Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Particulate matter 2.5 air pollution and low birth weight incidence: a cross-sectional analysis in Jakarta Region Adzka Fahma Rodliya; Aqila Nurhasanah Harahap; Resa Paksi Mandariska
Paediatrica Indonesiana Vol. 66 No. 1 (2026): January 2026
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background Jakarta is one of the most polluted cities in Southeast Asia, with particulate matter 2.5 (PM2.5) levels frequently exceeding international standards. Exposure to PM2.5 during pregnancy has been linked to adverse fetal outcomes, including intrauterine growth restriction and low birth weight (LBW). Objective To analyze an association between PM2.5 concentration and the incidence of LBW in Jakarta Province, Indonesia. Methods A retrospective cross-sectional study was conducted using secondary data from community health centers (Puskesmas) located within a 5-km radius of Air Quality Monitoring Stations (AQMS) in five regions of Jakarta: Bundaran Hotel Indonesia (HI), Kelapa Gading, Jagakarsa, Lubang Buaya, and Kebon Jeruk. Results A total of 648 LBW cases and 11,498 normal birth weight (NBW) cases recorded in 2020–2021 were included through total sampling. PM2.5 concentration data were obtained from the Jakarta Environmental Agency. Data were analyzed using univariate, bivariate (Pearson’s correlation), and simple linear regression tests. A significant positive correlation was found between PM2.5 concentration and LBW incidence (r=0.885; P=0.049) in 2020, whereas the 2021 data showed no significant correlation (r=0.871; P=0.055). Regression analysis revealed that every one-µg/m³ increase in PM2.5 concentration was associated with a 0.091% rise in LBW cases. Areas with higher pollution levels, particularly Lubang Buaya and Kebon Jeruk, showed the highest prevalence of LBW. Conclusion There was a significant positive correlation between PM2.5 air pollution and the incidence of LBW in Jakarta, particularly in areas with high levels of pollution, based on 2020 data. These findings underscore the importance of implementing public health interventions and enhancing air quality management to safeguard maternal and neonatal health.
Prevalence of Diabetes Mellitus Comorbidity in Hypertension Patients: Indonesian National Health Insurance Data Resa Paksi Mandariska; Adzka Fahma Rodliya; Siti Hanisa Khaira
OVUM : Journal of Midwifery and Health Sciences Vol. 6 No. 1 (2026): OVUM : Journal of Midwifery and Health Sciences
Publisher : Universitas Duta Bangsa Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47701/amkz2w85

Abstract

Managing hypertension becomes significantly more complex when diabetes mellitus co-occurs, often leading to poorer clinical outcomes and higher healthcare costs. This research investigated the prevalence of diabetes comorbidity among hypertensive patients at advanced referral health facilities and its relationship with patient age. Using a cross-sectional approach, we analyzed 5,505 records from the 2025 Indonesian National Health Insurance (BPJS Kesehatan) sample data for patients presenting with a primary diagnosis of hypertension. The overall prevalence of comorbid diabetes was 9.3% (510 cases). Within this cohort, 57.6% (3,172) were non-elderly (<60 years) and 42.4% (2,333) were elderly (?60 years). Diabetes prevalence was 9.6% in the elderly group and 9.0% in the younger demographic. The Pearson Chi-Square analysis confirmed no significant association between age category and diabetes (p = 0.459). These findings suggest that the risk of comorbid diabetes among referred hypertensive patients remains consistent regardless of age. Therefore, we recommend universal endocrine screening for all hypertensive referrals to prevent delayed diagnosis and improve targeted interventions, rather than relying on age-based screening protocols.
Model Pelatihan CSE Berbasis Media Audiovisual untuk Meningkatkan Pemahaman Seksualitas Anak Usia Dini Adzka Fahma Rodliya; Hani Risnawati; Sekar Keriswanie; Maya Olivia; Resa Paksi Mandariska
Jurnal Masyarakat Madani Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Alesha Media Digital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59025/5cnqen84

Abstract

Pendidikan seksualitas anak usia dini merupakan upaya preventif penting untuk melindungi anak dari risiko kekerasan seksual serta membangun pemahaman yang sehat tentang tubuh dan batasan privasi sejak dini. Namun, implementasinya di lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) masih menghadapi berbagai kendala, antara lain keterbatasan media pembelajaran, rendahnya kepercayaan diri pendidik, serta anggapan bahwa pendidikan seksualitas merupakan topik yang sensitif. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas mitra—anak, guru PAUD, dan orang tua—dalam pendidikan seksualitas anak usia dini melalui pelatihan Comprehensive Sexuality Education (CSE) berbasis media audiovisual. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif yang melibatkan anak usia 3–6 tahun, guru PAUD, dan orang tua. Tahapan kegiatan meliputi senam bersama, demonstrasi mencuci tangan dan menggosok gigi, sesi inti pelatihan CSE menggunakan video animasi 3D berbasis cerita, diskusi dan cerita anak, evaluasi pemahaman melalui tanya jawab, serta kegiatan pendukung berupa pemeriksaan berat dan tinggi badan, pembagian susu dan roti, kegiatan meronce gelang bersama ibu, dan penyerahan kenang-kenangan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman anak mengenai tubuh, batasan privasi, dan keterampilan perlindungan diri. Selain itu, terjadi peningkatan kapasitas guru PAUD dalam menyampaikan materi pendidikan seksualitas yang sesuai tahap perkembangan anak serta peningkatan keterlibatan dan pemahaman orang tua dalam mendampingi pendidikan seksualitas anak di lingkungan keluarga. Pelatihan CSE berbasis media audiovisual terbukti efektif, aplikatif, dan berpotensi direplikasi sebagai model pengabdian kepada masyarakat di lembaga PAUD lainnya