Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

The Package Tour Paradox: Contrasting Economic Yields of Mass versus Independent Travelers in Emerging Island Destinations Yunisti Pratiwi; Agi Santri; Fardi Emansyah
Journal of Tourism Sustainability Vol. 5 No. 5 (2025): (Special Issue) Polban Tourism Workshop 2025
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/jtospolban.v5i5.198

Abstract

Post-pandemic tourism recovery necessitates a strategic pivot from arrival statistics to economic yield. This study investigates the micro-economic behaviour of tourists in Belitung, a burgeoning archipelagic destination in Indonesia, by juxtaposing the expenditure patterns of package tour participants against Free Independent Travelers (FITs). Utilising a cross-sectional survey of 399 respondents selected via purposive sampling, the research uncovers a significant expenditure gap. While domestic package tourists demonstrate higher spending stability, a striking paradox emerges within the international segment: independent travellers contribute nearly three times the direct economic yield (IDR 13.5 million) compared to their package-tour counterparts (IDR 5 million). The data reveal that while package tourism minimises leakage through prepaid structures, it limits local economic injection. Conversely, independent travellers exhibit high elasticity in discretionary spending, particularly in local transport and experiential services. These findings challenge the traditional reliance on mass-package models and advocate for a "high-value" strategy supported by digital payment infrastructure and experience-based product diversification.
Sinergi untuk Pesisir: Analisis Tata Kelola Kolaboratif dan CBT di Lima Desa Wisata Belitung Yunisti Pratiwi
Sadar Wisata: Jurnal Pariwisata Vol. 8 No. 2 (2025): Sadar Wisata: Jurnal Pariwisata
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/sw.v8i2.4602

Abstract

Collaborative governance, Coastal tourism, Belitung, SustainabilityPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengembangan model Community-Based Tourism (CBT) berbasis tata kelola kolaboratif (collaborative governance) dalam mewujudkan pariwisata pesisir berkelanjutan di Kabupaten Belitung. Kawasan ini memiliki posisi strategis sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata dengan potensi alam, budaya, dan sosial-ekonomi yang tinggi, namun menghadapi tekanan ekologis serta tantangan tata kelola akibat intensitas investasi dan ketimpangan peran antaraktor. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus pada lima desa pesisir terpilih—Desa Batu Itam, Terong, Tanjung Binga, Keciput, dan Tanjung Tinggi—yang memiliki karakteristik dan potensi wisata berbeda. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik menggunakan perangkat lunak NVivo 12.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata berbasis komunitas di Belitung memiliki prospek kuat apabila didukung oleh kolaborasi lintas-aktor yang efektif antara masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta. Masing-masing desa menampilkan keunikan potensi: Batu Itam dengan warisan maritim dan situs kapal karam Sriwijaya; Terong dengan ekowisata kreatif berbasis pertanian dan budaya; Tanjung Binga dengan ekonomi bahari dan produk olahan laut; Keciput dengan wisata konservasi penyu; serta Tanjung Tinggi sebagai ikon wisata nasional. Tingkat partisipasi masyarakat bervariasi dari pasif hingga citizen control, dipengaruhi oleh kapasitas sosial, kelembagaan, dan struktur kepemilikan lahan. Kolaborasi yang berbasis kepercayaan, transparansi, dan kesetaraan menjadi kunci keberhasilan implementasi CBT di kawasan pesisir.Penelitian ini menawarkan model collaborative community-based governance sebagai kerangka penguatan pariwisata pesisir berkelanjutan. Strategi utama meliputi:(1) peningkatan kapasitas SDM lokal; (2) penguatan kelembagaan komunitas; (3) pengembangan kolaborasi lintas-desa dan lintas-sektor; serta (4) penguatan narasi dan branding destinasi berbasis identitas lokal. Secara teoretis, penelitian ini memperluas konsep CBT dengan menegaskan pentingnya tata kelola kolaboratif sebagai determinan keberlanjutan destinasi. Secara praktis, hasil penelitian memberikan rekomendasi bagi pemerintah daerah, komunitas, dan sektor swasta dalam membangun pariwisata pesisir yang inklusif, adaptif, dan berdaya saing.