Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Peningkatan Kompetensi Kader Kesehatan Dalam Pemantauan Pertumbuhan Balita Berbasis Pengukuran Antropometri di Kabupaten Sitaro Yulianty Sanggelorang; Jainer Pasca Siampa; Irny Evita Maino; F. Ari Anggraini Sebayang
Jurnal Pengabdian dan Peningkatan Mutu Masyarakat (Janayu) Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian dan Peningkatan Mutu Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/janayu.v7i1.42434

Abstract

Purpose – To evaluate the effectiveness of a standardized anthropometry training program for Posyandu cadres in Dame I Village, Sitaro Regency, in improving knowledge and procedural compliance for anthropometric measurement and the classification of nutritional status among children under five. Design/methodology/approach – This Community Engagement Program employed a pre–post design without a comparison group. The intervention comprised didactic sessions, a work leaflet, instructor-led demonstrations, and guided practice. Knowledge was assessed immediately before and after training using a structured questionnaire; the Shapiro–Wilk test was applied to examine normality and pre–post differences were analyzed with the Wilcoxon signed-rank test. Skills were evaluated through direct observation of compliance with a 22-item checklist (preparation, weighing, length/height measurement, documentation, and interpretation of anthropometric indices). Participants were all available health cadres (n=10). Findings – Mean knowledge scores increased by 2.80 points (pre: 12.10 ± 1.663; post: 14.90 ± 0.316), yielding a statistically significant difference (p = 0.005) in bivariate analysis. All participants met 22/22 items on the procedural compliance checklist during the evaluation of anthropometric practice. These outcomes indicate improvements in cognitive and psychomotor capacities relevant to accurate anthropometric measurement and the classification of child nutritional status. Originality/value – The program emphasizes comprehensive standardization of anthropometric measurement in an island setting by integrating practical quality-assurance components (pocket SOP/leaflet, checklist, and an agenda for inter-rater alignment) into a single training package. The demonstrated, significant gains in knowledge and 100% procedural compliance underscore capacity building for cadres as a critical lever to improve nutrition data quality and accelerate early detection of stunting at the community level.
Hubungan riwayat pemberian ASI dan kejadian wasting pada balita: Analisis data SSGI 2022 Yulianty Sanggelorang; Nancy Swanida Henriette Malonda; Maureen Irinne Punuh; Vidya Novita
Hik Vol. 18 No. 12 (2025): Volume 18 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i12.694

Abstract

Background: One of the nutritional issues arising in toddlers due to inadequate nutrient intake is wasting. Toddlers who experience wasting have relatively thin bodies compared to their height, characterized by a weight-for-height z-score of less than -2 SD. Exclusive breastfeeding is one of the contributing factors to wasting. Purpose: To analyze the relationship between exclusive breastfeeding and wasting among toddlers. Method: Quantitative research with a cross-sectional design using secondary data. The study population was all toddlers aged 0-23 months in the Talaud Islands Regency who were included in the census block based on the 2022 SSGI. Data analysis used univariate and bivariate analysis. Results: Based on univariate analysis, toddlers who experienced wasting were 13.1%, toddlers who received colostrum were 88.7%, and those who received exclusive breastfeeding were 56.1%. Based on the bivariate test, the history of colostrum administration with wasting incidents obtained a p value = 0.000 (<0.05) which indicated a relationship between the two variables. Conclusion: Wasting is influenced by various factors including nutritional intake, history of infectious diseases, and completeness of immunization. In addition, colostrum and exclusive breastfeeding have a significant relationship with wasting incidents. Lack of maternal knowledge and family support are also factors that influence the provision of breast milk and colostrum, so increasing education and family support is very important to reduce the prevalence of thinness in toddlers.   Keywords: Colostrum; Exclusive Breasting Feeding; Toddlers; Wasting.   Pendahuluan: Salah satu masalah gizi yang timbul pada balita dari asupan nutrisi yang tidak memadai adalah wasting. Balita yang menderita wasting akan memiliki tubuh yang relatif kurus dibandingkan dengan tinggi badannya ditandai dengan z-score BB/TB -2 SD. Pemberian ASI eksklusif merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya wasting. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan pemberian ASI eksklusif dan wasting pada balita. Metode: Penelitian kuantitatif desain cross sectional menggunakan data sekunder. Populasi penelitian adalah seluruh balita usia 0-23 bulan di Kabupaten Kepulauan Talaud yang masuk dalam blok sensus berdasarkan SSGI 2022. Data dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil: Berdasarkan analisis univariat, balita yang mengalami kejadian wasting sebesar 13.1%, balita yang mendapatkan kolostrum 88.7%, dan yang mendapatkan ASI eksklusif 56.1%. Berdasarkan uji bivariat, riwayat pemberian kolostrum dengan kejadian wasting memperoleh nilai p = 0.000 (<0.05), menunjukkan adanya hubungan antara kedua variabel. Simpulan: Wasting dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk asupan nutrisi, riwayat penyakit infeksi, dan kelengkapan imunisasi. Selain itu, pemberian kolostrum dan ASI eksklusif memiliki hubungan signifikan dengan kejadian wasting. Kurangnya pengetahuan ibu dan dukungan keluarga juga menjadi faktor yang memengaruhi pemberian ASI dan kolostrum, sehingga peningkatan edukasi dan dukungan keluarga sangat penting untuk mengurangi prevalensi wasting pada balita.   Kata Kunci: ASI Eksklusif; Balita; Kolostrum; Wasting.
Hubungan antara pola asuh dengan status gizi pada balita Aprilyana Tandi Payuk; Yulianty Sanggelorang; Maureen Irinne Punuh
Hik Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1193

