Abdi Cendekia: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Vol 5 No 2 (2026): Juni

Berburu Hasangapon di Perantauan: Logika Konversi Modal dan Histeresis Habitus dalam Film Ngeri-Ngeri Sedap

Saibil Aprilia Putri (Universitas Negeri Medan)
Zai Alpris Wulandari Saragih (Universitas Negeri Medan)
Fadhilah Sabrina Zaylani (Universitas Negeri Medan)
Rini Syarifah Siregar (Universitas Negeri Medan)
Yusnika Sihite (Universitas Negeri Medan)
Ahmad Samhudi (Universitas Negeri Medan)
Tomi Arianto (Universitas Negeri Medan)
Heny Anggreini (Universitas Negeri Medan)



Article Info

Publish Date
08 Jun 2026

Abstract

Studi ini menggunakan teori Arena Produksi Kultural Pierre Bourdieu untuk mengeksplorasi logika sosial di balik konflik antar generasi yang diterjemahkan dalam film Bene Dion Rajagukguk Ngeri-Ngeri Sedap (2022). Studi ini menyelidiki bagaimana para agen dalam arena keluarga Batak menciptakan, mempertahankan, dan mengubah klaim kebenaran. Hal ini dilakukan dengan menggunakan epistemologi “berpikir relasional”, atau berpikir relasional. Metode deskriptif kualitatif yang digunakan menggunakan sosiologi sastra (sosiologi produksi budaya). Data primer bersumber pada unit tekstual, yakni dialog, tindakan serta narasi pada film Ngeri-Ngeri Sedap. Merujuk pada temuan riset bahwa: (1) Arena keluarga Batak berfungsi sebagai arena pertarungan modal simbolik yang dipimpin oleh dominasi patriarki dominan; (2) Terjadi fenomena habitus histeresis pada generasi tua (Pak Domu) yang berbenturan dengan habitus kosmopolitan generasi muda (Domu dan Sarma); (3) Tokoh Gabe mengubah strategi dengan menggunakan rumus praktik= (Habitus × Modal) + Arena untuk memperoleh legitimasi di arena dengan menggunakan modal budaya (gelar hukum). Studi ini menunjukkan bahwa konflik keluarga modern bukan hanya masalah komunikasi; itu adalah konflik struktural antar-kebiasaan yang memerlukan perundingan kembali ruang tradisi di tengah arus modernitas.

Copyrights © 2026