Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Solar Cell Installation Training as an environmentally friendly energy alternative for the community around the airport: Pelatihan Instalasi Solar Cell sebagai alternatif energi ramah lingkungan untuk masyarakat sekitar bandara udara Asep Muhamad Soleh; Setiyo Setiyo; Bambang Wijaya Putra; Sunardi Sunardi; Rr. Retno Sawitri; Muhammad Dimas Bara; Muhammad Lukman Hakim
Darmabakti: Jurnal Inovasi Pengabdian dalam Penerbangan Vol. 3 No. 1 (2022): Darmabakti: Jurnal Inovasi Pengabdian dalam Penerbangan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Politeknik Penerbangan Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52989/darmabakti.v3i1.65

Abstract

Solar Power Plant is an alternative energy source that continues to grow as a substitute for environmentally friendly electrical energy sources in the future. In order to disseminate information and how to install this equipment, it is necessary to conduct training for the community. Thus the public will be more concerned about this renewable energy. This method of community service is by providing training to the community. First, the participants were given theoretical training by first being given a module, then explained with lectures and discussions. Then practice is done by being given a set of solar panel equipment to all participants. They are guided to install the solar panel until it can function. Thus, community service activities were declared successful in increasing the knowledge and skills of the participants. It is hoped that with the increased knowledge and skills of participants, this renewable energy can be used more and more to make the earth cleaner from carbon emissions.   Pembangkit Listrik Tenaga Surya merupakan sumber energi alternatif yang terus berkembang sebagai pengganti sumber energi listrik yang ramah lingkungan di masa yang akan datang. Tujuan dari kegitan ini adalah untuk menyebarluaskan informasi dan cara pemasangan peralatan solar cell, kepada masyarakat. Dengan demikian masyarakat akan semakin peduli terhadap energi terbarukan ini. Metode pengabdian kepada masyarakat ini dengan cara memberikan pelatihan kepada masyarakat secara teori dan praktik. Pertama para peserta diberikan pelatihan secara teori dengan terlebih dahulu diberikan modul, kemudian di jelaskan dengan ceramah dan diskusi. Kemudian dilakukan praktik dengan diberikan peralatan satu set solar panel kepada seluruh peserta. Mereka dibimbing untuk menginstalasi solar panel tersebut sampai dengan dapat berfungsi. Hasil dari pelatihan ini, semua peserta dinyatakan lulus. Dengan demikian, kegiatan pengabdian kepada masyarakat dinyatakan berhasil mengingkatkan pengetahuan dan keterampilan para peserta. Diharapkan dengan meningkatnya pengetahuan dan ketarampilan peserta, energi terbarukan ini dapat semakin banyak digunakan menjadikan bumi ini semakin bersih dari emisi karbon
Peran Pemeliharaan Preventif dalam Menjaga Kinerja dan Umur Genset: Studi Kasus di Politeknik Penerbangan Palembang Jajang Wijaya; Muhammad Iqbal Sukur Pelu; Sunardi Sunardi; Direstu Amalia; Yayuk Suprihartini
SKY EAST: Education of Aviation Science and Technology Vol. 3 No. 2 (2025): SKY EAST: Education of Aviation Science and Technology (July-December 2025)
Publisher : Politeknik Penerbangan Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61510/skyeast.v3i2.62

Abstract

Penelitian ini menganalisis peran pemeliharaan preventif dalam menjaga kinerja dan memperpanjang umur operasional genset (generator set) di Politeknik Penerbangan Palembang. Genset merupakan aset krusial untuk menunjang operasional dan keberlangsungan kegiatan, terutama saat terjadi pemadaman listrik. Kinerja genset yang optimal dan umur pakai yang panjang sangat bergantung pada implementasi program pemeliharaan yang efektif. Penelitian studi kasus ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan mengumpulkan data dari logbook pemeliharaan genset, catatan kerusakan, wawancara dengan teknisi terkait, serta observasi langsung. Data yang dianalisis meliputi frekuensi pemeliharaan, jenis tindakan preventif yang dilakukan, catatan downtime (waktu henti) genset, dan jenis komponen yang sering mengalami kerusakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pemeliharaan preventif secara terencana dan teratur berkorelasi positif terhadap stabilitas kinerja genset, ditandai dengan penurunan frekuensi kerusakan yang tidak terduga dan peningkatan efisiensi operasional. Selain itu, pemeliharaan preventif juga berkontribusi signifikan pada perpanjangan umur pakai komponen vital genset, sehingga mengurangi biaya perbaikan korektif jangka panjang. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya komitmen institusi terhadap pemeliharaan preventif sebagai strategi utama untuk memastikan keandalan aset dan keberlanjutan operasional.
RISK-BASED MAINTENANCE DENGAN METODE FAILURE MODE AND EFFECTS ANALYSIS (FMEA) UNTUK PENINGKATAN KEANDALAN SISTEM PENDINGIN UDARA DI GEDUNG KOMERSIL M. Indra Martadinata; Ahmad Hariri; Direstu Amalia; Asep Muhamad Soleh; Sunardi Sunardi; Setiyo Setiyo; Viktor Suryan; Yayuk Suprihartini; Sukahir Sukahir
INTECOMS: Journal of Information Technology and Computer Science Vol. 8 No. 6 (2025): INTECOMS: Journal of Information Technology and Computer Science
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/prhnrq82