Abstract

Background: Nutritional problems remain a crucial public health challenge in Indonesia, including in the working area of Remboken Public Health Center, Minahasa Regency. Parenting practices, particularly feeding behavior and child care, are known to influence the nutritional status of toddlers. Purpose: To analyze the relationship between parenting patterns and the nutritional status of toddlers. Method: A cross-sectional study was conducted involving 91 toddlers selected through simple random sampling. Data were collected using a structured questionnaire to assess feeding and caregiving practices, and anthropometric measurements were performed to determine nutritional status based on z-scores: weight-for-age (W/A), height-for-age (H/A), and weight-for-height (W/H). Data were analyzed using Fisher's Exact Test and Chi-square test. Results: There was a significant relationship between feeding practices and nutritional status based on W/A (p = 0.044) and H/A (p = 0.000), but no significant relationship with W/H (p = 1.000). Similarly, caregiving practices were significantly associated with W/A (p = 0.030) and H/A (p = 0.000), but not with W/H (p = 0.092). Conclusion: The results highlight the importance of improving feeding and caregiving practices to enhance children's nutritional status, particularly in addressing underweight and stunting among toddlers. Suggestion: Parents, especially mothers, need to adopt more responsive feeding and caregiving practices. Meanwhile, public health centers are expected to enhance education and provide support to families at risk of stunting, focusing on nutrition, hygiene, immunization, and psychosocial support.   Keywords: Feeding Practices; Parenting Patterns; Toddler Nutritional Status   Pendahuluan: Masalah gizi masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang krusial di Indonesia, termasuk di wilayah kerja Puskesmas Remboken, Kabupaten Minahasa. Praktik pengasuhan, khususnya perilaku pemberian makan dan pengasuhan, diketahui memengaruhi status gizi balita. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara pola asuh dan status gizi balita. Metode: Studi cross-sectional yang melibatkan 91 balita yang dipilih melalui pengambilan sampel acak sederhana. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur untuk menilai praktik pemberian makan dan praktik merawat balita, juga dilakukan pengukuran antropometri untuk menentukan status gizi berdasarkan z-score berat badan menurut usia (BB/U), z-score tinggi badan menurut usia (TB/U), dan z-score berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Fisher-exact dan uji Chi-kuadrat. Hasil: Menunjukkan hubungan yang signifikan antara praktik pemberian makan dan status gizi berdasarkan BB/U (p value = 0.044) dan TB/U atau PB/U (p value = 0.000), tetapi tidak ada hubungan yang signifikan dengan BB/TB atau BB/PB (p value = 1.000). Demikian pula, praktik merawat anak secara signifikan berhubungan dengan BB/U (p value = 0,030) dan TB/U atau PB/U (p value = 0.000), tetapi tidak dengan BB/TB atau BB/PB (p value = 0.092). Simpulan: Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya peningkatan praktik pemberian makan dan merawat anak untuk meningkatkan status gizi, terutama dalam mengurangi masalah underweight dan stunting pada balita. Saran: Orang tua, terutama ibu, perlu meningkatkan praktik pemberian makan responsif dan perawatan untuk balita, sementara pusat kesehatan masyarakat diharapkan meningkatkan pendidikan dan memberikan dukungan bagi keluarga yang berisiko stunting dengan fokus pada nutrisi, kebersihan, imunisasi, dan dukungan psikososial.   Kata Kunci: Pola Asuh; Praktik Pemberian Makan; Status Gizi Balita.
Kebiasaan sarapan dan status gizi pelajar SMP Gwyneth Gwendellyn Makanoneng; Ester Candrawati Musa; Yulianty Sanggelorang
Hik Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1245

