Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Keunggulan L-PRF Dibandingkan P-PRF, PRFM, A-PRF, & I-PRF sebagai Cangkok pada Operasi Miringoplasti: Studi Penyembuhan Luka pada Perforasi Membran Timpani Antonius Christanto; Risya Cilmiaty; Made Setiamika; Ratih Dewi Yudhani; Paramasari Dirgahayu
Sehat Rakyat: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Penelitian Pengabdian Algero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54259/sehatrakyat.v5i1.6020

Abstract

This study aims to analyze the advantages of Leukocyte-Platelet Rich Fibrin (L-PRF) application in myringoplasty surgery compared to other platelet concentrates such as Platelet-Rich Fibrin Membrane (PFRM), Advanced Platelet-Rich Fibrin (A-PRF), and Injectable Platelet-Rich Fibrin (I-PRF). The research method used is a qualitative literature review, collecting and analyzing data from recent scientific journals and clinical studies related to the use of L-PRF in tympanic membrane repair. The study finds that L-PRF, with its dense fibrin network and high content of leukocytes and growth factors, enhances tissue regeneration, angiogenesis, and epithelialization, which are critical for successful graft integration and faster healing after myringoplasty. Compared to other platelet concentrates, L-PRF offers better mechanical strength and a more sustained release of growth factors. Additionally, L-PRF reduces postoperative complications and improves hearing outcomes. Being an autologous biomaterial, it also reduces the risk of immune rejection. The findings suggest that L-PRF is a promising graft material in otologic surgery, though further clinical trials are needed to optimize its application protocols.
FRAKTUR MAKSILOFASIAL DALAM LITERATUR GLOBAL: KAJIAN SCOPING REVIEW TERHADAP DIAGNOSIS DAN TERAPI Antonius Christanto
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2025): Volume 6 No 3 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i3.46121

Abstract

Fraktur maksilofasial merupakan salah satu bentuk trauma kraniofasial yang sering terjadi dan memiliki dampak signifikan terhadap fungsi, estetika, dan kualitas hidup pasien. Kajian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan memetakan temuan global terkait diagnosis dan terapi fraktur maksilofasial melalui pendekatan scoping review. Berdasarkan hasil penelusuran literatur internasional, ditemukan bahwa penyebab fraktur wajah sangat bervariasi secara geografis; di negara berkembang umumnya disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, sedangkan di negara maju lebih banyak dikaitkan dengan kekerasan interpersonal dan jatuh pada lansia. Diagnosis terkini telah berkembang dengan dukungan teknologi seperti CT-scan, Cone Beam CT, serta penerapan kecerdasan buatan untuk deteksi otomatis. Di sisi terapi, pendekatan bedah seperti open reduction and internal fixation (ORIF) dan teknologi pencetakan 3D memberikan hasil klinis yang lebih presisi dan efisien. Pendekatan multidisipliner dan rehabilitasi pascaoperasi terbukti mendukung pemulihan fungsi secara optimal. Meskipun demikian, masih terdapat kesenjangan dalam standar global penanganan kasus, menandakan perlunya pedoman internasional berbasis bukti yang dapat diadopsi lintas sistem layanan kesehatan. Kajian ini memberikan gambaran komprehensif mengenai dinamika penanganan fraktur maksilofasial dan menekankan pentingnya sinergi antara teknologi, kebijakan preventif, dan kolaborasi global dalam peningkatan kualitas perawatan.
LABIOPLASTY DALAM PERSPEKTIF KLINIS DAN ESTETIKA: SCOPING REVIEW TERHADAP PRAKTIK DAN BUKTI ILMIAH Antonius Christanto
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2025): Volume 6 No 3 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i3.46122

Abstract

Penelitian ini mengkaji praktik labioplasty dari perspektif klinis dan estetika melalui scoping review terhadap bukti ilmiah yang ada. Hasil review menunjukkan bahwa labioplasty umumnya memberikan manfaat positif, baik secara fisik maupun psikologis, seperti peningkatan kenyamanan dan citra tubuh pasien. Berbagai teknik operasi, seperti wedge resection, trim, dan laser-assisted labioplasty, terbukti efektif dengan tingkat kepuasan pasien yang tinggi dan risiko komplikasi yang rendah jika dilakukan oleh tenaga medis profesional. Namun, keputusan pasien sering kali dipengaruhi oleh norma estetika sosial dan informasi yang tidak selalu berbasis medis, sehingga penting adanya edukasi menyeluruh dan konseling sebelum operasi, terutama pada pasien remaja. Selain itu, protokol pascaoperasi yang baik serta perhatian pada aspek budaya dan hukum menjadi kunci keberhasilan jangka panjang prosedur ini. Oleh karena itu, praktik labioplasty perlu dijalankan secara etis, individual, dan berdasarkan bukti ilmiah yang kuat untuk menjamin perlindungan dan kesejahteraan pasien secara menyeluruh.
ANALISIS BIBLIOMETRIK TERHADAP PERKEMBANGAN DAN KOLABORASI PENELITIAN DALAM PALATOPLASTY Antonius Christanto
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2025): Volume 6 No 3 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i3.46123

