Iin Fadhilah
Institut Kesehatan dan Bisnis St. Fatimah Mamuju

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Hubungan Pengetahuan Ibu Dengan Pemanfaatan Buku KIA Susi Rabuana; Hamdiah Anas; Iin Fadhilah
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Maret)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v4i2.1045

Abstract

The Maternal and Child Health (MCH) Handbook is an important medium in maternal and child health services, serving as a recording, education, and communication tool between health workers and mothers. However, the utilization of the MCH Handbook by mothers is still suboptimal. One factor influencing the utilization of the MCH Handbook is the mother's level of knowledge. This study aims to determine the relationship between maternal knowledge and the utilization of the MCH Handbook. The research method used was quantitative with an analytical design and a cross-sectional approach. The study sample consisted of mothers who owned the MCH Handbook and visited health care facilities. Data were collected using a questionnaire and analyzed using statistical tests. The results showed a significant relationship between maternal knowledge and utilization of the MCH Handbook (p < 0.05). The conclusion of this study is that the better the mother's knowledge, the more optimal the utilization of the MCH Handbook.
Hubungan Pendidikan Seksualitas Komprehensif Dengan Perilaku Pencegahan Risiko Seksual Pada Siswa Sekolah Menengah Iin Fadhilah; Rezqiqah Aulia Rahmat
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1393

Abstract

Remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap berbagai permasalahan kesehatan reproduksi akibat perubahan biologis, psikologis, dan sosial yang terjadi selama masa pubertas. Kurangnya pemahaman mengenai seksualitas dapat meningkatkan risiko terjadinya perilaku seksual berisiko, seperti hubungan seksual pranikah, infeksi menular seksual (IMS), kehamilan yang tidak direncanakan, serta penyalahgunaan media digital. Pendidikan seksualitas komprehensif merupakan salah satu pendekatan pendidikan kesehatan yang bertujuan memberikan pengetahuan, membentuk sikap positif, serta meningkatkan keterampilan remaja dalam mengambil keputusan yang bertanggung jawab terkait kesehatan reproduksi. Namun, penerapan pendidikan seksualitas di lingkungan sekolah masih belum optimal sehingga diperlukan penelitian mengenai hubungannya dengan perilaku pencegahan risiko seksual. Menganalisis hubungan pendidikan seksualitas komprehensif dengan perilaku pencegahan risiko seksual pada siswa sekolah menengah. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan rancangan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 200 siswa dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner mengenai pendidikan seksualitas komprehensif dan perilaku pencegahan risiko seksual. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dan regresi logistik berganda dengan tingkat signifikansi 95% (α = 0,05). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pendidikan seksualitas komprehensif dengan perilaku pencegahan risiko seksual (p = 0,001). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa siswa yang memperoleh pendidikan seksualitas komprehensif yang baik memiliki peluang 4,13 kali lebih besar untuk memiliki perilaku pencegahan risiko seksual yang baik (OR = 4,13; 95% CI = 2,08–8,19; p = 0,001). Pendidikan seksualitas komprehensif berhubungan secara signifikan dengan perilaku pencegahan risiko seksual pada siswa sekolah menengah. Penguatan program pendidikan seksualitas di sekolah perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara sekolah, tenaga kesehatan, dan keluarga.
Edukasi Perawatan Luka Pasca Operasi untuk Mencegah Infeksi Suaib Suaib; Kurnia Mariatul Qiftih; Iin Fadhilah
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (Maret)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i2.1068

Abstract

Postoperative wound care is a crucial part of the healing process and infection prevention. Lack of knowledge among patients and families regarding proper wound care can increase the risk of surgical wound infections. This community service activity aims to improve the knowledge and skills of patients and families in performing postoperative wound care independently and correctly. The activity included counseling, interactive discussions, demonstrations, and hands-on practice. The results of the activity indicated an increase in participants' understanding of the principles of postoperative wound care and infection prevention. This activity is expected to increase patient independence in wound care and reduce the risk of postoperative infection.
Pendekatan Preventif Melalui Edukasi Dan Skrining Infeksi Menular Seksual Pada Populasi Berisiko Tinggi Iin Fadhilah; Rezqiqah Aulia Rahmat
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (September)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i4.1416

Abstract

Latar Belakang: Infeksi Menular Seksual (IMS) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan reproduksi dan kualitas hidup. Penularan IMS dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti perilaku seksual berisiko, kurangnya pengetahuan, rendahnya kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kesehatan, serta stigma terhadap pemeriksaan dan pengobatan. Keterlambatan diagnosis dapat menyebabkan komplikasi serius, meningkatkan risiko penularan kepada pasangan, serta memperbesar peluang terjadinya infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Edukasi kesehatan yang dipadukan dengan skrining dini merupakan strategi promotif dan preventif untuk meningkatkan pengetahuan, mengubah perilaku kesehatan, serta mempercepat deteksi kasus di masyarakat. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai Infeksi Menular Seksual, meningkatkan kesadaran melakukan skrining secara sukarela, mengenali faktor risiko dan gejala awal, serta mendorong perilaku pencegahan melalui pendekatan edukatif dan konseling. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Oktober 2026 di salah satu wilayah kerja puskesmas dengan melibatkan 50 peserta dari populasi berisiko tinggi yang mengikuti kegiatan secara sukarela. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan interaktif, diskusi kelompok, konseling individual, pembagian media edukasi, skrining IMS sesuai prosedur pelayanan kesehatan, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Analisis data dilakukan secara deskriptif melalui distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata. Hasil: Seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga selesai. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 58,6 sebelum edukasi menjadi 91,4 setelah intervensi. Sebanyak 94,0% peserta mampu menjelaskan cara penularan IMS, 92,0% mengenali tanda dan gejala awal, 90,0% memahami pentingnya skrining berkala, 88,0% bersedia melakukan pemeriksaan lanjutan sesuai anjuran tenaga kesehatan, dan 96,0% menyatakan kegiatan sangat bermanfaat. Kesimpulan: Edukasi kesehatan yang dipadukan dengan skrining IMS efektif meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kesiapan masyarakat dalam melakukan deteksi dini Infeksi Menular Seksual. Pendekatan preventif berbasis edukasi dan skrining perlu dilaksanakan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara tenaga kesehatan, puskesmas, dan masyarakat untuk menurunkan angka penularan serta meningkatkan kualitas kesehatan reproduksi.