Abstract

Background: According to the Global Nutrition Report, rates of malnutrition among adolescents have declined, but cases of obesity and overweight have increased significantly. In 2019, an estimated 15.1% of adolescents were obese, while 5.7% were classified as underweight. This situation creates a nutritional problem known as the "triple burden of malnutrition," a combination of undernutrition, overweight, and micronutrient deficiencies. Breakfast habits are one factor influencing nutritional status. Purpose: To determine the relationship between breakfast habits and nutritional status in junior high school students. Method: This quantitative, observational, and analytical study used a cross-sectional study design conducted at Pineleng 2 Public Junior High School, Minahasa Regency, involving 77 respondents. The variables in this study were breakfast habits and nutritional status. Data were collected through anthropometric measurements (weight and height) to determine BMI/A, followed by Z-scores and a non-sequential 2x24-hour breakfast habits and food recall questionnaire. Data analysis was performed univariately and bivariately using Fisher's exact test through the Statistical Program for Social Sciences to see the relationship between variables. Results: The majority of respondents (75.3%) had normal nutritional status, while 24.7% were categorized as abnormal (underweight, overweight, or obese). Ninety-four percent of students had frequent breakfast habits (≥4 times/week), and 5.2% had infrequent breakfast habits (<4 times/week). Students with good breakfast habits were mostly those with normal nutritional status (p=0.044) (p<0.05). Conclusion: There is a relationship between breakfast habits and nutritional status. Good breakfast habits are a determining factor in students' nutritional status. Regular and nutritious breakfasts help meet daily nutritional needs while maintaining ideal nutritional status according to body mass index and age. In addition to breakfast habits, other important factors influencing nutritional status include a balanced diet and general health. Suggestion: Future researchers are encouraged to conduct research on the factors influencing breakfast habits, macronutrient intake, and nutritional status of school students.   Keywords: Breakfast Habits; Lessons; Nutritional Status.   Pendahuluan: Berdasarkan laporan Global Nutrition Report, angka kekurangan gizi pada remaja memang menurun, tetapi kasus obesitas dan kelebihan berat badan justru mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Pada tahun 2019, diperkirakan 15.1% remaja mengalami obesitas, sedangkan 5.7% tergolong kekurangan berat badan. Kondisi ini menimbulkan masalah gizi yang disebut "triple burden of malnutrition", yaitu kombinasi antara kurang gizi, kelebihan berat badan, dan defisiensi mikronutrien. Kebiasaan sarapan merupakan salah satu faktor yang memengaruhi status gizi. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan sarapan dengan status gizi pada pelajar SMP. Metode: Penelitian kuantitaif yang bersifat observasional analitik dengan menggunakan desain atau rancangan cross sectional study yang dilaksanakan di SMP Negeri 2 Pineleng, Kabupaten Minahasa dengan melibatkan 77 responden. Variabel dalam penelitian ini adalah kebiasaan sarapan dan status gizi. Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri (berat badan dan tinggi badan) untuk mengetahui IMT/U, dilanjutkan dengan Z-score serta kuesioner kebiasaan sarapan dan food recall 2x24 jam secara tidak berurutan. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji Fisher’s exact test melalui program Statistical Program for Social Sciences untuk melihat hubungan antara variabel. Hasil: Sebagian besar responden 75.3% memiliki status gizi normal, sementara 24.7% termasuk dalam kategori tidak normal (kurus, gemuk, atau obesitas). Sebanyak 94.8% siswa memiliki kebiasaan sarapan yang sering (≥4 kali/minggu), dan sebanyak 5.2% siswa memiliki kebiasaan sarapan yang jarang (<4 kali/minggu). Siswa yang memiliki kebiasaan sarapan yang baik didominasi dengan status gizi normal (p=0.044) (p<0.05). Simpulan: Terdapat hubungan antara kebiasaan sarapan dengan status gizi. Kebiasaan sarapan yang baik merupakan salah satu faktor penentu status gizi siswa. Sarapan yang teratur dan bergizi membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian sekaligus mempertahankan status gizi ideal sesuai indeks massa tubuh dan kategori usia. Selain kebiasaan sarapan, faktor penting lain yang turut memengaruhi status gizi meliputi pola makan seimbang dan kondisi kesehatan secara umum. Saran: Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian terkait tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kebiasaan sarapan pagi, asupan zat gizi makronutrien dan status gizi siswa di sekolah.   Kata Kunci: Kebiasaan Sarapan; Pelajaran; Status Gizi.
Hubungan aktivitas fisik dengan status gizi pada peserta didik SMP Muhammad Rosyad Hullah; Maureen Irinne Punuh; Yulianty Sanggelorang
Hik Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1246