Abstract

Gedung Serba Guna (GSG) di sebagai Gedung komersil di Politeknik Penerbangan Palembang merupakan aset vital yang menopang kegiatan institusional dan komersial berfrekuensi tinggi, sehingga keandalan sistem pendingin udara (Air Conditioning - AC) menjadi krusial. Saat ini, pendekatan pemeliharaan yang diterapkan bersifat dominan reaktif, yang menimbulkan risiko operasional signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pemeliharaan yang ada dan menerapkan kerangka kerja Risk-Based Maintenance (RBM) untuk mengidentifikasi mode kegagalan kritis dan meningkatkan keandalan sistem AC secara keseluruhan. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus kualitatif deskriptif, dengan pengumpulan data melalui observasi langsung, analisis dokumentasi, dan wawancara semi-terstruktur dengan personel kunci. Metode analisis inti yang digunakan adalah Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) untuk mengukur dan memprioritaskan risiko dengan menghitung Risk Priority Number (RPN) untuk setiap potensi kegagalan. Hasil analisis menunjukkan bahwa praktik pemeliharaan saat ini tidak terjadwal dan dipicu oleh keluhan, yang mengakibatkan kegagalan yang sebenarnya dapat dicegah. FMEA berhasil mengidentifikasi beberapa mode kegagalan berisiko tinggi, dengan panas berlebih pada kompresor akibat unit outdoor yang tersumbat menunjukkan RPN tertinggi. Ditemukan pula adanya diskoneksi persepsi risiko antara manajemen fasilitas yang berhadapan dengan pengguna dan tim teknis yang berfokus pada penggunaan peralatan. Studi ini menyimpulkan bahwa pergeseran dari strategi reaktif ke strategi pemeliharaan proaktif berbasis risiko adalah suatu keharusan. Implementasi program RBM, yang berfokus pada komponen dengan RPN tinggi dan penetapan pemantauan berbasis kondisi, direkomendasikan untuk meningkatkan keandalan sistem, mengoptimalkan alokasi sumber daya, dan menjamin kontinuitas operasional GSG. Kata Kunci: Failure Mode And Effects Analysis, Risk-Based Maintenance, Keandalan Sistem, Pendingin Udara
Politeknik Penerbangan Palembang Model Safe Qurban: Integrasi Filantropi Kolektif dan Budaya Keselamatan Penerbangan dalam Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di Politeknik Penerbangan Palembang Anton Abdullah; Ahmad Hariri; Mohammad Syukri Pesilette; Sunardi Sunardi; Dwi Candra Yuniar; Wildan Nugraha; Sutiyo; Dwi Cahyono; Direstu Amalia; Zusnita Hermala; Vania Nadhifa Azzara; Fadhilla Nina Rizkyanti; Yudita Nirmala Kartikasari; Minulya Eska Nugraha; Astri Puspita Kesuma
Darmabakti: Jurnal Inovasi Pengabdian dalam Penerbangan Vol. 6 No. 2 (2026): Darmabakti: Jurnal Inovasi Pengabdian dalam Penerbangan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Politeknik Penerbangan Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52989/darmabakti.v6i2.277

Abstract

Qurban is not only a religious ritual with spiritual significance but also an instrument of Islamic philanthropy that strengthens social solidarity and community welfare. At the same time, qurban activities involve various operational hazards that require the implementation of a safety culture. This community service program aimed to implement the Safe Qurban model by integrating collective philanthropy and aviation safety culture into the organization of Qurban 1447 H at Baitul Ilmi Mosque, Palembang Aviation Polytechnic. The program was carried out through several stages, including fundraising through the Shodaqoh Qurban Program, hazard identification, safety planning, qurban implementation, benefit distribution, and program evaluation. The results demonstrated that collective philanthropy successfully broadened community participation in qurban activities through collaborative contributions while fostering social solidarity, empathy, and mutual assistance. The application of safety culture was reflected in hazard identification, risk control, safety communication, clear task allocation, and emergency preparedness throughout the implementation process. The integration of these two approaches generated broader social benefits while simultaneously enhancing safety awareness among all participants. The program resulted in the development of the Safe Qurban model as an innovative community service approach that combines the values of Islamic philanthropy with safety culture practices adapted from the aviation sector. This model has the potential to be replicated in other social and community-based activities involving multiple stakeholders and operational risks. Keywords: aviation safety; collective philanthropy; community service; qurban; safety culture.