Gedung Serba Guna (GSG) di sebagai Gedung komersil di Politeknik Penerbangan Palembang merupakan aset vital yang menopang kegiatan institusional dan komersial berfrekuensi tinggi, sehingga keandalan sistem pendingin udara (Air Conditioning - AC) menjadi krusial. Saat ini, pendekatan pemeliharaan yang diterapkan bersifat dominan reaktif, yang menimbulkan risiko operasional signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pemeliharaan yang ada dan menerapkan kerangka kerja Risk-Based Maintenance (RBM) untuk mengidentifikasi mode kegagalan kritis dan meningkatkan keandalan sistem AC secara keseluruhan. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus kualitatif deskriptif, dengan pengumpulan data melalui observasi langsung, analisis dokumentasi, dan wawancara semi-terstruktur dengan personel kunci. Metode analisis inti yang digunakan adalah Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) untuk mengukur dan memprioritaskan risiko dengan menghitung Risk Priority Number (RPN) untuk setiap potensi kegagalan. Hasil analisis menunjukkan bahwa praktik pemeliharaan saat ini tidak terjadwal dan dipicu oleh keluhan, yang mengakibatkan kegagalan yang sebenarnya dapat dicegah. FMEA berhasil mengidentifikasi beberapa mode kegagalan berisiko tinggi, dengan panas berlebih pada kompresor akibat unit outdoor yang tersumbat menunjukkan RPN tertinggi. Ditemukan pula adanya diskoneksi persepsi risiko antara manajemen fasilitas yang berhadapan dengan pengguna dan tim teknis yang berfokus pada penggunaan peralatan. Studi ini menyimpulkan bahwa pergeseran dari strategi reaktif ke strategi pemeliharaan proaktif berbasis risiko adalah suatu keharusan. Implementasi program RBM, yang berfokus pada komponen dengan RPN tinggi dan penetapan pemantauan berbasis kondisi, direkomendasikan untuk meningkatkan keandalan sistem, mengoptimalkan alokasi sumber daya, dan menjamin kontinuitas operasional GSG. Kata Kunci: Failure Mode And Effects Analysis, Risk-Based Maintenance, Keandalan Sistem, Pendingin Udara
Copyrights © 2025