Abstract

Background: Adolescents are a group vulnerable to nutritional problems. The main factor behind this is that adolescence is a period of accelerated growth and development, often accompanied by changes in eating habits and lifestyle. Although each adolescent has different demands, activity levels begin to increase significantly as they approach junior high school. Adolescents' nutritional status is influenced by various factors, including eating habits, economic conditions, cultural background, and physical activity levels. Physical activity is defined as any form of bodily movement that increases energy expenditure, thus playing a role in maintaining energy balance and preventing the risk of excess weight. Purpose: To analyze the relationship between physical activity and nutritional status of students in junior high school. Method: This quantitative research with an analytical observational design employed a cross-sectional approach. The study was conducted from March to July 2025 at Pineleng 2 Public Junior High School, involving 77 respondents in grades VII and VIII. The research instruments included the International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) and the SECA height and weight measurement tool. Data were analyzed using univariate and bivariate methods, with Fisher's exact test for correlation between variables. Results: some respondents had active physical activity totaling 69 respondents and for good nutritional status totaling 58 respondents. Conclusion: There is a relationship between physical activity and nutritional status with a p value = 0.019 (p<0.05).   Keywords: Adolescents; Nutritional Status; Physical Activity.   Pendahuluan: Remaja termasuk dalam kelompok yang rentan terhadap masalah gizi. Faktor utama yang melatarbelakangi hal ini adalah masa remaja merupakan periode percepatan pertumbuhan dan perkembangan, yang sering kali diiringi dengan perubahan kebiasaan makan dan pola hidup. Meskipun setiap remaja mempunyai tuntutan yang berbeda, tingkat aktivitas pada usia remaja akan mulai cukup meningkat ketika mendekati usia Sekolah Menengah Pertama. Status gizi remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain kebiasaan makan, kondisi ekonomi, latar belakang budaya, dan tingkat aktivitas fisik. Aktivitas fisik didefinisikan sebagai segala bentuk gerakan tubuh yang meningkatkan pengeluaran energi, sehingga berperan dalam menjaga keseimbangan energi dan mencegah risiko kelebihan berat badan. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara aktivitas fisik dan status gizi peserta didik di SMP. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain observasional analitik menggunakan pendekatan cross sectional study. Penelitian dilaksanakan pada Maret–Juli 2025 di SMP Negeri 2 Pineleng dengan melibatkan 77 responden kelas VII dan VIII. Instrumen penelitian meliputi kuesioner International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) serta alat ukur tinggi badan dan berat badan merk SECA. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat, dengan uji hubungan antar variabel menggunakan uji Fisher’s Exact Test. Hasil: Sebagian responden memiliki aktivitas fisik aktif berjumlah 69 responden dan untuk status gizi baik berjumlah 58 responden. Simpulan: Terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan status gizi dengan nilai p = 0.019 (p<0.05).   Kata Kunci: Aktivitas Fisik; Remaja; Status Gizi.
Hubungan antara status gizi dengan tekanan darah pada pelajar Marshanda Meily Emanuela Kapoh; Ester Candrawati Musa; Yulianty Sanggelorang
Hik Vol. 19 No. 11 (2026): Volume 19 Nomor 11
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i11.1717

