Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

The Expansion of Oil Palm Plantations and Ecological Degradation in Borneo: A Thematic (Maudhu‘i) Exegetical Analysis of Qur’anic Verses on the Environment Jumrotunisak; Khairil Anwar; Taufik Warman Mahfuzh; Hasna Afaf Zahidah
AJIS: Academic Journal of Islamic Studies Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29240/ajis.v10i2.16052

Abstract

The expansion of oil palm plantations in the Borneo region over the past few decades has generated intense debate concerning its ecological impacts, including deforestation, biodiversity loss, forest fires, and land-use change. This article aims to analyze this phenomenon through a thematic (maudhu‘i) exegetical approach to Qur’anic verses related to the environment, particularly the concepts of fasād fī al-arḍ (corruption on earth), the mandate of human vicegerency (amānah al-khilāfah), and the principle of balance (mīzān). This study employs a qualitative library-based research design using thematic exegesis by collecting relevant verses, examining their asbāb al-nuzūl (occasions of revelation) and munāsabah (textual coherence), and analyzing them through the lens of Islamic ecotheology and contemporary literature on ecological crisis. The findings indicate that the Qur’an normatively prohibits all forms of exploitation that result in systemic damage to ecosystems. The concept of fasād encompasses not only moral corruption but also ecological destruction caused by human excess and transgression (isrāf and ṭughyān). In the context of Borneo, oil palm expansion becomes problematic when its practices disregard principles of sustainability, ecological justice, and the ethical responsibility inherent in human vicegerency. Nevertheless, the Qur’an does not categorically reject economic activity; rather, it emphasizes maintaining a balance between resource utilization and environmental preservation. This study contributes to the advancement of Islamic ecotheological discourse by positioning thematic exegesis as a normative framework for assessing natural resource–based development practices. The findings underscore the urgency of integrating Qur’anic ethics into oil palm plantation management policies to ensure alignment with sustainability principles and ecological responsibility.
Konsep Hayatuddunya dalam al-Qur’an: Analisis Tafsir Ruh al-Maani dan Perspektif Saintifik Ahmad Rizqi; Taufik Warman Mahfuzh
Journal of Ulumul Qur'an and Tafsir Studies Vol. 5 No. 1 (2026): JUQUTS: Journal of Ulumul Quran and Tafsir Studies
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/3wbqjv06

Abstract

Kehidupan merupakan salah satu tema utama dalam Al-Qur’an yang mencerminkan keteraturan dan kebijaksanaan Ilahi dalam mencipta alam semesta. Sejumlah penelitian terdahulu telah menelaah konsep al-ḥayāh (kehidupan) dari sisi teologis dan linguistik, namun kajian yang secara mendalam mengintegrasikan tafsir klasik dengan temuan sains modern masih jarang dilakukan. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya pembacaan interdisipliner yang mampu menjembatani makna wahyu dengan pemahaman ilmiah tentang sistem kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep kehidupan dalam Al-Qur’an melalui analisis Tafsir Ruh al-Maani karya al-Alusi dan mengaitkannya dengan teori-teori modern dalam biologi molekuler dan fisika planet. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis tafsir tematik (mawḍū’ī) serta pendekatan tafsir saintifik. Data primer bersumber dari Ruh al-Maani, sedangkan data sekunder berasal dari literatur ilmiah kontemporer yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Alusi memahami kehidupan sebagai sistem keteraturan yang diatur oleh sunatullah, dengan air, keseimbangan bumi, dan energi cahaya sebagai prasyarat keberlangsungan hidup. Penafsiran tersebut selaras dengan teori modern mengenai asal-usul dan keberlangsungan kehidupan yang menekankan peran air, stabilitas planet, dan energi matahari. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Ruh al-Maani menawarkan model integratif antara wahyu dan ilmu pengetahuan, yang tidak hanya memperkaya studi tafsir saintifik, tetapi juga memperluas horizon epistemologi Islam dalam memahami kehidupan sebagai manifestasi keesaan dan kebijaksanaan Allah.
Tafsir Maqāṣidī in Responding to the Issue of Marriage with People of the Book: Conceptual, Analytical Study, and Contemporary Relevance Ahmad Hidir Amin; Khairil Anwar; Taufik Warman Mahfuzh
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 20, No. 4 : Al Qalam (July 2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/aq.v20i4.6628

Abstract

This study examines verses on marriage with Ahlul Buku through a maqāṣidī interpretation approach in an effort to present a more comprehensive, adaptive, and relevant understanding of contemporary social dynamics. This study is important because the issue of interfaith marriage continues to be debated in Islamic legal discourse and modern family regulations, while many classical readings tend to focus on the literal meaning of the text without considering the objectives of Sharia and the current social context. This study aims to explain the basic concepts of maqāṣidī interpretation, analyze related verses, and assess their relevance and implications in pluralistic family life. The research method is qualitative with a literature review approach, using maqāṣidī steps including verse identification, linguistic and historical context analysis, maqāṣid determination, maslahat-mafsadah evaluation, and formulation of legal recommendations. The results show that the permissibility of marrying Ahlul Buku is conditional and must consider the social impact, protection of faith, and family sustainability. The maqāṣidī approach offers a more proportional answer by placing justice, benefit, and family protection as the main principles. This study recommends strengthening the maqāṣid methodology in tafsir studies, drafting regulations that protect the rights of interfaith family members, and the need for comprehensive premarital education.
Telaah Kritis Perbandingan Metode Penafsiran Al-Qur’an antara Hermeneutika Double Movement Fazlur Rahman (Pakistan) dan Tafsir Al-Mishbah M. Quraish Shihab (Indonesia) Agus Salim; Khairil Anwar; Taufik Warman Mahfuzh
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1535