Abstract

Palatoplasti merupakan prosedur bedah utama dalam penanganan celah langit-langit (cleft palate) yang secara langsung memengaruhi fungsi bicara dan kualitas hidup pasien. Kajian ini menggunakan pendekatan bibliometrik visualisasi untuk mengeksplorasi topik-topik dominan dalam literatur ilmiah seputar palatoplasti. Visualisasi co-occurrence network dari kata kunci dalam publikasi ilmiah menunjukkan empat klaster tematik utama: teknik bedah dan hasil anatomi, komplikasi seperti palatal fistula, hasil bicara, serta peran terapi wicara dan rehabilitasi. Literatur terkini mendukung bahwa pilihan teknik seperti Furlow, Sommerlad, dan penggunaan flap tambahan memiliki dampak signifikan terhadap fungsi velofaringeal dan mencegah komplikasi. Selain itu, integrasi terapi wicara pasca operasi dan protokol diagnosis dini turut menunjang keberhasilan rehabilitasi pasien. Dengan mengintegrasikan pendekatan klinis dan teknologi, hasil palatoplasti dapat ditingkatkan secara fungsional dan estetis. Kajian ini menegaskan pentingnya pendekatan multidisipliner serta personalisasi teknik bedah untuk mencapai hasil optimal.
META-ANALISIS TEKNIK AURICULOPLASTY TERHADAP HASIL ESTETIKA DAN FUNGSIONAL PADA DEFORMITAS TELINGA EKSTERNAL Antonius Christanto
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2025): Volume 6 No 3 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i3.46124

Abstract

Deformitas telinga eksternal seperti mikrotia memerlukan pendekatan rekonstruksi yang kompleks melalui auriculoplasty. Beragam teknik telah dikembangkan, mulai dari metode autologous (menggunakan tulang rawan kosta) seperti Nagata dan Brent, hingga teknik berbasis implan seperti Medpor. Evaluasi terhadap keberhasilan teknik-teknik ini perlu dilakukan secara komprehensif untuk memahami hasil estetika, fungsional, serta komplikasi jangka panjangnya. Penelitian ini bertujuan melakukan meta-analisis terhadap berbagai teknik auriculoplasty untuk menilai perbandingan efektivitas dari aspek estetika dan fungsional dalam menangani deformitas telinga eksternal. Kajian ini dilakukan sesuai pedoman PRISMA, dengan menelaah literatur dari database ilmiah internasional. Studi yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis menggunakan pendekatan efek acak, dengan evaluasi bias publikasi melalui funnel plot dan uji Egger. Hasil utama dianalisis berdasarkan skor estetika, perbaikan fungsional (audiometri), komplikasi, tingkat revisi, dan kepuasan pasien. Teknik autologous memberikan hasil estetika yang lebih baik dan simetri bilateral yang lebih tinggi, namun dengan risiko komplikasi donor site yang lebih besar. Teknik Medpor unggul dalam efisiensi waktu operasi, tetapi menunjukkan risiko infeksi dan rejeksi implan lebih tinggi. Evaluasi fungsional menunjukkan hasil pendengaran lebih baik pada kasus kombinasi auriculoplasty dan atresiaplasti, meskipun bersifat selektif. Tingkat revisi dan kepuasan pasien bervariasi tergantung teknik dan usia intervensi. Tidak terdapat teknik auriculoplasty tunggal yang unggul secara universal. Pemilihan teknik harus dipersonalisasi berdasarkan karakteristik pasien, harapan estetika, fungsi pendengaran, serta risiko komplikasi. Evaluasi multidimensi termasuk parameter objektif dan aspek psikososial diperlukan untuk mencapai hasil klinis yang optimal dan berkelanjutan