Abstract

Background: High blood pressure or hypertension can be dangerous because it can damage the heart and blood vessels in the long term. One of the causes of hypertension is excessive nutritional status or obesity, which is often the result of a poor diet asnd lack of physical activity, thereby increasing the risk of hypertension in adolescents. Purpose: To determine the relationship between nutritional status and blood pressure among students. Method: This quantitative study used a cross-sectional approach. The population studied was all students of State Senior High School 2 Tondano. A sample of 88 respondents was selected using a total sampling technique. The instruments used were respondent identity sheets, a SECA microtoise for height measurement, a SECA digital scale for weight measurement, a GEA digital sphygmomanometer for blood pressure measurement, and batteries. Results: The majority of respondents' blood pressure was in the normal category (64.8%), while abnormal blood pressure included pre-hypertension (18.2%), stage 1 hypertension (9.1%), and stage 2 hypertension (7.9%). The majority of respondents had normal nutritional status 57 respondents (64.8%), while 13 respondents (14.8%) were overweight and 15.9% were obese. The bivariate analysis yielded a p-value of 0.004 (p<0.05), indicating a relationship between nutritional status and blood pressure in students. Conclusion: There is a significant relationship between nutritional status and blood pressure, with a p-value of 0.004 (p<0.05). Suggestion: Students with normal nutritional status and normal blood pressure should maintain a healthy lifestyle by consuming nutritious foods. Furthermore, they are encouraged to consume a balanced diet, exercise regularly, and regularly check their weight and blood pressure, followed by consultation with a healthcare professional.   Keywords: Adolescents; Blood Pressure; Nutritional Status.   Pendahuluan: Tekanan darah yang terlalu tinggi atau hipertensi, dapat berbahaya karena mampu merusak jantung dan pembuluh darah dalam jangka panjang. Salah satu penyebab hipertensi adalah status gizi yang lebih atau obesitas, hal tersebut sering kali merupakan hasil dari pola makan yang buruk dan kurangnya aktivitas fisik, sehingga dapat meningkatkan risiko hipertensi pada remaja. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan tekanan darah pada pelajar. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi yang diteliti adalah seluruh pelajar SMA Negeri 2 Tondano. Sampel yang digunakan sebanyak 88 responden yang dipilih melalui teknik total sampling. Instrumen yang digunakan yaitu lembar identitas responden, microtoise merek SECA untuk pengukuran tinggi badan, timbangan digital merek SECA untuk pengukuran berat badan, tensimeter digital merek GEA untuk pengukuran tekanan darah, dan baterai. Hasil: Sebagian besar tekanan darah responden dalam kategori normal sebanyak 64.8% dan tekanan darah tidak normal yang termasuk didalamnya yaitu, pre-hipertensi sebanyak 18.2%, hipertensi tingkat 1 sebanyak 9.1%, dan hipertensi tingkat 2 sebanyak 7.9%. Status gizi mayoritas normal sebanyak 57 responden (64.8%), sedangkan untuk status gizi lebih sebanyak 13 responden (14.8%) dan obesitas sebanyak 15.9%. Hasil analisis bivariat diperoleh p-value sebesar 0.004 (p<0.05), hal ini menunjukkan terdapat hubungan antara status gizi dengan tekanan darah pada pelajar. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan tekanan darah pada dengan hasil p-value sebesar 0.004 (p<0.05). Saran: Bagi pelajar dengan kategori status gizi tidak lebih dan kategori tekanan darah normal dapat mempertahankan gaya hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi. Selain itu, diharapkan mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, berolahraga secara rutin, mengecek berat badan, dan tekanan darah secara berkala kemudian dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan.   Kata Kunci: Remaja; Status Gizi; Tekanan Darah.
Hubungan riwayat penyakit infeksi dengan stunting pada balita Valenia Keren Natalniela Kereh; Yulianty Sanggelorang; Ester Candrawati Musa
Hik Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1718