Abstract

Artikel ini mengkaji secara kritis dan komparatif metode penafsiran Al-Qur’an yang dikembangkan oleh dua tokoh tafsir kontemporer berpengaruh, yakni Fazlur Rahman dengan hermeneutika double movement dan M. Quraish Shihab melalui Tafsir al-Mishbah. Fazlur Rahman menawarkan kerangka metodologis yang menekankan rekonstruksi konteks historis pewahyuan untuk mengekstraksi prinsip moral universal, kemudian menerapkannya kembali dalam konteks modern. Sementara itu, Quraish Shihab mengembangkan pendekatan tafsir tahlili dan maudhu‘i yang integratif, berakar pada tradisi tafsir klasik, namun diperkaya dengan analisis kebahasaan, konteks sosial-keindonesiaan, dan visi moderasi Islam. Dengan pendekatan kualitatif-deskriptif berbasis studi kepustakaan, artikel ini membandingkan fondasi epistemologis, langkah metodologis, orientasi etis, serta implikasi sosial dari kedua pendekatan. Hasil kajian menunjukkan bahwa metode Fazlur Rahman unggul dalam merespons problem modernitas secara normatif-etis dan universal, sedangkan metode Quraish Shihab lebih aplikatif dan komunikatif dalam konteks masyarakat Muslim Indonesia. Keduanya memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan tafsir kontemporer yang relevan, kontekstual, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Studi Kasus Penafsiran Ayat Sosial: Analisis Qs An-Nisa’ 34, Al-Hujurat 13, dan Qs Al-Maidah 48 Haisusyi; Khairil Anwar; Taufik Warman Mahfuzh
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1541

Abstract

Penelitian ini menganalisis penafsiran ayat-ayat sosial dalam al-Qur’an dengan fokus pada QS An-Nisa’ 34, QS Al-Hujurat 13, dan QS Al-Maidah 48. Ketiga ayat tersebut sering menjadi dasar diskursus tentang relasi gender, kesetaraan manusia, dan pluralitas sosial dalam masyarakat Islam. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui analisis tafsir, dengan menelaah teori dan metodologi penafsiran Ibnu ‘Asyur serta membandingkannya dengan konteks sosial-keagamaan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran terhadap ayat-ayat sosial tidak bersifat tunggal, melainkan dipengaruhi oleh faktor historis, budaya, epistemologis, dan metodologis dari mufasir. QS An-Nisa’ 34 menekankan tanggung jawab sosial laki-laki berdasarkan struktur sosial dan ekonomi pada masa turunnya ayat; QS Al-Hujurat 13 menguatkan prinsip kesetaraan dan kemuliaan berdasarkan takwa; sedangkan QS Al-Maidah 48 menekankan pluralitas hukum dan keberagaman manusia sebagai sunnatullah. Perbedaan penafsiran antarmufasir menyebabkan munculnya dinamika sosial-keagamaan yang beragam dalam masyarakat Islam. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan kontekstual dan maqashidi dalam memahami ayat-ayat sosial sehingga mampu menjawab kebutuhan masyarakat modern tanpa meninggalkan prinsip dasar ajaran Islam.
Metode Penafsiran Ma’na Cum Maghza Qur’an Surah Almaidah Ayat 51 Ardiansyah; Khairil Anwar; Taufik Warman Mahfuzh
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1543

Abstract

Surah Al-Māidah ayat 51 merupakan ayat Al-Qur’an yang sering menimbulkan perdebatan, khususnya terkait relasi sosial-politik dan kepemimpinan dalam masyarakat plural. Penafsiran ayat ini kerap dilakukan secara literal sehingga mengabaikan konteks historis dan realitas sosial saat ayat tersebut diturunkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Surah Al-Māidah ayat 51 menggunakan metode penafsiran ma‘nā cum maghzā guna menemukan makna tekstual ayat sekaligus pesan moral yang relevan dengan konteks kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan melalui kajian terhadap tafsir klasik, tafsir kontemporer, dan literatur akademik yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara ma‘nā, larangan dalam ayat tersebut berkaitan dengan kondisi politik Madinah yang sarat konflik, di mana istilah awliyā’ bermakna sekutu atau pelindung politik. Secara maghzā, ayat ini menegaskan pentingnya loyalitas, keadilan, dan kemaslahatan umat. Dalam konteks Indonesia yang plural dan demokratis, ayat ini tidak melarang secara mutlak kepemimpinan non-Muslim selama kepemimpinan tersebut adil dan tidak merugikan kepentingan umat.