Salah satu obat tradisional yang sudah digunakan sejak zaman dahulu secara turun menurun di Indonesia adalah sambiloto. Permasalahan disfungsi seksual, terutama pada pria, dapat berdampak signifikan terhadap kualitas hidup dan kesehatan mental. Pemilihan sambiloto sebagai bahan baku karena tanaman sambiloto memiliki aktifitas sebagai afrodisiak melalui pengaturan kadar hormon atau efek langsung pada jaringan seksual. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengkaji aktivitas seksual hewan uji tikus jantan galur Wistar pada efek pemberian ekstrak etanol sambiloto. Selama tujuh hari, hewan uji akan diberikan ekstrak setiap hari, dan perilaku seksualnya akan diamati 30 menit setelah pemberian terakhir. Kelompok perlakuan pada penelitian ini dibagi menjadi 5 yaitu perlakuan kontrol negatif yang diberikan aquades, perlakuan kontrol positif yang menerima ekstrak pasak bumi dengan dosis sebanyak 7,5 mg/kgBB, serta kelompok perlakuan dengan ekstrak sambiloto, kelompok perlakuan dosis pertama (26,5 mg/kgBB), dosis kedua (50,5 mg/kgBB), dan dosis ketiga (100,5 mg/kgBB). Setiap kelompok terdiri dari tujuh tikus jantan. Dilakukan pengamatan setelah 30 menit pemberian ekstrak dengan memasukkan tikus jantan ke dalam chamber tikus betina dan diamati selama 30 menit. Parameter yang diamati meliputi Frekuensi pemasangan (Mounting Frequency), frekuensi intromisi (Intromission Frequency), latensi pemasangan (Mounting Latency), dan latensi intromisi (Intromission Latency). Hasil dari penelitian menunjukkan jika pemberian ekstrak etanol sambiloto pada dosis 26,5 mg/kgBB, 50,5 mg/kgBB, dan 100,5 mg/kgBB memengaruhi aktivitas seksual hewan uji yang dilihat dari parameter frekuensi pemasangan (Mounting Frequency), frekuensi intromisi (Intromission Frequency), latensi pemasangan (Mounting Latency), dan latensi intromisi (Intromission Latency).
Copyrights © 2026