Abstract

Background: Stunting is a problem related to child nutrition in Indonesia that remains unresolved. Stunting can be caused by multiple factors, one of which is infectious disease, a disease caused by pathogenic microorganisms. Common infectious diseases in children, such as acute respiratory infections, diarrhea, and worm infestations, can impact metabolic processes, disrupting nutrient absorption and growth. Purpose: To determine the relationship between a history of infectious diseases and stunting in toddlers. Method: This quantitative, analytical, observational study used a cross-sectional approach. It was conducted in the Pineleng Community Health Center working area from March to September 2025. A sample of 100 respondents was selected using a probability sampling technique with simple random sampling. The instruments used were the 2022 Indonesian Nutritional Status Survey questionnaire and height-for-age (H/A) measurements. Data were analyzed using the ch-square test and Fisher's exact test. Results: Regarding infectious disease history, the majority of toddlers (66 respondents) had no history of infectious diseases. Regarding stunting incidence, 12 toddlers (12.0%) experienced stunting, while 88 toddlers (88%) experienced normal growth. The chi-square test showed a p-value of 0.329, which is greater than the significance level of 0.05. This indicates that there is no relationship between a history of infectious diseases and stunting in toddlers. Conclusion: There is no relationship between a history of infectious diseases and stunting in toddlers (p-value = 0.329). Although this study still found toddlers with infectious diseases, there are indications that proper management of infectious diseases does not significantly impact stunting. Suggestion: Parents are expected to pay more attention to their toddlers' health by maintaining a balanced nutritional intake, ensuring a clean environment, and immediately taking their children to a health facility if they experience symptoms of an infectious disease.   Keywords: Infectious Diseases; Stunting; Toddlers.   Pendahuluan: Stunting merupakan masalah yang berkaitan dengan gizi anak di Indonesia yang masih belum teratasi sepenuhnya. Stunting dapat disebabkan oleh multifaktor, salah satunya adalah penyakit infeksi, yakni sebuah penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme pathogen. Penyakit infeksi yang sering diderita anak, seperti ISPA, diare, dan kecacingan dapat memberikan pengaruh terhadap proses metabolisme yang menyebabkan terganggunya penyerapan nutrisi dan pertumbuhan anak. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan riwayat penyakit infeksi dengan stunting pada balita. Metode: Penelitian kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Pineleng pada bulan Maret – September 2025. Sempel yang digunakan sebanyak 100 responden yang dipilih menggunakan teknik probability sampling dengan metode simple random sampling. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 dan pengukuran tinggi badan menurut umur (TB/U), kemudian analisis data menggunakan uji statistik ch-square dan fisher’s exact test. Hasil: Ditinjau dari riwayat penyakit infeksi, Sebagian besar balita tidak pernah memiliki riwayat penyakit infeksi sebanyak 66 responden (66%).  Pada status kejadian stunting, responden yang mengalami stunting sebanyak 12 balita (12.0%) dan sebagian besar normal sebanyak 88 balita (88%). Hasil uji chi-square menunjukan nilai p= 0.329 yang berarti lebih besar dari nilai signifikansi 0.05. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan riwayat penyakit infeksi dengan stunting pada balita. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara riwayat penyakit infeksi dengan stunting pada balita (p-value = 0.329). Meskipun dalam penelitian ini, masih ditemukan balita yang mengalami penyakit infeksi, namun terdapat indikasi bahwa penangan terhadap penyakit-penyakit infeksi dilakukan secara baik, sehingga tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kejadian stunting. Saran: Diharapkan orang tua lebih memperhatikan kesehatan balita dengan menjaga asupan gizi yang seimbang, memastikan kebersihan lingkungan, dan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala penyakit infeksi.   Kata Kunci: Balita; Penyakit Infeksi; Stunting.
Hubungan antara kualitas tidur dengan status gizi pada pelajar Dhea Virjinia Kewo; Ester Candrawati Musa; Yulianty Sanggelorang
Hik Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1719

