, dan memiliki masa kerja minimal enam bulan. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan Maslach Burnout Inventory (MBI) untuk mengukur burnout dan Work-Life Balance Scale yang dikembangkan oleh Fisher, Bulger, dan Smith (2009) untuk mengukur work-life balance. Hasil penelitian menunjukkan bahwa work-life balance berpengaruh negatif dan signifikan terhadap burnout kerja (p = 0,000 < 0,05). Nilai koefisien korelasi sebesar R = 0,802 menunjukkan hubungan yang kuat antara kedua variabel. Nilai koefisien determinasi (R² = 0,644) menunjukkan bahwa work-life balance memberikan kontribusi sebesar 64,4% terhadap variasi burnout, sedangkan 35,6% dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini. Temuan ini menegaskan bahwa semakin tinggi tingkat work-life balance yang dimiliki karyawan generasi Z, maka semakin rendah tingkat burnout yang dialami. Penelitian ini memberikan kontribusi empiris mengenai pentingnya penerapan kebijakan organisasi yang mendukung keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi guna meningkatkan kesejahteraan karyawan serta menekan risiko burnout di sektor retail.