Abstract

Background: Nutritional problems arise from an imbalance between nutrient intake and the body's physiological needs. Adolescent nutritional status is an important indicator of health influenced by various factors, one of which is sleep quality. Poor sleep quality can affect the regulation of the hormones leptin and ghrelin, thus impacting appetite and the body's energy balance. Purpose: To analyze the relationship between sleep quality and nutritional status. Method: The study used a quantitative approach with a cross-sectional design, conducted from March to September 2025 at Tondano 2 State Senior High School. The entire student population, totaling 88 respondents, was included through a total sampling method. Data were collected using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire and Body Mass Index for Age (BMI/Age) measurements, then analyzed using the chi-square test. Results: The majority of students (51 respondents) had poor sleep quality, and 61 (69.3%) had poor nutritional status. The bivariate analysis yielded a p-value of 0.023 (p<0.05). This indicates a relationship between sleep quality and nutritional status. Conclusion: There is a relationship between sleep quality and nutritional status in respondents, as shown by the p-value of 0.023. Suggestion: Further research with a different design and the addition of other variables is needed to obtain a more comprehensive picture of the relationship between sleep quality and nutritional status.   Keywords: Nutritional Status; Sleep Quality; Students.   Pendahuluan: Masalah gizi timbul akibat ketidakseimbangan antara asupan zat gizi dengan kebutuhan fisiologis tubuh. Status gizi remaja merupakan indikator penting kesehatan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kualitas tidur. Kualitas tidur yang buruk dapat memengaruhi regulasi hormon leptin dan ghrelin, sehingga berdampak pada nafsu makan dan keseimbangan energi tubuh. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara kualitas tidur dengan status gizi. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional, dilaksanakan pada Maret–September 2025 di SMA Negeri 2 Tondano. Seluruh populasi pelajar yang berjumlah 88 responden diikutsertakan melalui metode total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan pengukuran Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U), kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square.  Hasil: Sebagian besar pelajar memiliki kualitas tidur yang buruk, yaitu sebanyak 51 responden (58.0%), dan responden memiliki status gizi normal, yaitu sebanyak 61 responden (69.3%). Hasil analisis bivariat diperoleh p-value sebesar 0.023 (p<0.05). Hal ini menunjukkan terdapat hubungan kualitas tidur dengan status gizi. Simpulan: Terdapat hubungan antara kualitas tidur dan status gizi pada responden, ditunjukkan dengan hasil p-value 0.023. Saran: Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan desain berbeda dan penambahan variabel lain diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai hubungan kualitas tidur dengan status gizi.   Kata Kunci: Kualitas Tidur; Status Gizi; Pelajar.
Hubungan riwayat pemberian ASI eksklusif dengan stunting pada balita Jesica Christin Muhaling; Yulianty Sanggelorang; Maureen Irinne Punuh
Hik Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1725

Abstract

Background: Indonesia is in the process of achieving the Sustainable Development Goals (SDGs) to eradicate hunger, achieve food security, and improve nutrition, while supporting sustainable development. These goals include addressing the problem of stunting, which is being pursued to reduce it. Stunting can impact a child's life into adulthood. If not addressed promptly and appropriately, it can lead to the risk of physical and cognitive developmental disabilities. Purpose: To analyze the relationship between a history of exclusive breastfeeding and stunting in toddlers. Method: This quantitative study used an analytical survey design using a cross-sectional approach. The study was conducted in the Pineleng Community Health Center working area from June to September 2025. The sample size was determined using the Slovin formula with a 10% margin of error, resulting in 100 respondents. Data on exclusive breastfeeding history were obtained through structured questionnaire interviews with parents of toddlers, while height data were obtained through direct measurements using a microtoise. Data analysis included univariate and bivariate analyses using the chi-square test. Results: The mean age of toddlers was 40.4 ± 9.9 months, with an age range of 24–59 months. Most toddlers were in the 24–36 month age group (42.0%), the majority were male (57.0%), not exclusively breastfed (70.0%), and stunting was found in 12.0%. A chi-square test showed no significant association between a history of exclusive breastfeeding and stunting, with a p-value of 0.101. Conclusion: There was no significant association between exclusive breastfeeding and stunting in toddlers aged 24–59 months. This suggests that stunting is caused by multiple factors, such as low household socioeconomic status, premature birth, low parental education, living in rural or slum areas, poor environmental sanitation, poor cultural practices, and others.   Keywords: Exclusive Breastfeeding; Stunting; Toddlers.   Pendahuluan: Indonesia sedang dalam proses mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) untuk memberantas kelaparan, mencapai ketahanan pangan, dan peningkatan gizi serta mendukung pembangunan berkelanjutan. Tujuan yang termasuk didalamnya adalah untuk mengatasi masalah stunting yang diupayakan menurun. Stunting dapat memengaruhi kehidupan anak saat mencapai usia dewasa, jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, hal ini dapat menyebabkan risiko cacat perkembangan fisik dan kognitif. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara riwayat pemberian ASI eksklusif dengan stunting pada balita. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain survei analitik menggunakan pendekatan cross sectional. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Pineleng pada bulan Juni–September 2025. Jumlah sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 10%, sehingga diperoleh 100 responden. Data riwayat ASI eksklusif diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur kepada orangtua balita, sedangkan data tinggi badan diperoleh melalui pengukuran langsung menggunakan microtoise. Analisis data meliputi analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil: Menunjukkan rerata umur balita adalah 40.4 ± 9.9 bulan dengan rentang usia 24–59 bulan, sebagian besar balita berada pada kelompok usia 24–36 bulan sebesar 42.0%, mayoritas berjenis kelamin laki-laki sebanyak 57.0%, tidak mendapatkan ASI eksklusif sebanyak 70.0%, dan kejadian stunting ditemukan pada 12.0% balita. Uji chi-square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara riwayat pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting dengan nilai p sebesar 0.101. Simpulan: Tidak terdapat hubungan signifikan antara pemberian ASI eksklusif dengan stunting pada balita umur 24-59 bulan. Hal ini menunjukkan bahwa stunting disebabkan oleh multifaktor, seperti status sosial ekonomi rumah tangga yang rendah, kelahiran prematur, pendidikan orang tua yang rendah, tinggal di rumah tangga di pedesaan atau daerah kumuh, sanitasi lingkungan yang buruk, budaya yang buruk, dan lain-lain.   Kata Kunci: ASI Eksklusif; Balita; Stunting.
Gambaran pengetahuan ibu balita tentang gizi seimbang Angie Julieta Pasla; Yulianty Sanggelorang; Maureen Irinne Punuh
Hik Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2296

Abstract

Background: Nutrition is a crucial aspect of maintaining human health and well-being. Broadly speaking, nutrition encompasses all processes within the human body to acquire, digest, absorb, and transport nutrients, starting from the ages of 0-5 years. Mothers' knowledge about nutritional needs is very important, this is because to create a better future generation, the role of mothers in caring for babies and children is a determining factor. Purpose: To examine the knowledge of mothers of toddlers regarding balanced nutrition. Method: This quantitative research used a total sampling technique and a sample size of 90 respondents. The study was conducted in five villages in Pineleng District, Minahasa Regency, from May to November 2025. The research variable examined was mothers' knowledge of balanced nutrition, using a questionnaire. Results: Most respondents were aged 17-35 years (82 respondents) (91.1%), worked as housewives (79 respondents) (87.7%), and had a high school education (57 respondents) (63.3%). Regarding knowledge levels, the majority of respondents (78 respondents) had good knowledge. Conclusion: The general overview of mothers' knowledge of balanced nutrition in this study was categorized as good. Suggestion: It is hoped that health authorities can provide education to the community, especially mothers with toddlers, about nutrition-aware families to increase public knowledge.   Keywords: Balanced Nutrition; Knowledge; Mother; Toddler.   Pendahuluan: Gizi merupakan salah satu aspek penting dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan manusia. Gizi, dalam pengertian luas, mencakup semua proses yang terjadi dalam tubuh manusia untuk memperoleh, mencerna, menyerap, dan mengangkut dimulai dari usia 0-5 tahun. Pengetahuan ibu tentang kebutuhan gizi sangat penting sekali, hal ini disebabkan untuk menciptakan generasi mendatang yang lebih baik, peran ibu dalam merawat bayi dan anak menjadi faktor penentu.   Tujuan: Untuk melihat gambaran pengetahuan ibu balita tentang gizi seimbang. Metode: Penelitian kuantitatif dengan teknik pengambilan  sampel menggunakan teknik total sampling dan jumlah sampel sebanyak 90 responden. Penelitian ini dilakukan  di 5 desa di Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa dengan waktu pelaksanaan pada Mei-November 2025 dengan variabel yang di teliti adalah pengetahuan  ibu  tentang gizi seimbang menggunakan instrumen kuesioner. Hasil: Sebagian besar responden berusia pada rentang 17-35 tahun sebanyak 82 responden (91.1%), bekerja sebagai IRT sebanyak 79 responden (87.7%), dan pendidikan terakhir yang paling banyak yaitu SMA sebanyak 57 responden (63.3%). Terkait dengan tingkat pengetahuan, mayoritas responden memiliki pengetahuan yang baik sebanyak 78 responden (86.6%). Simpulan: Gambaran pengetahuan ibu tentang gizi seimbang pada penelitian ini termasuk pada kategori baik. Saran: Diharapkan pihak kesehatan dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat, khususnya ibu yang memiliki balita tentang keluarga sadar gizi, agar pengetahuan masyarakat dapat meningkat. Kata Kunci: Ibu; Balita; Gizi Seimbang; Pengetahuan.